Site icon Berita Kota Makassar

Dokter RS Meninggal Usai Disuntik Vaksin Booster

MAKASSAR, BKM — Jajaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan Daeng Radja, Bulukumba berduka. Seorang tenaga kesehatan perempuan, yakni dr Andi Yuswardani Makmur mengembuskan napas terakhirnya. Ia berpulang seusai mendapat suntikan vaksin dosis tiga.
Pada hari Jumat (20/8), perempuan kelahiran 1 Juni 1974 ini diberi suntukan vaksin. Namun, pada Minggu (22/8) ia meninggal dunia.

Sebelum kepergiannya, seperti biasa ia masih melakukan aktivitas mencuci baju dan berbincang dengan orangtua di kediamannya di Kapas, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Tak lama berselang, dr Yus oleng, terjatuh, dan kemudian meninggal.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Sulthan Daeng Radja Bulukumba dr Rizal Dappi, yang dikonfirmasi, Rabu (25/8) membenarkan kabar duka tersebut. ”Almarhumah menjalani vaksin ketiga pada hari Jumat, meninggal hari Minggu pagi,” terang dr Rizal.
Sebagai pimpinan, dr Rizal mengaku tidak pernah mendengar ada riwayat penyakit yang diderita oleh almarhumah sebelumnya. Namun, sebelum menjalani vaksinasi di hari Jumat, dr Yuswardani memang sempat tak masuk kantor karena kurang enak badan.
“Kami tidak pernah mendengar ada riwayat penyakit sebelumnya. Sebelum divaksin hari Jumat, hari Seninnya almarhumah izin tidak masuk karena kurang enak badan. Hari Kamisnya almarhum masuk bekerja seperti biasa,” jelasnya.
Jenazah dr Yuswardani telah dimakamkan di tempat pemakaman umum yang berada di Ponre, Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang.
Dihubungi secara terpisah di Makassar, kemarin, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Ichsan Mustari membenarkan meninggalnya seorang dokter RSUD Sulthan Daeng Radja, Bulukumba. Hanya saja, ia belum bisa memastikan hubungan kematian dokter itu dengan efek dari vaksin. “Sementara tim KIPI (Kejadian Ikutan Pascaimunisasi) melakukan investigasi,” kata Ichsan.

Ichsan yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulsel menjelaskan, proses penelusuran penyebab meninggalnya dokter melibatkan tim KIPI provinsi dan tingkat daerah. “Begitu prosedurnya kalau ada dugaan. Tim kabupaten dan provinsi melakukan investigasi melihat sejauh mana kejadian tersebut terjadi,” terangnya.
Ichsan mengatakan, tim KIPI memang dibentuk sejak awal vaksinasi untuk mencari tahu kejadian dan dampak yang diterima penerima vaksin. Untuk itu dia memilih menunggu hasil investigasi KIPI terkait meninggalnya dokter di Bulukumba. “Ya tentu juga kejadian yang seperti itu tetap menjadi analisis tim untuk melihatnya,” tegasnya.
Tim KIPI, lanjut dia, akan menelusuri soal apakah benar meninggalnya dr Andi Yuswardani usai mendapatkan vaksinasi ketiga, dan apakah penyebab meninggalnya bagian dari efek vaksinasi. “Melihat sejauh mana kejadian itu. Artinya, kita kan mesti cari dulu, investigasi. Sejak awal vaksinasi, telah dibentuk tim kejadian awal. Rekomendasi-rekomendasi akan diberikan, karena kita tahu sendiri vaksinasi covid kan pertama kali. Tentu juga kejadian yang seperti itu tetap menjadi analisis tim dan melihatnya,” terang dia.
Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah Indonesia telah menerima hibah vaksin covid-19 Moderna dari Covax Facility sebanyak 8 juta dosis. Vaksin ini sudah mulai diberikan kepada tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga penunjang kesehatan sebaga vaksin dosis ketiga atau booster.

Peningkatan kasus terkonfirmasi covid-19 yang tinggi mendorong pemerintah untuk secara khusus memberikan perlindungan tambahan kepada nakes yang sehari-hari dihadapkan dengan risiko tinggi penularan covid-19. Proses vaksinasi dosis tiga sudah mulai dilakukan, termasuk untuk nakes di Kabupaten Bulukumba. (min-jun/b)

Exit mobile version