Site icon Berita Kota Makassar

Prof Kadir akan Tingkatkan Kesejahteraan Dosen dan Gali Potensi Pendapatan Baru

SATU lagi bakal calon rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) hadir di sesi Podcast Berita Kota Makassar, Sabtu (4/9). Ia adalah Prof dr Abdul Kadir. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI itu membahas tentang apa saja yang akan dilakukannya jika kelak dipercaya memimpin kampus merah. Termasuk perjalanan karirnya.

ABDUL KADIR lahi di Benteng, Kepulauan Selayar, 23 Mei 1962. Untuk mencapai kota Makassar ia harus menaiki kapal melintasi lautan. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terpelajar. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah. Keluarga yang lain pun adalah orang-orang berpendidikan.
Sejak duduk di bangku SD dan SMP, Abdul Kadir selalu mendapat predikat murid teladan dan selalu menempati ranking satu. Bakat tentang kepemimpinannya sudah ada sejak ia kecil, karena selalu menjadi ketua kelas. Kemudian, ia mendapat ranking terbaik di tingkat SMP se-kabupaten, yang kemudian membawanya hijrah ke kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA.
Abdul Kadir mengaku bercita-cita untuk menjadi seorang tentara. Namun karena tinggi badannya tidak mencapai batas minimal, dia pun dinyatakan gugur. Ia lalu beralih mengikuti tes di Fakultas Kedokteran Unhas dan lulus.
Berada di Kota Makassar, Abdul Kadir harus mampu berjuang sekuat mungkin untuk mempertahankan hidup. Pada saat semester tiga, ia mendapatkan beasiswa dari Yayasan Latimojong. Selanjutnya, pada semester 5 dirinya diangkat menjadi asisten dosen bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Unhas. “Jadi pekerjaan sebagai dosen itu sudah mendarah daging,” tuturnya.

Pada waktu yang bersamaan, ia mendapat amanah sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Kedokteran Unhas. “Itu perjalanan hidup yang cukup panjang. Semuanya telah membentuk saya sehingga menjadi seperti sekarang ini,” tandas komisaris utama PT Kimia Farma ini.
Dari latar belakang itulah, Prod Abdul Kadir kemudian merasa terpanggil untuk kembali ke Unhas guna memimpin dan melakukan percepatan akselerasi untuk menjadikan kampus ini sebagai yang terdepan.
Lalu, apa yang Prof Kadir lakukan untuk meyakinkan orang-orang untuk mendukungnya? “Saya yakin dan percaya bahwa saudara-saudara saya, para dosen di Unhas, khususnya anggota senat akademik adalah orang-orang terpelajar. Seorang akademisi selalu menggunakan ukuran-ukuran obyektif dalam menilai sesuatu. Jadi tentunya mereka tidak akan menggunakan ikatan-ikatan emosional, tapi akan melihat dari segi kapasitas dan kemampuan bakal calon. Tentunya mereka akan melakukan komparasi, mereka akan membandingkan pengalaman perjalanan hidup dari calon-calon dekan. Mereka juga akan melihat prestasi-prestasi dari setiap calon. Saya yakin dan percaya, mereka akan menggunakan indikator-indikator tersebut,” terangnya penuh optimisme.
Ia memvisualisasikan Unhas sebagai kapal besar yang harus dipimpin oleh nahkoda yang sudah berpengalaman, yang berani melawan arus demi kepentingan Unhas ke depannya.

“Visi misi itu harus mengacu kepada bagaimana scanning kondisi Unhas pada saat sekarang. Apa sih yang jadi persoalan utama di Unhas? Sampai di mana kekuatan internal kita? Apa sih kelemahan-kelemahan kita di Unhas? Apa kekuatan kita? Tantangan-tantangan apa yang akan kita hadapi? Semua itu harus dlakukan scanning,” ungkapnya.
Dari scanning itulah sehingga dapat ditentukan langkah-langkah yang akan di ambil ke depannya.
“Yang saya lihat, permasalahan utama di Unhas saat ini adalah tingkat kesejahteraan para dosen. Jika dibandingkan dengan universitas lain barangkali masih berada di tatanan yang normal. Tapi kan saya punya keinginan, kalau saya jadi rektor nanti, bagaimana saya meningkatkan kesejahteraan para dosen. Bagaimana supaya tidak ada lagi mahasiswa yang DO karena tidak mampu membayar SPP. Strateginya adalah kita ingin meningkatkan pendapatan dari Unhas. Untuk itu, harus ada seorang pemimpin yang juga mempunyai visi entrepreneur,” bebernya.
Menurutnya, pemimpin yang baik bukan sekadar yang pintar dalam hal mengajar atau penelitian. Tapi yang dibutuhkan adalah seorang leader yag mempunyai visi enterpreneur. Pemimpin yang berani mengambil keputusan.
Prof Kadir menjelaskan bahwa untuk meningkatkan pendapatan, kita harus menggali sumber pendapatan lain dari core bisnis yang ada saat ini. “Core bisnis kita yang ada sekarang kan pendidikan, penelitian, dan sebagainya. Pendapatan utama Unhas saat ini diperoleh dari pembayaran UKT (SPP) dari mahasiswa. Itu akan tetap ada, tapi mungkin porsinya hanya 60 persen. 40 persen lainnya adalah menggali sumber pendapatan lain yang disebut non-core bisnis. Artinya, ada sumber pendapatan lain yang kita dapatkan selain dari pembayaran SPP,” ungkapnya.
Unhas memiliki kekayaan intelektual dari hasil penelitian dosen-dosen Unhas. Untuk itu, pimpinan akan bekerja sama dengan industri dengan melakukan hilirisasi, sehingga penelitian-penelitian tersebut dapat mendatangkan pendapatan untuk unhas. “Kita jual penelitian itu. Kita patenkan sehingga menjadi satu produk yang bisa dijual dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, menggali potensi dengan mengoptimalisasi aset-aset yang dimiliki. Ada banyak cara untuk melakukan optimalisasi. Apakah dengan menggarap sendiri atau harus mengundang pihak ketiga untuk bekerja sama.
Saat ini sudah tersebar polling calon rektor di media sosial yang menampilkan posisi setiap bakal calon. Prof Abdul Kadir yang juga ketua Dewan Pengawas Pusat Kanker Nasional RS Kanker Damaris Jakarta berada di urutan pertama.
“Delapan orang bakal calon ini adalah orang hebat. Oleh karena itu saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para alumni yang telah menempatkan saya sebagai pilihan yang paling utama. Mereka memberikan saya polling yang begitu banyak dan itu menandakan bahwa alumni kita adalah alumni yang rasional yang bisa memilih pilihan sesuai dengan hati nurani dan ukuran obyektif,” tandasnya.
Seperti telah diketahuin, Unhas telah tercatat dalam kategori WCO (World Class University). Lalu, sebagai bakal calon rektor, apa yang akan dilakukan Prof Abdul Kadir untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitas Unhas di mata dunia?

“Unhas saat ini sudah bisa masuk dalam WCO. Di tingkat Indonesia, Unhas sudah menempati ranking nomor sembilan. Di WCO kita berada di posisi 1.000 sampai 2.000, Alhamdulillah. Artinya Unhas sudah diperhitungkan secara internasional,” ucapnya Guru Besar Unhas ini.
Tentunya, untuk mencapai level internasional itu ada beberapa indikator yang harus dipenuhi. Sehingga bukan sesuatu yang sulit bagi Unhas untuk bisa maju. Yang penting bagaimana membangun komitmen bersama, satu visi, sehingga semua komponen dan anggota yang ada di Unhas itu menyamakan langkah untuk menuju satu titik untuk mendapatkan level WCO yang paling tinggi.

Menurutnya, yang terpenting dari semuanya adalah kebersamaan, komitmen, kerja sama. “Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita miliki sebisa mungkin kita bangun bersama agar kekuatan kita bisa kita sinergikan menjadi kekuatan yang sangat besar menuju satu titik yang lebih bagus,” tandasnya. (pkl)

Data Diri

Nama Lengkap: Prof dr Abdul Kadir,PhD,SpTHT-KL(K), MARS.
Tempat/Tanggal Lahir: Benteng, 23 Mei 1962
Alamat: Jalan Hertasning Blok E14 No 11, Makassar
Agama: Islam
Istri : drg Nurhayati Natsir, PhD, SpKG.
Anak
1. dr. Nurul Qalby
2. dr. Nuril Ilmi
3. Ahmad Nur Fauzii
4. Nurul Afiah

Pendidikan

• SD Negeri 1 Benteng (1974)
• SLTP Negeri 1 Benteng (1977)
• SLTA Negeri 1 Makassar (1981)
• Pendidikan Kedokteran UNHAS Makassar (1988)
• S3 Otolaringology Hiroshima University, Jepang (1997)
• Spesialis THT Universitas Hasanuddin Makassar (1998)
• S2 MARS, Pasca Sarjana UNHAS Makassar (2007)

Riwayat Kerja

• Dirjen Pelayanan Kesahatan, Kemenkes RI
• Komisaris Utama PT Kimia Farma,Tbk
• Ketua Dewan Pengawas Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais Jakarta
• Guru Besar FK UNHAS Makassar

Exit mobile version