Site icon Berita Kota Makassar

Olah Bulu Ayam Jadi Panel Akustik Hingga Buat Plafon

MENYEBUT bulu ayam, tentu Anda biasa melihatnya. Tak terkecuali bulu ayam potong. Oleh banyak orang, ini adalah limbah dan sampah tak bernilai apa-apa. Apalagi baunya cukup menyengat. Namun tidak bagi Dr H Ansarullah. Ia berhasil mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan berpotensi menjadi pundi-pundi rupiah kelak di kemudian hari.

Menjadi narasumber di studio Podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, dosen arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (FT UMI) itu menerangkan inovasinya, yang mengubah bulu ayam menjadi panel akustik. Hasilnya ia bawa serta untuk diperlihatkan kepada pemirsa Youtube BKM. Inovasi ini pula yang mengantar Ansarullah meraih gelar doktor.
Bermula dari keprihatinannya soal limbah bulu ayam yang banyak ditemukan berserakan di berbagai tempat, ide inovasi itu pun muncul. ”Setiap hari ada banyak bulu ayam yang dibuang dan menjadi limbah. Itu bisa merusak lingkungan. Saya kemudian berpikir bagaimana caranya agar limbah bulu ayam ini bisa dimanfaatkan. Tercetuslah untuk menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan panel akustik,”’ ujar Ansarullah.
Ia lalu mencoba untuk bereksperimen. Ansarullah mengumpulkan bulu ayam lalu dikeringkan. Namun, karena terlambat dicuci, bulu ayam tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga pengolahannya tidak dilanjutkan.
Upaya berikutnya dilakukan. Dalam hitungan jam usai dipotong, bulunya langsung dicuci guna menghindari bau busuk. Usaha ini berbuah hasil. Bulu ayam tidak lagi beraroma menyengat. Ansarullah kemudian melanjutkannya pada proses pengeringan. Tahapan ini bergantung dari cuaca. Jika matahari bersinar cukup terik, bulu akan cepat kering. Bila benar-benar sudah kering barulah dilanjutkan ke proses selanjutnya. Guna mendapatkan bulu yang bersih dan tak berbau, proses pencuciannya menggunakan pemutih serta formalin.
Ansarullah lalu membuat wadah berbentuk bulat untuk mencetak bulu ayam yang utuh. Bulu ayam tersebut ia campur dengan lem.

”Awalnya bulu ayam yang utuh berhasil menyatu dengan lem. Tapi lama kelamaan tulang-tulang bulu ayam yang keras langsung terlepas keluar, sehingga hasilnya tidak maksimal,” jelasnya.
Cara lain dicoba Ansarullah. Kuncinya, bulu ayam utuh tersebut tidak boleh langsung dicetak. Melainkan harus terlebih dahulu dicacah dan dihaluskan. Beruntung, ia mendapat informasi tentang keberadaan tempat yang bisa mengolah dan menghaluskan bulu ayam utuh tersebut.
Dia lalu mendatangi pabrik yang sebenarnya untuk mencacah plastik bekas tersebut. Gayung bersambut. Pemilik pabrik yang berlokasi di wilayah Kassi, Antang itu bersedia membantu Ansarullah. Bulu ayam utuh yang dibawanya langsung dicacah hingga benar-benar halus.
Berbekal bulu halus itulah, Ansarullah kemudian mencoba lagi inovasinya. Bulu halus itu ia campur dengan lem lalu memadatkannya. Kali ini berhasil, hingga akhirnya jadilah panel akustik seperti yang diinginkan.
Dari hasil uji coba yang dilakukan, panel ini mampu menyerap suara secara optimal. Selain itu, cocok pula untuk dijadikan bahan baku pembuatan plafon pengganti gypsum.
Walau begitu, Ansarullah masih berusaha menyempurnakan inovasinya. Panel yang telah dihasilkan saat ini nantinya akan diberi tulangan di dalamnya supaya lebih kuat lagi. Apalagi jika hendak dipergunakan menjadi plafon dengan ukuran yang cukup lebar.
Sebagai dosen, Ansarullah saat ini tengah berproses untuk meraih guru besar. Karena itu, inovasinya terus ia kembangkan. Sebab dari uji coba yang pernah dilakukan, panel dengan bahan baku bulu ayam ini juga tahan panas.
”Jadi ada potensi besar untuk mengolah bulu ayam ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu saya sudah menyelesaikan hak patennya. Kalau untuk HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) masih berproses. Karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui,” jelasnya.
Ansarullah juga intens memperkenalkan inovasi panel akustik ini di tengah masyarakat. Salah satunya melalui program pengabdian kepada masyarakat. Peserta program yang mendapat penjelasan langsung tersadar betapa besar potensi bulu ayam ini jika diolah dengan baik.
Ke depan, Ansarullah berharap inovasinya ini bisa semakin dikenal, hingga akhirnya bernilai jual. Apalagi untuk memproduksinya tidaklah butuh biaya besar, karena bahan bakunya cukup melimpah. Dengan begitu, bulu ayam tak lagi menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan, melainkan bisa mendatangkan uang. (*/rus)

Exit mobile version