SELAMA pandemi covid-19, pembelajaran dilakukan secara online. Tetapi siswa yang tidak punya handphone atau kuota internetnya terbatas, bisa mengumpulkan tugas di meja security.
Beginilah sebagian model pembelajaran di SMP Negeri 27 Makassar. Meskipun pembelajaran dilakukan secara online, aktivitas di sekolah tetap ada. Guru-guru tetap masuk sekolah meskipun tidak setiap hari. Begitu juga siswa, setiap pekan bergantian membersihkan meja, kursi, dan ruang kelasnya.
Penulis berkunjung ke sekolah yang beralamat di Kompleks Hartaco Indah Makassar, Rabu sore (22/9) lalu. Tidak seperti kebanyakan sekolah lainnya yang sepi, aktivitas di tempat ini justru tetap ada. Memang tidak sesibuk sebelum pandemi covid-19.
Beberapa guru masih berada di halaman depan sekolah. Di bagiian belakang, beberapa siswa asyik bermain futsal.
Di pintu masuk sekolah persis depan pos security, tersedia meja ukuran standar. Meja ini rupanya menjadi tempan menyimpan tugas bagi siswa yang tidak ikut belajar online atau mengumpulkan tugasnya melalui aplikasi pembelajaran online.
Satu per satu siswa datang menyetor tugasnya. Lembaran yang ditulis tangan itu lalu dimasukkan pada map plastik sesuai judul mata pelajaran yang tertera di map itu. “Iya pak, setiap ada tugas saya menyetor di meja security,” kata Uni, salah seorang siswa SMPN 27.
Kepala SMPN 27 Makassar, Nurdin mengatakan pihaknya memang memberi kelonggaran bagi siswa yang tidak punya handphone atau kuota internet dengan menyetor tugasnya di meja depan pos security.
“Setiap hari guru mata pelajaran mengambil tugas yang terkumpul itu,” kata Kepala SMP Negeri 27 Makassar, Nurdin.
Nurdin menambahkan selama pandemi covid-19, aktivitas di sekolahnya tetap ada meskipun terbatas. Guru-guru tetap datang ke sekolah secara bergantian. Selain mengambil tugas siswa, beberapa guru juga melakukan pembelajaran daring dari sekolah.
Ia mengatakan beberapa siswanya yang latar belakang ekonominya kurang mampu memang tidak sanggup membeli kuota untuk pembelajaran online. Karenanya kepada mereka diberi kelonggaran untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah secara manual.
Nurdin berharap sekolah tatap muka bisa segera digelar agar kualitas pembelajaran bisa kembali normal. Ia mengakui pembelajaran secara online kurang maksimal dalam menuntaskan pembelajaran siswa.
“Banyak siswa yang kurang bisa memahami penjelasan guru jika pembelajaran dilakukan secara online. Tetapi jika dilakukan secara offline, semua siswa tentu akan lebih mudah menerima pengajaran guru,” katanya lagi. (fp)

