Site icon Berita Kota Makassar

Bertahan di Tengah Pandemi dari Produksi Ikan Krispi

SATU lagi bukti kalau pandemi tidak mematikan inovasi. Khususnya dalam bisnis kuliner. Menggunakan jejaring di dunia maya, pundi-pundi rupiah pun bisa diraup. Pemilik usaha Eat.kan bernama Ulfiah Annisha, melakukan hal itu.

SEMUANYA dimulai saat pandemi melanda Indonesia. Awalnya, Uty –sapaan karib Ulfiah– bekerja pada bidang entertaiment, event organizer (EO), wedding organizer (WO), fotografer, dan sejenisnya.
Namun, ketika covid-19 mewabah, banyak event yang batal dilaksanakan. Dia pun mesti memutar otak bagaimana caranya agar tetap bisa bertahan hidup di tengah pandemi. “Kalau kita lihat-lihat kayaknya yang tidak ada matinya itu UMKM,” tuturnya ketika tampil pada podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Rabu (1/9).
Dalam pandangan Uty, UMKM tidak terlalu terdampak akibat pandemi. “Saya lihat malah UMKM lebih maju di tengah situasi seperti ini. Apalagi bisnis kuliner. Masyarakat sekarang lebih memilih order makanan secara online agar lebih mudah,” ujarnya.

Hobinya yang gemar memasak menjadi pertimbangan Uty untuk terjun ke bisnis makanan ini. Awalnya ia sempat berpikir, jenis makanan apa yang bisa langsung hits di masyarakat. “Kepikiran, mungkin yang krispi tapi yang belum ada di Makassar. Mungkin enak tuh kalau ikan tapi makannya gampang,”
ungkapnya.

Di masa pandemi ini, menurutnya, adalah waktu yang pas. Karena banyak pekerja yang kerap order makanan secara daring untuk makan siang. Sampai akhirnya ia mencoba membuat dengan resepnya sendiri, lalu memberanikan diri untuk memasarkannya.

Pada tahun 2020, berawal dari terdesak untuk survive di masa pandemi, akhirnya tercetuslah nama Eat.kan atau makan ikan.

Jenis makanan ikan krispi dari Eat.kan ini merupakan yang pertama di kota Makassar. Meski begitu, Uty mendapat inspirasi ini dari beberapa usaha kuliner sejenis dari beberapa tempat lainnya.
“Kita juga ambil inspirasi dari luar. Tidak bisa dipungkiri, kita tiru tapi kita improve. Disesuaikan dengan lidah orang Makassar,” tandasnya.

Dengan begitu, Uty tidak berkeberatan jika di luar sana ada juga yang ingin meniru jenis usahanya. “Kita kan juga seperti itu, meniru dan mengimprove. Bisnis boleh sama, tapi rezeki tidak akan tertukar,” jelasnya.

Awalnya, Eat.kan berlokasi di Jalan Anuang. Namun, pada bulan April lalu, tempatnya berpindah ke Jalan Andi Tonro 4 Nomor 22. “Alasannya, ditempat dulu itu sewa, kita ngetes pasar dengan sewa ruko. Ternyata 95 persen omzet kita itu dari online. Jadi, rasa-rasanya buang-buang uang kalau kita harus sewa tempat. Kita kan punya tempat sendiri, kenapa kita tidak isi saja,” katanya.
Tadinya, ia memikirkan strategisasi lokasi tokonya. Namun ternyata, suvei dari pembelinya menyebar. Sehingga, lokasi bukan lagi menjadi kendala yang harus dipikirkannya. Penjualannya lebih banyak secara daring, jadi ia bisa berlokasi di mana saja.

Ikan krispi yang ia tawarkan dijual seharga Rp20.000, sudah termasuk nasi. Selain itu, Eat.kan juga menawarkan berbagai jenis sambal. Di antaranya sambal parape, sambal matah, dan sambal mercon.

Selain itu, Eat.kan juga memiliki menu western food dengan saus tartar dan saus carbonara.

Eat.kan yang buka pukul 09.00-21.00 Wita ini mempunyai tagline: simpel makan ikan. “Ikan kan sangat bergizi ya, tinggi protein, tapi orang-orang malas makan ikan. Karena itulah kami memproduksi menu ikan yang mudah dan tidak merepotkan untuk dikonsumsi,” imbuhnya.
(pkl)

Exit mobile version