MAKASSAR BKM — Warga Makassar yang terdampak covid-19 hingga saat ini belum menerima bantuan sosial (bansos) sebagai program jaring pengaman sosial. Sejatinya, bansos tersebut dibagikan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Banyak alasan yang menyebabkan bansos berupa paket sembako tersebut belum juga disalurkan. Salah satunya takut bersoal hingga menjadi kasus.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Rusmayani Madjid, lambannya bansos disalurkan lantaran pihaknya sangat berhati-hati dalam penyaluran. “Pola-pola pertanggungjawabannya harus betul-betul. Dibikin berita acaranya yang bagus, seperti itu. Biar saya bekerja bagus pasti nanti diperiksa juga. Akan dipanggil kalau ada orang yang tidak puas, itu pasti. Jadi saya harus backup semuanya,” ujarnya.
Apalagi, kata dia, banyak pejabat di sejumlah daerah yang terjerat dengan kasus bansos. Hal ini juga sebelumnya sempat terjadi di Kota Makassar di tahun 2020 lalu.
“Kan banyak kasus bansos toh kita tahu. Asal-asal saja. Pengadaannya oleh orang yang tidak tepat. Kasih turun lagi ke bawah, banyak tidak tepat sasaran. Hargalah, apalah. Kita sangat hati-hati dengan beginian,” tandasnya.
Untuk saat ini, lanjut Maya, Dinsos masih dalam tahap pengadaan barang kebutuhannya. Selain itu, pihaknya juga masih mendiskusikan teknis pendistribusiannya.
“Sekarang lagi pengadaannya. Tidak bolehki sembarangan. Haruski lihat harga, tidak boleh ada mark up, cash back betul-betul kerja ikhlas. Untuk pendistribusiannya harus dicocokkan data yang masuk dan orang yang menerima nanti,” lanjutnya.
Karena itu, menurutnya, tidak dijamin realisasinya bisa dilakukan dalam waktu dekat. Dia kembali menargetkan bisa dilakukan pada pekan ini.
“Pokoknya ini bulan Insyaallah selesai semuanya dibagi. Mudah-mudahan minggu depan (pekan ini) sudah selesai administrasinya,” ucap Maya.
Sekretaris Dinsos Kota Makassar Asvira Anwar, menyebut total sudah ada sebanyak 70.488 data penerima yang valid. Jumlah tersebut mengalami penambahan sebanyak 7.220 dari data sebelumnya, yaitu 63.268. “Sudah di-SK-kan Pak Wali waktu hari Jumat,” ujarnya.
Sekadar diketahui, total target bansos dikalkulasi sebanyak 100.000 paket. Sehingga masih ada sebanyak 29.512 warga yang belum tercover dalam tahap pertama penyaluran tersebut.
“Kita akan minta lagi petunjuk Pak Wali, sisanya ini kita berikan untuk siapa. Sudah di-SK-kan. Jadi sebelumnya 63 ribu, ini sekarang 70 ribu yang valid. Ada penambahan,” pungkasnya.
Bagi-bagi Masker
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto bersama Pemuda Pancasila (PP) membagikan masker kepada pengendara yang lewat di depan Pasar Antang, Kecamatan Manggala, Minggu (15/8). Kegiatan ini dipelopori oleh organisasi masyarakat (ormas) PP dan KNPI cabang Manggala.
“Keterlibatan ormas, dalam hal ini Pemuda Pancasila adalah bukti nyata bahwa ormas-ormas ini kalau diberi ruang, mereka mau menjadi bagian terdepan dari perjuangan masyarakat untuk melawan covid-10,” ucap Danny.
Karenanya, Danny atas nama Pemerintah Kota Makassar menyampaikan rasa terima kasih kepada PP secara keseluruhan baik di provinsi, kota, dan terkhusus di Manggala. “Saya melihat di Manggala ini sangat aktif. Teman-teman Pemuda Pancasila Manggala agar tetap mengingatkan warga Manggala untuk tetap menjalankan prokes,” jelasnya.
Kegiatan ini difokuskan di empat titik dalam wilayah Kecamatan Manggala. “Saya turun ke jalan, dan ternyata masih banyak warga yang berkendara tidak memakai masker. Ayo kita sama-sama patuh,” imbaunya.
Danny berharap kegiatan ini bisa berlanjut dan kepedulian terhadap sesama bisa ditingkatkan, agar Kota Makassar segera bebas dari virus corona. “Minimal kita keluar dari level empat dan turun ke level tiga dulu,” tandasnya.
Vaksinasi
Hingga saat ini sebanyak 1.102.330 atau sekitar 40,55 persen warga Makassar sudah disuntik vaksin. Dari angka tersebut, sebanyak 446.974 yang sudah mendapatkan dosis pertama. Sementara untuk dosis kedua sudah mencakup 226.235 warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Andi Hadijah Iriani, mengatakan khusus untuk tenaga kesehatan yang mendapat prioritas, tercatat sebanyak 13.278 atau 83,83 persen dari total target sebanyak 15.840 yang sudah vaksin. Sementara dosis kedua juga dianggap sangat memuaskan dengan capaian 11.253 atau sebanyak 71,84 persen.
“Tenaga kesehatan dan pelayan publik menjadi prioritas pertama, di mana cakupannya sudah sangat tinggi, bahkan sudah melampaui target vaksinasi,” ungkap wanita yang akrab disapa Iriani tersebut.
Tenaga kesehatan yang sudah divaksin tersebar di berbagai Puskesmas yang ada di Makassar dan juga yang bertugas di Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Sementara untuk pelayan publik tercatat sudah melampaui target, yakni 333.622 atau 273,12 persen dari target sebanyak 122.151. Demikian juga vaksinasi tahap dua, tercatat mencapai 171,572 atau sebanyak 140,6 persen dari target. Sisanya yaitu lansia, masyarakat umum dan remaja dilaporkan belum begitu optimal.
Iriani mengatakan, khusus vaksinasi tenaga kesehatan juga sudah masuk tahap tiga, yaitu vaksin Moderna. Meski demikian dirinya tidak mengetahui pasti jumlah yang telah rampung lantaran menjadi kewenangan provinsi.
Beberapa puskesmas dan rumah sakit, kata dia, sudah mengajukan untuk memvaksin tahap ketiga tenaga kesehatannya. Menurutnya, hal ini diberikan berdasarkan permintaan lantaran vaksin Moderna berbeda dengan vaksin biasa seperti Sinovac.
“Dia (Sinovac) suhu kamar pun bisa. Kalau Moderna kan harus minus. Kalau tidak salah minus 20. Jadi sudah dicairkan itu tidak boleh lagi dikasi masuk, maksudnya dikasi kembali. Kalau sempat tidak terpakai,” lanjut Iriani.
Sehingga distribusi dan penggunaan vaksin tersebut harus seefisien mungkin, agar vaksin tidak terbuang percuma. Terlebih dosis yang disediakan sangat terbatas.
Makassar memperoleh jatah vaksin Moderna sebanyak 10.296 dosis atau sebanyak 735 vial sehingga ada sekitar 5544 nakes yang belum tercover vaksin tahap tiga tersebut.
Sementara itu, ahli epidemiologi Unhas Ansariadi, mengharapkan agar vaksinasi Kota Makassar segera dirampungkan, lantaran cukup berpengaruh dengan tingkat kematian suatu daerah. “Untuk daerah yang cakupan vaksinasinya itu cukup tinggi, bisa dipastikan mortality rate atau kematian kerena covid-19 menurun, sehingga kita minta agar dipercepat vaksinasi,” ujarnya.
Utamanya bagi lansia yang dilaporkan memiliki tingkat kerawanan tertinggi. Selain itu, sebagian besar kasus disebabkan oleh klaster rumah tangga. “Karena tinggi kan kasus rumah tangga, jadi kalangan tua dan juga yang muda juga harus segera divaksin supaya tidak saling tular,” pungkasnya. (rhm)
