WAJO, BKM — Bupati Wajo, Amran Mahmud mengungkap penyebab meluapnya air hingga menyebabkan banjir di Kelurahan Maddukkelleng Kecamatan Tempe pada, Sabtu (28/8) lalu gegara daya tampung drainase yang minim dan diperparah dengan tingginya debit air Sungai Walennae.
Bencana banjir kali ini merendam ribuan rumah dan gedung pemerintahan. Sejumlah infrastruktur juga mengalami kerusakan parah dan kini dinas terkait tengah melakukan pembenahan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Wajo, Andi Pameneri mengatakan sebagai langkah antisipasi, Bidang Cipta Karya akan melakukan upaya pembenahan drainase dengan pelebaran saluran primer agar daya tampung lebih banyak.
Saluran air yang melintasi Jalan WR Mongisidi yang hanya terbuat dari gorong-gorong akan diusulkan ke balai untuk diganti dengan dekker.
“Rencananya hari ini akan bersurat ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) agar di Jalan WR Mongisidi dibuatkan dekker. Memang jalan nasional. Kami sudah koordinasikan secara lisan dengan balai kemarin,” ujar Pameneri, Senin (30/8).
Pameneri menyebut, pascabanjir pihaknya sudah melakukan pembersihan drainase bersama dengan aparat TNI, Polri, serta Satgas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wajo dan Kecamatan Tempe.
Terkait jembatan yang putus di Desa Padaelo, Pameneri menyampaikan pihaknya mengupayakan perbaikan darurat dan segera dibuatkan jembatan permanen.
Hal ini dilakukan agar akses transportasi yang menghubungkan Desa Temmabarang dengan Desa Padaelo bisa terbuka. Apalagi jalur ini juga merupakan salah satu akses menuju ke Kecamatan Sajoanging.
“Kita sudah ke lokasi jembatan yang putus dan dilakukan pengukuran untuk diganti dengan jembatan permanen. Sementara akan dibuatkan jembatan darurat dulu. Tim kami sementara juga melakukan pembenahan di lokasi,” ujar mantan Camat Keera ini.
“Insyaallah setelah air surut segera kita segera lakukan pembenahan jembatan untuk memudahkan akses masyarakat. Begitupun ada beberapa tanggul yang jebol di Ujung Pero dan beberapa titik di Belawa, serta Tanasitolo,” ucapnya. (ono/C)

