Site icon Berita Kota Makassar

Suami Lumpuh, Lakoni Pekerjaan Buruh Cuci

MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 sangat berdampak bagi perekonomian masyarakat. Ada yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada juga yang banting setir mencari pekerjaan lain.
Seperti yang dilakukan seorang perempuan yang tinggal di Jalan Dahlia, Kecamatan Mariso, Kota Makassar. Uni, begitu ia akrab disapa. Dia kini melakoni pekerjaan sebagai buruh cuci. Sebab hanya itu yang bisa dilakukannya.
Upahnya tidak seberapa. Berkisar Rp700 ribu per bulan. Sementara dia mesti membayar sewa kos sebesar Rp300 ribu sebulan.

Beruntung bagi Uni, karena ibu kosnya cukup baik. Ia sering memberikan hadiah dan tunjangan atas kerja keras yang dilakukan Uni.
“Saya bekerja sebagai buruh cuci dibayar Rp700 ribu per bulan. Belum lagi dipakai bayar kontrakan. Sisanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi enak, karena biasa dikasih bonus dari bos,” ujarnya saat dikunjungi tim Pencari Berkah Harian Berita Kota Makassar yang bekerja sama dengan Yayasan Kemanusiaan Fajar (YKF), Jumat (3/9).

Sebenarnya ia bisa saja memiliki penghasilan tambahan, namun suaminya menderita lumpuh sejak dua bulan lalu dan tidak bisa melakukan kegiatan sama sekali. Walau penghasilannya pas-pasan ia tidak pernah mengeluh dan justru selalu bersyukur dengan keadaan apapun.

“Jadi bapak itu lumpuh. Sudah dua bulan. Alhamdulillah, berkat Allah dia bisa jalan. Setiap hari saya doakan sehabis salat agar selalu diberi rezeki oleh Allah,” harapnya.

Tak perlu menunggu lama, tim kemudian memberikan bantuan kepada Uni dan keluarga berupa sembako dan kebutuhan sehari hari.

Sudah seharusnya, sebagai manusia kita selalu bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan. Nikmat itu bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga fisik yang sempurna, kesehatan, dan banyak lainnya.

Memang yang namanya manusia pasti tak terlepas dari masalah. Di kehidupan ini, terdapat dua hal yang datang silih berganti sebagai pelengkap hidup yaitu kesenangan dan kesusahan. Namun, tak ada orang yang selamanya senang atau susah terus menerus. (pkl)

Exit mobile version