MAKASSAR, BKM — Seiring bertumbuhnya aset dan pendapatan operasional, dalam semester pertama 2021, PermataBank juga membukukan peningkatan transaksi digital yang signifikan dikontribusikan oleh perkembangan inovasi teknologi yang diterapkan.
”Fokus kami untuk terus meningkatkan kinerja bank melalui perluasan skala bisnis dan pertumbuhan kredit yang sehat didukung teknologi terdepan. Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, kami berkomitmen konsisten memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi nasabah dan making a difference dalam upaya bersama memperbaiki kinerja perekonomian Indonesi,” ungkap Direktur Utama PermataBank, Chalit Tayjasanant, di sela gelaran Public Expose PT Bank Permata Tbk (PermataBank) secara virtual, pada Selasa (14/9).
Kinerja perusahaan selama tengah tahun pertama dan pemanfaatan digitalisasi dalam segala lini bisnis bank menjadi fokus utama dalam pemaparan yang disampaikan jajaran direksi tahun ini.
Kinerja keuangan PermataBank di semester pertama 2021 memperlihatkan hasil yang solid. Total aset bank bertumbuh 34,8 persen (Year on Year-YoY) menjadi sebesar Rp212,9 triliun, menjadikan PermataBank sebagai salah satu dari 10 bank komersial terbesar di Indonesia berdasarkan total aset.
Penyaluran kredit tumbuh 16,6 persen (YoY) menjadi Rp120,8 triliun, terutama didorong pertumbuhan kredit pada segmen Wholesale Banking sebesar 39,8 persen YoY yang antara lain dikontribusikan dari penyelesaian integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia di bulan Desember 2020. Pertumbuhan kredit Bank juga didukung pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang signifikan sebesar 21,7 persen YoY di segmen ritel.
Pendapatan operasional Bank tercatat sebesar Rp4,9 triliun atau tumbuh sebesar 19,4 persen YoY dan laba operasional sebelum pencadangan tumbuh sebesar 36,6 persen YoY. Sedangkan rasio (Non-Performing Loan) NPL gross dan NPL net di bulan Juni 2021 menjadi masing-masing 3,3 persen dan 1,2 persen, dibandingkan posisi Desember 2020 masing-masing sebesar 2,9 persen dan 1,0 persen, walaupun masih lebih baik dibandingkan posisi Juni 2020 masing-masing sebesar 3,7 persen dan 1,8 persen.
Bank mengalokasikan biaya pencadangan kerugian penurunan nilai untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat penurunan kualitas aset sebesar Rp1,5 triliun atau meningkat 41 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian, rasio NPL coverage tetap terjaga baik dikisaran yang cukup konservatif yaitu 218 persen.
Begitu pula laba bersih setelah pajak yang dibukukan pada Semester I 2021 sebesar Rp639 miliar, meningkat signifikan 74,3 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp366 miliar.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 75 persen pada akhir Juni 2021, turun dibandingkan posisi tahun lalu yang sebesar 81 persen. Hal ini dikontribusikan antara lain oleh peningkatan simpanan nasabah yang tumbuh sebesar 25,0 persen YoY dengan rasio CASA sebesar 52 persen menguat dibandingkan posisi Desember 2020 sebesar 51 persen. Sedangkan rasio permodalan bank yang sangat kuat dengan rasio CAR dan CET-1 sebesar masing-masing 35,4 persen dan 26,9 persen, jauh lebih kuat dari rasio CAR rata-rata industri perbankan di lkisaran 24 persen.
”PermataBank akan terus fokus untuk mempercepat laju pertumbuhan kredit yang sehat, didukung pertumbuhan dana pihak ketiga secara berkelanjutan dan efisien serta permodalan yang kuat. Prinsip kehati-hatian selalu dilakukan oleh bank dalam mengelola risiko dan menjalankan fungsi intermediari secara efektif dan efisien dalam komitmen untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam upaya pemulihan perekonomian nasional,” kata Chalit Tayjasanant.
Chalit mengatakan, PermataBank telah menyelesaikan Penawaran Umum Terbatas (PUT) IX pada 26 Juli 2021. Dimana, seluruh jumlah saham kelas B yang ditawarkan kepada pemegang saham bank sejumlah 8.138.620.315 lembar saham telah secara penuh dialokasikan sesuai permintaan pemegang saham dengan harga Rp1.347 per saham.
Pelaksanaan PUT IX ini merupakan kelanjutan dari proses integrasi antara PermataBank dan Bangkok Bank Indonesia dimana Bank mengkonversi seluruh Dana Setoran Modal yang diterima sebesar Rp10,8 triliun di Desember 2020 menjadi modal yang disetorkan sesuai dengan peraturan OJK Pasar Modal yang berlaku.
Di tengah tahun pertama 2021 jumlah total transaksi PermataBank meningkat 200 persen YoY menjadi 937 juta; Sebagian besar peningkatan berasal dari penyerapan yang signifikan di semua kanal digital hingga 351 persen YoY menjadi 766 juta. Peningkatan transaksi digital ini mencerminkan kemitraan yang kuat dan efektif dengan pihak ketiga serta dengan banyak pemain utama dalam ekosistem Bank dan ekonomi digital pada umumnya.
Sebagai perwujudan komitmen digitalisasi yang menyeluruh untuk menyediakan layanan yang simple, fast, dan reliable, PermataBank bekerjasama dengan Indomaret dalam menyediakan akses tarik tunai gratis bagi nasabah di lebih dari 20.000 lokasi waralaba tersebut di Indonesia. Memperkuat teknologi mobile banking super app PermataMobile X dan internet banking PermataNET, serta memperluas jangkauan Permata e-Business dan PermataQR dibidang Ritel dan UMKM.
Dalam lini Wholesale Banking, kerjasama berbasis teknologi juga diperkuat melalui kerja sama dengan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DKI Jaya & Sekitarnya dalam memfasilitasi teknologi perbankan melalui PermataAPI (Application Programming Interface). Begitu pula kemitraan di sisi trade financing bersama Contour sebagai bank pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi blockchain.
Di bulan Mei 2021, PermataBank Syariah meluncurkan ‘The First Shariah API Solution’ untuk Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Layanan ini memungkinkan LKS untuk melakukan transfer in dan transfer out bagi para nasabahnya dari dan ke bank lain secara online. (mir)
