MAKASSAR, BKM — Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Sosial dan Humaniora (PKM-RSH) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan penelitian berjudul Eksistensi Pappaseng Tellu Riala Sappo Sebagai Upaya Mencegah Timbulnya Perilaku Inses di Masyarakat Bugis Sulawesi Selatan. Kegiatan ini berlangsung di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Watampone, Kelurahan Cellu, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone itu dilaksanakan pada bulan Juli 2021.
Tim peneliti diketuai Rismiyana, beranggotakan Humairah Azzahrah dan Siti Nurhasmiah dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Ilmi Sosial. Dalam masyarakat Bugis, Pappaseng Tellu Riala Sappo dikenal sebagai pesan-pesan orang terdahulu kepada anak cucunya, yang bertujuan untuk menyampaikan nilai adat budaya yang mengatur pola pikir dan pola tindak dalam berperilaku etis di masyarakat Bugis.
Dijelaskan bahwa ada tiga pagar yang dijadikan pegangan masyarakat Bugis dalam bertingkah laku, yang terdiri dari tau’e ri dewatae (rasa takut kepada Tuhan), siri’ ri watakkaleta’ (rasa malu kepada diri sendiri), dan siri’ ri padatta rupa tau (rasa malu kepada sesama manusia).
Rismiyana menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengenali dan memahami bagaimana fenomena inses, eksistensi Pappaseng Tellu Riala Sappo di masyarakat Bugis Sulawesi Selatan, dan bagaimana Pappaseng Tellu Riala Sappo dapat dijadikan upaya mencegah timbulnya perilaku inses di masyarakat Bugis Sulawesi Selatan.
”Pengumpulan data dilakukan secara blended dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Wawancara dilakukan terhadap informan yang telah ditentukan yaitu pelaku inses, masyarakat umum, dan informan budayawan Bugis Sulawesi Selatan,” terang Rismiyana.
Sebelum melaksanakan penelitian, tim terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing Nur Fadhilah Umar,SPd,MPd, baik secara langsung maupun via daring. Dari penelitian ini diharapkan ada upaya preventif berbasis kebudayaan dan kearifan lokal untuk mencegah timbulnya perilaku inses di masyarakat Bugis Sulawesi Selatan melalui Pappaseng Tellu Riala Sappo.
Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini masyarakat akan dapat mengenali, memahami dan merealisasikan eksistensi Pappaseng Tellu Riala Sappo dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud pelestarian budaya Pappaseng Bugis. (rls)

