Site icon Berita Kota Makassar

Kumpulkan Rp1 Miliar lalu Beli Ambulans, Lapangan, dan TPS 3R

INOVASI tak melulu terjadi di kota. Hal serupa juga berlangsung di wilayah perdesaan. Seperti di Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.

DESA Panciro berada tak jauh dari Kota Makassar. Tidak heran jika daerah ini menjadi salah satu desa penyangga Kota Makassar. Hampir 40 persen kegiatan masyarakat di wilayah ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan warga Makassar.
”Misalnya, di Desa Panciro dari pagi hingga pagi lagi aktivitas penjualan sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya terus berlangsung. Panciro menjadi salah satu daerah penghasil sayur yang disuplai ke Makassar,” ungkap Kepala Desa Panciro Anwar Malolo yang hadir dalam podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Kamis (2/9) .

Selain itu, lanjutnya, kurang lebih 40 persen warga Panciro juga mencari penghidupan di Makassar. Beragam profesi yang mereka lakoni. Seperti dosen, pengusaha, pedagang, buruh harian, dan lain-lain. Anwar melihat, dari segmen-segmen pekerjaan yang ada ini selalu terkait dengan Kota Makassar.

“Selaku pedagang misalnya, mereka yang melakukan aktivitas perdagangan di Desa Panciro rata-rata barangnya diperoleh dari kota Makassar.

Terkadang mereka membawa material dagangan yang ada di Desa Panciro ke kota, kemudian kembali ke desa dengan membawa barang komoditi untuk dipasarkan kembali. Begitulah sirkulasi kehidupan yang ada di Panciro,” terangnya.

Aktivitas ekonomi antara masyarakat Panciro dan Kota Makassar sudah cukup erat, lalu seperti apa posisi pemerintah desa dalam memfasilitasi masyarakatnya? Diakui Anwar, hingga saat ini seua proses berlangsung secara alami. Apa yang mereka kerjakan itu telah dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Masyarakat Panciro menganggap hubungan Kabupaten Gowa, dalam hal ini Desa Panciro dan Makassar tidak terpisahkan. Jadi mereka menganggap Makassar itu adalah Gowa, dan Gowa itu adalah Makassar,” tandasnya.
Selaku kepala desa, Anwar Malolo terus berusaha untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Panciro ini. Aktivitas mengadu nasib di kota Makassar tentunya sangat dipengaruhi oleh SDM yang dimiliki. Untuk itu, pemerintah Desa Panciro mengupayakan bentuk-bentuk kegiatan yang bisa meningkatkan kulitas SDM. Misalnya dalam bentuk pelatihan.

Diakui Anwar, bentuk partisipasi dari masyarakat di wilayahanya begitu besar. Bahkan sampai saat ini tercatat bentuk pastisipasi dari warga untuk pemerintah desa mencapai angka Rp1 miliar. Dana tersebut kemudian digunakan untuk menyediakan dan membangun fasilitas yang dibutuhkan warga.
”Di Desa Panciro itu, Alhamdulillah kita berhasil melakukan pengadaan lahan lapangan yang berbasis partisipasi masyarakat. Lapangan ini biasa dipakai masayarakat untuk bermain bola. Juga dijadikan tempat untuk salat Idulfitri dan Iduladha, serta berbagai kegiatan umum lainnya,

” jelasnya.
Selain itu, juga telah dibeli ambulans, yang dananya diperoleh dari partisipasi masyarakat. Ada pula lahan seluas 10 hektareyang sekarang dijadikan lahan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) sebagai bentuk pengumpulan sampah-sampah yang potensial untuk diolah kembali.

“Kita akumulasi dari partisipasi dalam bentuk dana masyarakat Desa Panciro sudah mencapai angka Rp1 miliar, sehingga kita berani mengatakan bahwa Desa Panciro adalah desa yang pastisipatif. Tidak ada warga Panciro yang tidak berpartisipasi. Mereka ada yang menyumbang Rp5 ribu, Rp50 ribu, hingga Rp50 juta. Tidak ada satupun pintu rumah warga yang tidak dimasuki untuk menggalang partisipasi mereka,” tandasnya.
Pemerintah Desa Panciro juga menjalin kerja sama dengan pihak luar, termasuk kampus. Salah satunya dengan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, yang menjadikan Panciro sebagai desa binaan. “Alhamdullillah, kontribusi yang diberikan pihak kampus Unismuh ini sangat luar biasa,” tutur Anwar.

Ia kemudian menyebut salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan pihak kampus, yang menuturnya materi yang disajikan sangat bagus. Yaitu mengajak masyarakat untuk cerdas bermedia sosial.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat (PKM), pihak Unismuh memberikan pelatihan kepada warga. Untuk mendukung hal tersebut, kepala desa mengundang kader posyandu, PKK, aparat desa, serta tokoh masyarakat untuk turut hadir untuk mendengarkan pemaparan materi yang disampaikan.
Anwar merespons baik pelatihan tersebut, karena masyarakat sangat senang dengan program tersebut.

Untuk potensi sumber daya alam Desa Panciro, Anwar mengakui tidaklah terlalu memungkinkan. Walau begitu, pihaknya mencoba untuk menggali kemampuan yang ada.

Anwar melihat, potensi yang ada di Desa Panciro adalah banyaknya sampah yang setiap hari selalu ada. Menyikapi hal tersebut, dengan swadaya dan partisipasi masyarakat, pemerintah desa membeli lahan dengan dana dari partisipasi masyarakat. Selanjutnya lahan tersebut dijadikan acuan untuk memohon kepada Dinas PU untuk ditembuskan ke pusat.
“Alhamdullillah, saat ini sudah berdiri TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Suatu proses pengolahan sampah yang berbasis pengelompokkan dan daur ulang. Karena di Panciro terdapat banyak sampah, pemerintah desa berpikir bagaimana mengubah sampah tersebut agar dapat menghasilkan uang. Potensi inilah yang mau kita kelolah kemudian kembangkan,” tandasnya.

Menurutnya, sebagian orang menganggap sampah adalah sampah. Padahal, sebagian dari sampah bisa menghasilkan uang jika kita cerdas mengolahnya.

“Kita berusaha melibatkan masyarakat agar mereka memdapatkan lahan pekerjaan,” imbuhnya.
Untuk itu, Anwar berharap ke depannya akan ada edukasi yang diberikan kepada masyarakat mengenai tata cara memilah sampah hasil produksi, baik itu limbah rumah tangga maupun dari hasil komersial. “Insyaallah dalam waktu dekat ini kita akan melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai hal tersebut,”
ucapnya.

Guna merealisasikan rencana itu, Anwar mengaku bekerja sama dengan berbagai pihak. Sebab, potensi yang ada di Desa Panciro tidak akan mampu dikelola dengan baik tanpa adanya bantuan dari pihak lain. Karenanya, ia berharap dapat bekerja sama dengan semua pihak terkait guna pengembangan Panciro ke depan. (pkl)

Exit mobile version