MAROS, BKM — Mendukung pemajuan budaya, Bupati Maros, HAS Chaidir Syam mendukung pemajuan budaya. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah dengan hadir membuka Workshop pelestarian musik tradisional kacaping di Anjungan Phinisi Mangngambang 575, Rabu (18/8).
Sebagai kearifan lokal manifestasi ketahanan budaya dan untuk mendukung pemajuan kebudayaan, komunitas seni Balla Buloa Heritage menggelar workshop pelestarian musik tradisional kacaping. Kacaping atau yang berarti kecapi merupakan sebuah alat musik tradisional masyarakat Bugis-Makassar.
Pembukaan workshop ini ditandai dengan pemukulan fong oleh Bupati Maros, HAS Chaidir Syam. Chaidir yang ikut membersamai kegiatan ini sangat menyadari turunnya kecintaan masyarakat terhadap musik-musik tradisional. Dirinya menyebutka, generasi milenial sekarang hanya senang dengan musik-musik luar.
”Di era 4.0 seperti sekarang musik-musik tradisional sudah dilupakan. Generasi muda kita sekarang malah menggandrungi musik yang kebarat-baratan,” ungkap Chaidir.
Menurutnya, generasi sekarang hanya ingin disebut modern tanpa tahu makna dari musik yang digandrungi. Anak-anak sekarang sebaiknya ikut melestarikan budaya lokal, bukan hanya menyenangi musik yang tidak memiliki sejarah dan budaya. Chaidir menyebutkan, kita memiliki banyak musik-musik yang indah didengar, mengandung kisah terdahulu, dan makna yang begitu dalam.
”Di sini kita punya musik dan alat tradisional yang menjadi warisan leluhur. Seperti halnya kacaping, ini adalah alat budaya tradisional kita,” tegas Chaidir.
Sementar itu, Kadisbudpar Maros, M Ferdiansyah, mengatakan, kegiatan kebudayan harus tetap dikembangkan.
”Jangan sampai dalam suasana Covid -19 seperti saat ini kita tidak berpikir kreatif, kita harus tetap berinovasi,” ucap pehobi olahraga lari itu.
Ferdy juga mendukung apa yang diungkapkan bupati Maros, dia menilai musik tradisional harus tetap dilestarikan di Maros.
”Makanya kegiatan pelatihan seperti ini harus tetap dikembangkan,” pungkas Ferdy.
Bersamaan dengan kegiatan ini, Agung Ahmad selaku ketua komunitas seni menjelaskan, kegiatan yang membahas tentang kecapi ini digelar karena banyaknya generasi sekarang yang sudah lupa akan alat musik kecapi. Dirinya melanjutkan, notabenenya kecapi adalah salah satu alat musik yang sangat bagus, bisa dilihat dari notnya yang bisa sebanding dengan alat-alat musik dari luar.
”Ini hanya awal kegiatan, hanya membahas latar belakang kecapi, perkembangannya, dan cara membuat alat musik tradisional kecapi,” ungkap Agung.
Kegiatan melestarikan budaya ini menurut Agung akan dilanjutkan di bulan Oktober. ”Insya Allah di bulan sepuluh nanti akan dibahas bagaimana pengaplikasian kecapi, bagaimana cara memainkan dan bagaimana tentang harmonisasinya,” jelas Agung.
Banyak peserta yang bergabung dalam kegiatan ini sebanyak 20 orang. Peserta yang hadir dalam workshop adalah masyarakat dari komunitas adat, sanggar seni budaya, karang taruna dan komunitas pemuda yang berasal dari Desa Marannu dan Desa Bontobahari.(ari/c)

