MAKASSAR, BKM–Kota Makassar mulai memasuki musim hujan. Kendati intensitasnya belum terlalu tinggi dan rutin turun tiap hari, namun perlu diwaspadai persoalan banjir yang sudah jadi langganan di Kota Makassar.
Mengantisipasi terjadinya banjir maupun genangan, berbagai langkah sudah dilakukan Pemkot Makassar.
Salah satunya dengan mengangkat sedimen yang bisa menggambat aliran air di saluran drainase.
Dominan genangan diakibatkan oleh sampah, sedimen, dan adanya jaringan drainase yang rusak.
“Sedimentasi pada saluran drainase membuat air tidak bisa mengalir dengan baik. Akibatnya bisa timbul genangan,” ungkap Kepala Bidang PSDA dan Drainase PU Makassar, Syafar Madjid, Rabu (15/9).
Dia mengemukakan, berdasarkan data dari Dinas PU Makassar, ada sekitar 32 titik yang rawan genangan saat terjadi hujan lebat di Makassar.
Titik-titik yang rawan genangan tersebut paling banyak berada pada area jalan poros nasional maupun provinsi.
Untuk mengangkat sedimen, kata Syafar, Dinas PU menyiapkan 490 orang satuan tugas (satgas) drainase.
Mereka akan langsung bergerak menyasar drainase yang tersumbat akibat sedimentasi, baik yang disurvey terlebih dahulu, maupun ada aduan dari warga.
“Jadi, kami menerjunkan 490 orang yang merupakan Satgas Drainase untuk melakukan pengangkatan sedimentasi di tempat-tempat yang membutuhkan,” ungkap Syafar.
Diapun mengatakan, masyarakat tidak begitu panik, segera adukan ke Pemkot Makassar melalui 112 jika ada genangan yang debitnya besar.
Sementara itu, pihaknya juga sudah melakukan proses normalisasi saluran.
Di Makassar panjang saluran 3.233.250 meter. Sementara sudah terealisasi normalisasi saluran sudah 11.291 meter. “Tetapi kita target rampung pada Desember mendatang,” katanya.
Selain itu, dalam mengurangi titik genangan dan antisipasi banjir di Makassar, pemkot telah merancang pembuatan kolam retensi atau
Aquapon.
Sebelumnya direncanakan akan dibuat di area Lapangan Hertasning. Namun, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto membatalkan itu.
Jika melihat eskalasi genangan air saat hujan deras, maka kawasan yang cocok dibangunkan di AP Petta Rani dan depan rumah jabatan Wakil Gubernur Sulsel.
“Jadi aquapond itu harus dibangun pada spot-spot genangan,” kata pria yang akrab disapa Danny itu.
Namun untuk skala banjir kronis, seperti di Kodam 3, juga Antang Blok 8 dan 10, harus dibuatkan drainase dengan jaringan khusus. Itu untuk mengalirkan air yang pada waktu hujan deras. (rhm)
