AMAL jariyah. Inilah yang dikejar oleh banyak kaum muslimin. Tak terkecuali Muhammadiyah Disaster Manajemen Centre (MDMC) Gowa. Salah satu caranya adalah dengan memproduksi peti jenazah khusus bagi muslim yang meninggal akibat terpapar covid-19.
KOORDINATOR MDMC Gowa Hasanuddin Wiratama M Nur, mengatakan peti jenazah ini diproduksi sejak Mei 2020 lalu. Diperuntukkan untuk jenazah muslim. Karena khusus, maka bagian dalamnya tidak untuk jenazah yang menghadap ke atas, lazimnya dilakukan terhadap jenazah non muslim. Peti dibuat sedemikian rupa sehingga posisi jenazah covid-19 muslim tidak menghadap ke atas, tapi diletakkan sesuai syariah dan kaidah Islam.
Dijelaskan Hasanuddin Wiratama, peti jenazah yang diproduksi MDMC Gowa ini memang bentuknya segi panjang sesuai ukuran panjang jenazah. Namun bagian dalamnya berbeda dengan peti jenazah yang disiapkan oleh Satgas Covid-19.
“Kalau peti jenazah biasa, modelnya didesain jenazah menghadap ke atas, seperti jenazah non muslim. Jika jenazah muslim menggunakan peti itu, tentu sangat tidak sesuai lagi dengan syariah. Makanya kami bikin yang sesuai syariah,” jelas Hasanuddin, Rabu siang (25/8).
Menurut Hasanuddin, ide membuat peti jenazah covid-19 untuk muslim ini muncul ketika dia bersama relawan Muhmmadiyah Gowa menonton video rekaman tindakan penanganan jenazah yang dilakukan oleh tim pemulasaraan jenazah covid-19 di Negeri Jiran Malaysia.
” Kami melihat rekaman video pemulasaraan dari Malaysia. Setelah itu kami langsung berinisiatif membuat peti jenazah khusus muslim,” terangnya.
Dari situlah, lanjut Hasanuddin, relawan Muhammadiyah berharap jenazah korban covid-19, khususnya yang muslim bisa dimakamkan secara syariah, yakni jenazah menghadap ke kiblat bukan ke atas.
“Kami pun memulai pekerjaan ini dengan membuat peti jenazah berukuran panjang 190 sentimeter, lebar 40 sentimeter, dan tinggi 50 sentimeter. Peti yang kami buat itu sempit dan tinggi, jadi jenazah posisinya sudah miring dengan tangan kanan berada di bawah dan menghadap ke kiblat,” ungkap mantan ketua Kokam Sulsel ini.
Peti jenazah yang diproduksi relawan Muhammadiyah Gowa ini diperuntukan bagi jenazah covid-19 yang meninggal di rumah atau yang melakukan isolasi mandiri. Tak ada pembayaran sepeser pun alias gratis.
“Peti jenazah yang kami buat khusus untuk jenazah pasien covid-19 yang meninggal dunia di rumahnya atau yang sementara menjalani isolasi mandiri. Jadi kami tidak berikan kepada korban covid yang meninggal di rumah sakit, sebab mereka difasilitasi oleh Satgas Covid-19. Tapi jika ada masyarakat yang meminta peti jenazah untuk kerabatnya yang meninggal di rumah sakit, kami bisa siapkan, namun harus mendapatkan izin dari tim Satgas Covid-19,” tandas Hasanuddin.
Dikatakannya, MDMC PP Muhammadiyah ini sudah memulai pembuatan peti jenazah ini sejak 2020 lalu, dan telah memproduksi sebanyak 29 peti. Sebanyak 18 peti sudah dimanfaatkan oleh keluarga korban meninggal covid-19.
“Saat ini kami sementara membuat tujuh unit peti jenazah lagi, karena stok peti yang ready sudah habis. Permintaan yang masuk masih ada,” tambahnya.
Selain peti jenazah, kata Hasanuddin, relawan Muhammadiyah Gowa juga menyiapkan tenaga pemulasaraan jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, mensalatkan hingga menguburkan.
Terkait biaya yang digunakan, Hasanuddin mengatakan besarannya Rp2,5 juta. Biaya tersebut bukan hanya mencakup peti saja yang dibuat, tapi termasuk pula kelengkapan pemulasaraan jenazahnya.
“Jika dinilai dalam bentuk uang, estimasi biasa satu paket peti mencapai Rp2,5 juta. Itu sudah termasuk dua lembar plastik jenazah, satu lembar kantong jenazah, satu set kain kafan, dan kelengkapannya seperti kapas, handskun, handsanitizer, disinfektan dan yang lainnya,” ungkap Hasanuddin.
Disinggung soal sumber dana pembuatan peti, Hasanuddin mengatakan, sejak awal memproduksi, pihaknya tidak pernah membuka donasi secara umum, baik dalam bentuk pamflet maupun flyer yang diunggah di media sosial.
“Kami hanya menghubungi beberapa relasi dan kenalan melalui pesan WhatsApp dan telepon seluler agar dibantu membayar nota-nota barang yang dipesan di toko material dan toko perlengkapan jenazah. Selama ini secara resmi kami tidak buka donasi. Sejak tahun lalu kami hanya menghubungi relasi dan kenalan. Semua dilakukan para donatur dengan keikhlasan,” jelas Hasanuddin.
Untuk itu, lanjutnya, bila ada masyarakat atau dermawan yang ingin membantu pembuatan peti jenazah bagi korban covid-19, disarankan agar bantuan yang diberikan adalah bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan peti.
“Kami utamakan sumbangan dalam bentuk barang. Jika ada yang donasi dalam bentuk uang, maka kami arahkan donatur ke toko bangunan untuk beli bahan kebutuhan kami. Selanjutnya kami yang menjemput barang itu di toko bersangkutan. Jika bantuannya dalam jumlah banyak, biasanya pihak toko yang antarkan barangnya ke tempat kami,” terangnya lagi.
Bila ada masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam pembuatan peti jenazah tersebut, Hasanuddin Wiratama bersedia menyebut nomor ponsel yang bisa dihubungi, yakni 085259704791.
Sementara terkait tenaga kerja untuk pembuatan peti jenazah tersebut, pihaknya dibantu para relawan Muhammadiyah Gowa yang berasal dari Cabang Limbung dan Cabang Maccini Baji. Beberapa di antara mereka
ada berprofesi sebagai buruh bangunan.
Walaupun hasil kerja mereka dalam membuat peti ini tidak sebaik dari tukang profesional, namun kata Hasanuddin, peti yang mereka buat sudah memenuhi standar dan fungsinya.
“Jadi yang kami lakukan ini bukan sebuah usaha, tapi kerja sosial, bukan pencari keuntungan. Karena tujuan utama kami adalah agar jenazah pasien covid19 muslim dapat dimakamkan secara syar’i, yakni menghadap ke kiblat, bukan menghadap ke atas. Semoga amal ibadah kami dan para donatur diijabah Allah Swt,” tandas Hasanuddin. (saribulan)
