MAKASSAR, BKM — Hari ini, 25 Agustus 2021, PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI, genap berusia 37 tahun.
Pada awal berdirinya, perusahaan bernama PT (Persero) Kliring dan Jaminan Bursa Komoditi (KJBK) yang didirikan pada tanggal 25 Agustus 1984. Saat itu, KJBK hanya melakukan layanan usaha berupa registrasi atas pasar fisik komoditas karet, kopi dan kuota tekstil.
Pada tanggal 18 Juni 2001, nama perusahaan KJBK berubah menjadi PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau lebih dikenal dengan sebutan PT KBI (Persero). Perubahan ini sesuai dengan persetujuan dari Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia No.C-02157ht.01.04.2001.
Adapun izin usaha sementara penyelenggaraan Lembaga Kliring Berjangka, sesuai surat No.01/VII/2000 tanggal 14 Juli 2000. Dan untuk operasional perusahaan sebagai Lembaga Kliring Berjangka pada tanggal 15 Desember 2000, dengan kontrak berjangka yang dikliringkan dan dijamin penyelesaiannnya adalah CPO, Kopi dan Olein.
Dalam beberapa tahun terakhir, PT KBI terus berakselerasi. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini pada saat sekarang telah berperan pada layanan bisnis sebagai Lembaga Kliring Penjaminan dan Penyelesaian Transaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi dan Pasar Fisik Komoditas Timah Batangan, serta sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang.
Terkait di Perdagangan Berjangka Komoditi, KBI saat ini memiliki SITNA. Yaitu sebuah sistem yang memberikan kemudahan bagi pelaku atau investor di perdagangan berjangka komoditi untuk melakukan dan memantau transaksi. KBI saat ini memiliki ISWARE Next Gen yang memberikan kemudahan bagi petani dan pemilik komoditas untuk melakukan registrasi.
Tumbuh Positif di Masa Pandemi
Di tengah tekanan pandemi yang cukup berat, KBI termasuk salah satu korporasi yang tetap bertahan bahkan tumbuh. PT KBI tetap mencatatkan kinerja positif selama semester pertama tahun 2021.
Sepanjang semester pertama tahun 2021, KBI berhasil membukukan pendapatan operasional sebesar Rp77,4 miliar atau naik 6,27 persen dibandingkan di periode yang sama di tahun 2020, yaitu Rp72,8 miliar. Sedangkan dari sisi laba, sampai dengan semester pertama tahun 2021, KBI telah membukukan laba Rp43,9 miliar, naik 40,6 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu sebesar Rp31,2 miliar.
Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi, mengatakan, tekanan pandemi yang telah berjalan sejak tahun lalu, mau tidak mau harus disikapi dengan baik. Pertumbuhan yang dibukukan di semester pertama ini merupakan hasil dari berbagai langkah strategis. Baik dalam menjaga kinerja usaha seperti transformasi serta digitalisasi bisnis. Selain itu, tekanan pendemi ini juga disikapi dengan berbagai langkah efisiensi.
”Terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang saat ini tengah diberlakukan, KBI juga menjalankan dengan melakukan WFH bagi karyawan. Namun dengan otomasi yang telah dilakukan, kegiatan operasional KBI tetap bisa berjalan untuk para pemangku kepentingan. Kegiatan kliring tetap berjalan seperti biasa. Termasuk dalam proses registrasi resi gudang,” jelas Fajar.
Fajar Wibhiyadi menambahkan, pihaknya optimis trend positif di semester pertama 2021 ini akan berlanjut di semester kedua 2021. Pihaknya menargetkan laba tahun 2021 ini tumbuh 20 persen, dari laba tahun 2020 sebesar Rp66,4 miliar menjadi Rp79,7 miliar.
”Berbagai inisiasi bisnis tengah kami jalankan. Salah satunya adalah peran KBI sebagai Lembaga Kliring Perdagangan Timah Dalam Negeri yang sudah mulai berjalan beberapa waktu lalu. Selanjutnya, di tahun 2021 ini, berbagai inisiasi bisnis baru juga tengah dalam persiapan, seperti peran KBI sebagai Lembaga Kliring Pasar Fisik Emas Digital, Lembaga Kliring Berjangka di Perdagangan Aset Kripto, serta Perdagangan Karbon,” jelas Fajar Wibhiyadi.
Lakukan Transformasi
Memasuki usia 37 tahun saat ini, tambah Fajar Wibhiyadi, pihaknya telah mempersiapkan sejumlah langkah antisipatif. Di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Abiguity) saat ini, ditambah dengan disrupsi teknologi, serta pandemic Covid, mengharuskan korporasi melakukan transformasi. KBI pun sudah mempersiapkan diri terkait transformasi ini, baik dari sisi bisnis, teknologi, maupun sumber daya manusianya.
”Dari sisi bisnis selain lini bisnis yang ada saat ini, KBI juga tengah mempersiapkan beberapa inisiasi bisnis baru, seperti Lembaga Kliring Pasar Fisik Emas Digital, Lembaga Kliring Aset Kripto, serta Lembaga Kliring Perdagangan Karbon,” ujar Fajar Wibhiyadi bersemangat.
Sementara itu, dari sisi transformasi teknologi, KBI juga mengaplikasikan teknologi terbaru dalam layanannya. Terakhir adalah KBI memanfaatkan teknologi Blockchain untuk registrasi resi gudang.
Yang menarik adalah transformasi SDM. Dengan 80 persen karyawan dari generasi milenial, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi KBI. Untuk itu, KBI sudah menyiapkan roadmap jangka panjang terkait pengembangan SDM ini. Tujuannya adalah bagaimana menciptakan SDM yang unggul, agile, serta berakhlak. (amiruddin nur)
