SEBAGIAN orang biasanya memilih untuk bertahan di zona nyaman ketika telah menjadi karyawan. Namun tidak demikian dengan Abdul Rahman Tahir. Ia keluar dari zona itu, lalu merintis usaha sendiri.
ALIBABAB Burger adalah sebuah usaha makanan cepat saji yang beralamat di Jalan Toddopuli V Setapak 8 Nomor 25, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Inilah usaha yang dimiliki Abdul Rahman. Ia mengisahkan perjalanan usahanya dalam program Inspirasi Bisnis untuk podcast kanal Berita Kota Makassar, Rabu (19/8).
Awalnya, Abdul Rahman Tahir adalah seorang karyawan finance otomatif. Menurutnya, ia sudah terlalu lama berada dalam zona nyaman, menjadi seorang karyawan yang setiap hari bekerja dari pagi sampai sore dan menerima gaji setiap bulan.
Lalu apa yang menjadi motivasi awalnya sehingga ia beralih menjadi seorang pengusaha? “Mungkin karena saya banyak membaca buku-buku motivasi yang banyak mengarahkan bagaimana kita bisa lebih mandiri. Apalagi kalau ada motivasi-motivasi yang mengarah ke usaha. Bagaimana kita membangun sebuah usaha tanpa harus bekerja sebagai karyawan yang punya atasan,” tuturnya. Dari situlah itu kemudian mencoba memberanikan diri untuk bisa keluar dari lingkungan kerja yang terikat dengan waktu, dan ada pertanggungjawaban ke atasan. ”Makanya saya berpikir, kalau misalnya saya bisa berkontribusi positif di tempat saya bekerja, kendapa tidak saya kembangkan dengan kontribusi positif juga ke usaha sendiri,” jelasnya.
Hal itulah yang menjadi landasan ia memberanikan diri untuk membuka usahanya sendiri. Namun, perjalannya tidak berlangsung mulus. Ia mesti melewati berbagai rintangan yang mengadang.
Untuk mencapai titiknya yang sekarang, Rahman mengaku pernah membuka jenis usaha lain, seperti warkop dan showroom. Namun, ia belum menemukan kenyamanan dengan kedua usaha itu.
“Usaha Alibaba Burger ini tidak serta merta langsung berada di kondisi yang nyaman seperti sekarang. Beberapa kegagalan telah saya lalui. Awalnya setelah resign, saya membuka showroom mobil bekas dengan menyewa ruko yang kisarannya puluhan juta. Bersamaan dengan itu, saya juga membuka warkop dengan menyewa ruko juga. Setelah berjalan beberapa tahun, ternyata masih belum ditemukan nyamannya. Setelah itu, ganti usaha lagi dengan Alibaba Burger,” terangnya.
Tekadnya untuk beralih ke bisnis yang membuat ia nyaman menjalaninya, dalam hal ini bisnis kuliner, nampaknya sangat besar. Bagaimana tidak, sebelumnya ia merupakan seorang pengusaha dalam bidang finance otomotif yang sangat prospektif dengan penghasilan yang besar. Namun, ia rela meninggalkan itu semua hanya karena ingin keluar dari zonanya.
“Dulu, pada saat saya masih jadi karyawan, saya kan di bidang finance ototmotif. Begitu buka showroom mobil masih juga mengurusi hal-hal seperti itu. Kejenuhan saya bekerja selama belasan tahun itu belum hilang. Jadi betul-betul saya putuskan, kalau saya tutup showroom mobil ini saya benar-benar tinggalkan dunia seperti itu,” tandasnya.Rupanya, ia memang betul-betul ingin meninggalkan dunia otomotif.
Lantas, mengapa beralih ke bisnis kuliner dan memilih burger? Menjawab itu, ia menjelaskan bahwa pengalaman dari yang dilihatnya atau teman-teman yang melakukan bisnis kuliner. ”Mengapa selalu mengalami kegagalan, karena di bisnis kuliner itu kita harus mampu bertahan dan konsisten menjalankan usaha tersebut. Karena tidak serta merta kita dapatkan pasar yang banyak,” jelasnya.
”Untuk bisnis lain, misalnya nasi kuning, warteg, dan semacamnya yang hari itu harus habis, saya yakin teman-teman pasti akan kalah dengan secara motivasi gitu, karena tidak ada pembeli yang membludak seperti di awal-awal. Sehingga banyak makanan yang tersisa. Tidak ada untung. Kecuali kalau bisnis turunan dari orang tua, itu masih bisa terjadi,” lanjutnya.
”Tapi, kalau orang-orang seperti saya yang baru membuka sebuah bisnis kuliner tanpa mempunyai strategi atau pilihan bisnis yang tepat, itu akan sangat sulit. Kenapa burger? Karena burger ini adalah makanan yang tidak ada basinya. Hari ini misalnya kita setok 100 burger, mau laku satu atau dua, tidak ada ruginya karena bisa bertahan beberapa hari. Dia bisa dibekukan. Jadi bagi pebisnis yang pemula, itu sangat menguntungkan,” tambahnya.
Alibaba Burger sendiri berdiri sejak awal tahun 2019. Waktu itu pandemi belum melanda. Rahman awalnya memasarkan burgernya kepada teman-teman dan kerabat-kerabatnya melalui sosial media WhatsApp dan Facebook. Menurutnya, dengan konsisten memasarkan produk lewat sosial media atau platform apapun yang dapat digunakan, lambat laun bisnis tersebut dapat berkembang sendiri.
Burger hasil produksi Rahman dijual dengan kisaran Rp10.000 sampai Rp20.000 dengan kualitas yang dapat bersaing dengan waralaba yang lain. Berbeda dengan kondisi-kondisi kebanyakan pengusaha, omzet penjualan Burger Alibaba selama masa pandemi ini ternyata mengalami kenaikan.
“Di masa pandemi ini, Alhamdulillah omzet kami naik. Bisa naik sampai 100 persen,” terangnya.
Rupanya, Alibaba Burger tidak hanya membuat burger yang sudah jadi, namun juga memproduksi bahan-bahan utama yang digunakan dalam pembuatan burger, seperti roti dan dagingnya.
Untuk bahan bakunya, Alibaba Burger menjualnya dengan sistem no brand.
“Jadi kami memang menjual tanpa label kalau bahan bakunya. Jadi mereka bisa membranding sendiri,” ujarnya.
Dengan omzet penjualan 600 cup burger jadi dengan capaian 20 juga per bulan, usaha seperti ini dapat menjadi pilihan untuk memulai usaha kuliner. Selain penikmatnya yang berasal dari berbagai kalangan, usaha ini juga dapat dipasarkan secara daring melalui media sosial ataupun aplikasi-aplikasi pendukung lainnya. Selain itu, juga dapat dibekukan sehingga bisa menghindari kerugian dalam hal makanan basi dan terbuang. (pkl)
