Site icon Berita Kota Makassar

Buat Penjernih Air Sederhana dan Produksi Abon Ikan

INOVASI bisa dilakukan oleh siapa dan kapan saja. Tak terkecuali oleh mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal itu dibuktikan oleh siswa siswi SMPN 7 Kota Makassar.
Ada sejumlah hasil karya merek, yang difasilitasi oleh pihak sekolah. Mulai dari pembuatan alat penjernih air menggunakan teknologi sederhana, memproduksi abon ikan dan roti isi abon, serta mengolah sampah plastik menjadi sebuah karya yang bisa dimanfaatkan.

Kreasi siswa tersebut ditampilkan melalui kanal Youtube Berita Kota Makassar. Kepala SMPN 7 Makassar Muh Nasir didampingi guru pendamping menjelaskan tentang hasil inovasi anak didiknya.
Menurut Nasir, SMPN 7 merupakan salah satu sekolah di Makassar yang terpilih sebagai sekolah penggerak, program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

”Melalui sekolah penggerak ini, kita akan memaksimalkan potensi dan pengembangan diri anak secara keseluruhan. Termasuk kompetensi guru-guru di dalamnya. Jadi, melalui program ini anak betul-betul termotivasi ide-ide kreatifnya dan lebih berkembang. Di sini pihak sekolah berusaha memfasilitasi,” terang Nasir.
Atas dasar itu, beberapa program mulai dikembangkan di SMPN 7. Termasuk memfasilitasi pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar. Berkolaborasi dengan program lain, digagas sejumlah tema-tema kegiatan yang bisa memotivasi kreativitas anak di sekolah.

”Salah satu contohnya adalah memfasilitasi mereka melalui program pembuatan alat penjernihan air. Dengan menggunakan teknologi sederhana, air yang layak konsumsi bisa didapatkan. Dasar berpikirnya, karena di Kecamatan Ujung Tanah, khususnya Keluraha Totaka tempat sekolah kami ini, warganya sangat kesulitan air bersih. Karena itu kami mencoba mendesiminasi. Kita mulai dari sekolah, untuk kemudian dikembangkan oleh anak-anak di rumahnya masing-masing,” jelas Nasir.
Program lainnya adalah memfasilitasi siswa untuk membuat abon ikan lalu memadukannya dengan roti, dan menghasilkan roti isi abon. Hal ini sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi lokal. Sebab di wilayah ini dikenal memiliki tempat pelelangan ikan (TPI), sehingga sumber bahan baku ikan cukup besar.
”Dari ikan hasil tangkapan yang berlebih, kita memfasilitasi anak-anak melalui program kewirausahaan pembuatan abon ikan untuk dikonsumasi. Setelah ada abon ikannya, dibuat lagi roti isi abon ikan,” ungkap Nasir.
Untuk pembuatan karya yang terbuat dari sampah plastik, merupakan bagian dari upaya mencegah semakin meluasnya pemanasan global (global warming). Melalui program ini, anak-anak diajak melakukan outing class ke tempat pembuangan sampah yang ada di Totaka. Dari sini mereka diajar untuk memisahkan sampah plastik dengan jenis sampah lainnya. Plastik yang dibuang itu kemudian digunakan menghasilkan karya, tentunya dengan pendampingan guru.
”Sungai Pannampu begitu tercemar limbah plastik. Begitu pula dengan di tempat pembungan sampah Totaka. Ada banyak potensi sampah plastik di sana. Kita kemudian mengedukasi anak-anak untuk memanfaatkan sampah tersebut. Dengan begitu, mereka akan mengajak keluarganya untuk melakukan hal serupa. Jadi praktiknya bukan hanya di sekolah, tapi juga di tengah masyarakat,” tandas Nasir.
Seorang guru pembimbing menuturkan, untuk program yang diperuntukkan bagi siswa, terlebih dahulu dibentuk kelas model. Selanjutnya dilaksanakan refleksi awal untuk mengetahui apa yang akan menjadi permasalahan di tengah-tengah mereka. Termasuk refleksi lingkungan. Sesudah itu dilakukan pula observasi lingkungan sekolah dan di sekitarnya. Ternyata lingkungan mereka kekurangan air bersih.
Akhirnya sampailah pada simpulan untuk membuat alat penjernihan air, karena siswa menghadapi sendiri sulitnya mendapatkan air bersih. Bahkan air di lingkungan sekolah mereka berbau. Mereka lalu mempelajari cara membuat alat dengan tekonologi sederhana. Salah satunya dengan bertanya ke pengelola air minum isi ulang.
Menggunakan pasir atau arang yang dimasukkan ke dalam potongan galon, air bersih pun bisa didapatkan. Bahannya mereka cari sendiri lalu dibuat oleh siswa.
Selain sebagai sekolah penggerak, SMPN 7 Makassar juga menjadi salah satu sekolah antiperundungan di Makassar. Ada sebanyak 30 anak yang dipilih untuk menjadi agen perubahan. Siswa ini dipilih sendiri dan dinominasikan oleh termannya sendiri. Diharapkan ke depan mereka bisa memengaruhi temannya yang lain untuk antiperundungan.
Tiap minggu ada kegiatan yang dilaksanakan di sekolah ini. Tujuannya untuk memberikan stimulus kepada para agen perubahan yang telah dipilih dalam memengaruhi teman sekolah, lingkungan rumah, dan komunitasnya. Jika satu orang mampu mengubah satu orang lainnya, akan terbentuk jejaring yang luas. Dengan begitu, semua anak yang seumuran mereka bisa mengatakan stop bullying. (*/rus)

Exit mobile version