BARRU, BKM–Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPR RI Dr HM Aras melakukan ziarah ke makam KH. Abdurrahman Ambo Dalle di Kabupaten Barru, Sabtu (28/8).
Kedatangan HM Aras seakan kembali ke masa lalu dimana sebuah perjuangan terus dilakukan tanpa henti tak kenal lelah.
Setelah disibukkan dengan berbagai aktivitas, HM Aras menyempatkan waktu untuk mengenang sejarah pergerakan para ulama di Sulsel sebagai bagian dari momentum refleksi HUT RI yang 76.
Teringat sebuah judul buku karya Nazaruddin yang berjudul “Ambo Dalle Maha Guru Dari Bumi Bugis”. Yang menerangkan bagaimana perjalanan hidup dan perjuangannya sehingga menjadi seorang tokoh besar yang mendapatkan penghargaan bintang Mahaputra Nararya dimasa Presiden BJ. Habibie 1999. Penghargaan itu merupakan sebuah dedikasi negara kepada seorang ulama besar karena jasa-jasanya yang telah mencerdaskan rakyat melalui pendidikan agama dengan metode-metode yang relevan.
“Beliau, sang maha guru yang juga pendiri Darud Da-wah Wal Irsyad (DDI) Mangkoso Barru. Merupakan sosok yang fasih dalam membaca Alquran, memahami kitab-kitab klasik yang disajikan baik dengan sistem monolog atau sorogan dalam istilah pesantren, menyulut semangat perjuangan santri dan masyarakat zaman penjajahan,”ucapnya.
Dijelaskan bila Jepang menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama Islam yang tersebar bumi Nusantara ini mampu menjadi corong pergerakan melawan tirani. Selain itu, meski pendidikan agama dan doktrin pesantren sangat kental pada diri Ambo Dalle, hal itu tidak membuat ia anti terhadap pendidikan formal yang diadakan pihak Belanda. Ambo Dalle merupakan lulusan Sekolah Rakyat (Volks School) dimasanya.
Sementara itu, untuk memperluas keilmuan, Ambo Dalle lalu meninggalkan Wajo menuju Makassar. Ia mendapatkan pelajaran tentang cara mengajar dengan metodologi baru melalui Sekolah Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI). Kala itu, SI yang dipimpin HOS Cokroaminoto.
Berguru pada ulama-ulama terkemuka alumni Mekkah seperti H. Syamsuddin dan Sayyid Ali Al Ahdal, tidak lantas merubah pola perjuangan serta kecintaannya pada tanah air.
Menurut cerita salah seorang guru Ambo Dalle, yakni AGH. Muhammad As’ad Al-Bugisi yang dikenal dengan sapaan Gurutta Puang Aji Sade, suatu ketika menguji secara lisan murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle. Ternyata, jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat dan benar. Maka, sejak saat itu, ia diangkat menjadi asisten dan mulai meniti karier mengajar serta secara intens menekuni dunia pendidikan.
Berkat kerja sama antara Gurutta H As’ad dan Ambo Dalle, pengajian itu bertambah maju. Hal tersebut terdengar sampai ke telinga Raja Wajo saat itu, Arung Matoa Wajo. Arung Matoa pun memutuskan meninjau tempat pengajian H As’ad. Dalam kunjungannya, Raja Wajo ini meminta agar H As’ad membuka sebuah madrasah yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah.
Selanjutnya, atas izin sang guru, Ambo Dalle pindah dan mendirikan MAI di Mangkoso 29 Syawal 1356 H atau 21 Desember 1938. Mulai saat itulah, ia mendapat kehormatan dengan gelar Gurutta Ambo Dalle. MAI Mangkoso ini kelak menjadi organisasi pendidikan keagamaan Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI). (rif)
