GOWA, BKM — Polisi tak butuh waktu lama untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhaan terhadap Kamaruddin (25), seorang pemuda alim yang dianiaya hingga akhirnya menemui ajal, Rabu (1/9). Ada empat orang yang diamankan polisi. Masing-masing NR (40), SM (50), NM (50), dan BR (40).
Akibat peristiwa yang dialaminya, korban mengalami sejumlah luka parah akibat benda tajam dan pukulan di tubuhnya. Selain itu, Kamaruddin juga diduga diracuni menggunakan racun tanaman. Cairan tersebut diminumkan ke mulutnya.
Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan yang dikonfirmasi, Kamis siang (2/9), membenarkan penangkapan tersebut. Kata dia, keempat terduga pelaku diringkus oleh tim Resmob Polda Sulsel. Satu dari keempat orang yang diamankan, yakni NM merupakan karyawan Inhutani. Sementara tiga lainnya adalah petani. Keempatnya adalah warga Dusun Sunggumanai, Desa Belapungranga.
Setelah ditangkap, mereka dibawa ka Mapolda Sulsel guna menjalani proses hukum selanjutnya.
”Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, terungkap bahwa terduga pelaku ada empat orang. Mereka sudah diamankan tim Resmob Polda Sulsel pada Kamis dinihari, setelah korban dievakuasi dari lokasi ditemukan di kawasan hutan milik PT Inhutani di Belapungranga, Kecamatan Parangloe. Saat ini keempat terduga sementara menjalani proses pemeriksaan di polda,” jelas jelas AKP Mangatas Tambunan.
Ia menambahkan, kasus ini tengah dalam penyelidikan. Terkait perkembangan kasusnya, serta peran para terduga pelaku dalam melakukan aksinya, akan dirilis secara resmi oleh pihak polda yang rencananya dilaksanakan hari ini, Jumat (3/9).
Sementara korban Kamaruddin telah dimakamkan oleh pihak keluarga di pekuburan umum Desa Bilibili, Kecamatan Bontomarannu, Rabu malam (2/9). Dari penuturan pihak keluarga, Kamaruddin yang merupakan bungsu dari dua bersaudara,dikenal sebagai anak yang sangat berbakti kepada orangtuanya.
Ayahnya bernama Sikollah Dg Kulle sudah meninggal dunia. Korban bersama Syarifuddin, kakaknya tinggal bersama ibu kandungnya Saharia Dg Rannu.
Kamaruddin, menurut keluarganya, sangatlah patuh. Bahkan sebelum melakukan aktivitasnya di luar rumah, Kamaruddin rutin membantu ibunya mencuci dan memasak. Sementara kakaknya, punya aktivitas bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan konstruksi. Sang kakak fokus mencari nafkah, sedang korban di bidang keagamaan.
H Nasir Dg Bantang, paman korban sekaligus tokoh masyarakat Desa Bilibili saat ditemui di rumah duka, kemarin mengaku sangat kehilangan sosok ponakannya yang sangat baik tersebut.
“Saya terakhir menerima kabarnya saat diinformasikan petugas. Korban saat itu masih hidup. Setelah menjalani pemeriksaan di puskesmas, Kamaruddin drop dan meninggal dunia,” kata H Nasir.
Sampai saat ini Nasir tidak tahu pasti apa motif yang membuat ponakannya dianiaya secara sadis. Disinggung soal Kamaruddin menjadi korban fitnah, Nasir mengaku tidak tahu menahu masalah tersebut. Ia bersama keluarganya yang lain menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas apa motif serta modus penganiayaan hingga akhirnya ponakannya meninggal dunia.
“Kamaruddin itu anak yang baik. Bahkan sangat terbaik. Dia tidak punya catatan kriminal di kepolisian ataupun catatan jelek di tengah masyarakat di sini. Dia lebih banyak beraktivitas di masjid dan sangat fasih berbahasa Arab. Itu saya tahu ketika ada tamu dari Pakistan yang berkunjung ke sini. Saya lihat dan dengar Kamaruddin berkomunikasi lancar menggunakan bahasa Arab. Dia memang pernah kursus, meski hanya lulusan SMA,” beber H Nasir. (sar)
