Site icon Berita Kota Makassar

Bertahan karena Menjaga Kualitas Cita Rasa

MAKASSAR, BKM — Tetap eksis berusaha selama puluhan tahun di tengah persaingan yang begitu ketat, tentu ada penyebabnya. Bertahan karena menjaga kualitas, itulah yang dilakukan CV Karya Kita, perusahaaan yang memproduksi Markisa Bola Dunia.
Philip Rumondor sebagai pemilik usaha hadir dalam podcast di studio mini Berita Kota Makassar lantai 3 Graha Pena, Makassar, Selasa (28/9). Philip yang menjadi direktur di CV Karya Kita didampingi Wakil Direktur Doni Hamid.
Dijelaskan Philip, awalnya pabrik yang ada sampai saat ini didirikan pada tahun 1953. Ketika itu memproduksi sirup dan limun. ”Ketika itu usia saya tiga tahun. Masih kanak-kanak. Bapak saya yang dirikan,” ujarnya.

Tak lama setelah kehadiran pabrik markisa ini, pesaing pun muncul. Minuman berkarbonasi yang pabriknya begitu besar, datang meramaikan persaingan industri minuman di tanah air di tahun 1957-1958. Tak terkecuali di Makassar.
”Sebagai pabrik dengan produksi yang kecil, tentu kami cukup kewalahan waktu itu. Jalan keluarnya, kami dapat buah markisa khas Malino (Gowa). Awalnya coba-coba untuk buat jus. Waktu itu sekitar tahun 1960-1961,” ungkap Philip.
Philip lalu menjelaskan perbedaan antara sirup dan jus. ”Kalau sirup kandungan gulanya tinggi. Kalau jus, dalam proses produksinya gula tidak dimasak bersamaan dengan sari markisa, sehingga lebih segar,” jelasnya.

Seiring perkembangan zaman, kemasan markisa Bola Dunia yang dipasarkan dibuat bervariasi. Ada yang berukuran botol besar dan harus dicampur air untuk mengonsumsinya. Ada pula yang bisa langsung minum.
Di tahun 1990, Markisa Bola Dunia dihadirkan untuk memenuhi permintaan konsumen. Tentunya dengan cita rasa dan kualitas yang tetap dipertahankan.
Lokasi pabrik markisa ini yang dulunya berada di Jalan Gunung Merapi, Kota Makassar, kini beroperasi di Jalan Rajawali. Tempat di Jalan Gunung Merapi beralih sebagai toko untuk menjual markisa Bola Dunia. Toko ini pulalah yang menjadi pionir untuk penjualan oleh-oleh khas markisa.
Lalu dari mana perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku? Philip mengungkap bahwa pihaknya memiliki lahan kebun sendiri seluas 15 hektare di kawasan Malakaji, Gowa. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan petani setempat dengan membagikan bibit markisa berkualitas untuk ditanam di lahan meraka. Hasilnya kemudian dibeli untuk diproduksi menjadi jus.
”Jadi kami tidak ragu dengan buah markis yang diproduksi. Kami sangat selektif dengan kualitas buah yang diolah menjadi jus. Asal usul buahnya kami sangat tahu. Mulai dari penanaman, proses pemupukan, hinga menghasilkan buah,” tandas Philip.

Doni Hamid selaku wadir, menjelaskan tentang pemasaran markisa Bola Dunia. Menurutnya, di awal tahun 2000 jus hasil produksinya pernah diekspor ke Australia hingga Jerman. Pihaknya juga bekerja sama dengan toko oleh-oleh yang tersebar di Kota Makassar. ”Untuk join dan reseller, kami sudah lakukan dengan toko oleh-oleh yang ada di Makassar,” kata Doni.
Philip maupun Doni menyadari bahwa markisa Bola Dunia telah dimanfaatkan oknum tertentu untuk memasarkan produk serupa. Karenanya, itu meminta kepada konsumen untuk teliti sebelum membeli. Salah satu yang ditegaskan bahwa markisa Bola Dunia hanya ada di toko-toko khusus oleh-oleh. ”Kami tidak hadir di pinggir-pinggir jalan,” terangnya. (*/rus)

Exit mobile version