BAGI Anda yang suka mencicipi kuliner di Kota Makassar, nama Sari Laut Mbak Atun mungkin tidak asing lagi. Tempat makannya selalu saja ramai didatangi pengunjung. Tentu ada ”rahasia” di balik kesuksesannya merintis usaha yang diambil dari nama pemiliknya.
LOKASI pertama warung makan ini beralamat di Jalan Ujung Pandang, bersebelahan dengan kantor RRI Makassar. Sementara tempat usaha yang kedua berada dalam pekarangan RRI. Lokasi kedua ini terbilang masih baru, karena beroperasinya dalam tiga bulan terakhir.
Rumah makan dengan berbagai menu makanan ini terkenal dengan sambal bibir dowernya.
Di masa pandemi ini, Mbak Atun selaku owner tetap memberlakukan protokol kesehatan kepada pengunjung yang datang dengan menyediakan tempat untuk cuci tangan. Mereka juga diingatkan untuk senantiasa menggunakan masker.
Karyawan yang ada di dua rumah makan yang dikelolanya ini berjumlah 30 orang. Mbak Atun tidak membatasi hubungannya dengan karyawan. Ia bahkan menyebut mereka sebagai anak-anak atau teman-teman. “Saya pikir, semua itu sama. Kita ini satu keluarga, satu tim,” tuturnya dalam video yang tayang di Youtube Berita Kota Makassar.
Sebelumnya, warung sari laut merupakan bisnis keluarga yang sudah hadir sejak tahun 80-an. Kemudian pada tahun 2010, Mbak Atun membangun sendiri bisnisnya yang berjuluk Sari Laut Mbak Atun.
Salah satu keunggulan warung makan ini adalah terbuka menerima kritik dan saran dari masyarakat. “Saya transpran. Silakan masyarakat menilai. Kritik dan saran itu manusiawi. Kita terima. Ambil sisi baiknya,” ujarnya.
Dengan adanya komentar dari masyarakat serta pelanggan, Mbak Atun dengan bijak mengambil sisi baiknya. Ia kemudian mengintrospeksi diri lalu berusaha memperbaiki kesalahan yang ada.
Selain sambal bibir dower, Mbak Atun juga menyediakan menu sambal lain. Di antaranya sambal mangga dan jeruk nipis.
Mbak Atun dan keluarga merupakan perantau dari kota Manado. Ia pertama kali menginjak kota Makassar pada saat duduk di bangku kelas 5 SD. “Dari situ belum ada sari laut. Masih jualan gado-gado, soto ayam, nasi rawon, dan sebagainya. Dulu di Jalan Garuda jualan masih pakai gerobak,” ungkapnya.
Sejak kecil, Mbak Atun memang sudah giat bekerja. Kakak tertuanya yang merupakan tulang punggung mengharuskan adik-adiknya, salah satunya Mbak Atun untuk bekerja demi memperoleh apa yang mereka inginkan.
Hal tersebut menjadi motivasi. Dengan bekerja, Mbak Atun dapat memperoleh uang yang kemudian ia pakai untuk membiayai sekolahnya. “Setiap hari kita bangun pagi. Ibu bantu kakak. Saya juga kalau pulang sekolah bantu-bantu,” imbuhnya.
Karena orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya, akhirnya Atun kecil terpaksa ikut dengan kakaknya. “Saya dorong gerobak, saya dapat uang, saya pakai untuk kuliah.”
Atun mengaku tidak malu dengan apa yang ia kerjakan. “Kenapa harus malu? Justru saya bangga. Saya bangga dorong gerobak dari Jalan Cendrawasih 4 sampai Jalan Nusantara,” tandasnya penuh keyakinan.
Ia mendorong gerobak sepanjang enam sampai tujuh kilometer dengan beban kursi, makanan, dan kebutuhan jualan lainnya. “Kita niatkan, Bismillah, semangat. Insyaallah lancar.”
Dengan kegigihannya, Atun berhasil lulus di jenjang sarjana. Meski demikian, ia memilih untuk membuka usaha sendiri dengan berjualan sari laut. Meskipun ia mendapat cibiran saudaranya, ia tetap melanjutkan usahanya. “Dia bilang, sarjana kok bungkus sari laut. Saya bilang, kak, biar sari laut yang penting hasil keringat sendiri. Bisa menjadi big boss,” ujarnya bersemangat.
Ia bangga karena hari ini ia berhasil mewujudkannya. Kini, Mbak Atun bisa menghidupi para karyawannya.
Terdapat banyak menu yang disajikan di warung makan Sari Laut Mbak Atun. Mulai dari seafood seperti ikan, udang, cumi, kerang, dan masih terdapat menu lainnya.
Dari pencapaian yang diraihnya saat ini, dengan penuh haru Atun mengucap terima kasih kepada almarhum kakak iparnya yang telah berperan sebagai kakak sekaligus orang tua baginya. Menyekolahkan ia dengan adik-adiknya, menyayangi mereka. “Dia memang agak kasar, cuma di mulut saja. Tapi hatinya sangat baik,” ungkapnya sambil mengenang sang kakak ipar. Pria bernama Pak Selamat itu telah berperan penting dalam kesuksesan hidupnya. (pkl)
