MEMBANGUN infrastruktur itu sangat mudah. Ada anggaran, bangunan pun bisa berdiri. Tapi membangun kesadaran masyarakat untuk peduli lingkungan itu jauh sangat sulit. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mendekati karakter yang beragam.
Inilah yang menjadi tantangan besar yang dihadapi seorang Nurliah Ruma, Korkot Kotaku (Koordinator Kota Tanpa Kumuh) Wilayah IV Sulsel.
Di awal menjabat sebagai Korkot Kotaku dan memulai kiprah penataan kumuh di tujuh kabupaten di Sulsel yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai dan Kepulauan Selayar, paling utama dan menjadi pondasi yang dilakukan ibu satu anak ini adalah membangun partisipasi masyarakat.
Program Kotaku atau Kota Tanpa Kumuh yang merupakan program nasional yang penganggarannya digelontorkan melalui Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini, merupakan satu bentuk program yang prioritas pada pelibatan partisipasi masyarakat. Keswadayaan masyarakat dalam program ini adalah nomor satu. Penggunaan anggaran infrastruktur di dalamnya terkontrol dan pembelanjaannya sesuai RAB (Rancangan Anggaran Belanja).
Karena sesuai RAB alias penggunaan anggarannya terstruktur dan pas, maka keswadayaan masyarakat pun menjadi intinya.
Lalu bisakah itu dilakukan? Ternyata Nurliah Ruma mampu menggerakkan itu. Lalu apa yang dilakukannya sehingga sebidang tanah yang notabene milik seorang warga bisa terwakafkan untuk kepentingan bersama?
Bagi Nurliah Ruma, berbicara satu bentuk bangunan bisa dalam sekejap berdiri terbangun karena uang. Tapi apakah bangunan itu bisa berdiri tanpa pembiayaan tukang dan pekerjanya?
“Bisa. Bangunan itu bisa berdiri dengan budget pas. Tapi membeli tanah untuk lokasi bangunan bak air misalnya, itu tidak ada dalam RAB, bagaimana? Nah, di sinilah peran kita menyadarkan masyarakat betapa pentingnya partisipasi warga untuk menciptakan sesuatu untuk kepentingan bersama. Jadi pokok kegiatan kami yang paling inti adalah menyadarkan masyarakat untuk bisa berswadaya. Tapi menyadarkan itu sangat sulit. Butuh komitmen hati, mendekati mereka, memberikan gambaran tentang proses kehidupan yang harus saling menopang. Masyarakat kita giring ke situ. Kita buka alam pikirannya bahwa kepentingan bersama untuk manfaat bersama adalah sangat berharga, ” papar Nurliah Ruma.
Dalam wawancara untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, dia mencontohkan ketika pada tahun 2017 lalu, sebuah lorong di Kelurahan Pandang-pandang, Kecamatan Somba Opu sering kekeringan. Kebutuhan air bersih kerap sulit di musim kemarau dan genangan serta banjir selalu mendominasi ketika musim hujan.
“Bersama sejumlah fasilitator dan warga setempat, kami mulai bergerak melakukan pendekatan untuk memecahkan masalah tersebut. Awalnya, warga saling egois, saling tutup selokan dengan asumsi, limbah rumah tangga si A tak bisa mengotori selokan depan rumah si B. Saling tutup selokan terjadi. Akibatnya, saat musim hujan tiba, banjir menggenang. Semua area pemukiman terencam. Air masuk ke dalam rumah warga,” ungkapnya.
Dari sinilah Nurliah dan fasilitator lainnya masuk memberikan pencerahan agar tidak saling egois. ”Kebersamaan harus diutamakan. Dan kegotongroyongan harus dilakukan. Dari pengalaman itulah mindset berpikir mereka mulai berubah. Kemudian warga mulai menyadari kekeliruan dan keegoisan. Akhirnya mulailah saling memahami kepentingan yang berujung pada kebersamaan. Kemudian warga pun mulai mewakafkan lahan kosongnya untuk dibuatkan sarana air bersih yang fungsinya dipergunakan bersama. Tidak musuhan lagi. Kini mereka menikmati itu dan sisi lainnya membuat indah lorong mereka sendiri. Dan saat lomba lorong indah, lorong yang dulu kumuh itu malah juara,” papar Nurliah Ruma.
Diakuinya, penggambaran keberhasilan sebuah usaha bukan dilihat dari bangunan fisiknya semata. Namun yang terpenting adalah keberhasilan membangun kebersamaan warga masyarakat di sekitarnya.
Dikatakan Nurliah Ruma, banyak orang keliru memahami apa itu program Kotaku. Yang ada di pikiran mereka secara umum adalah program ini dibackup anggaran besar pemerintah, bahkan hingga miliaran rupiah. Namun itu terbagi untuk beberapa segmen kegiatan, khususnya infrastruktur.
“Ya, benar. Program ini dibackup anggaran besar. Namun anggaran itu bukan untuk bisa diatur-atur semau kita. Semua terkontrol dan pelaporannya pun detil. Tidak boleh kurang secuilpun. Bahkan yang diharapkan dari program ini adalah, semisal ada pembangunan sarana air bersih atau drainase dengan plot anggaran sedikit, namun sangat diharapkan pembangunannya banyak, bukan cuma bangunan sarana air bersih atau drainase itu yang terbangun, tapi juga sarana pendukung lainnya seperti penataan lorong di sekitar sarana air bersih itu. Di sinilah letak keterlibatan swadaya masyarakat itu,” jelasnya.
Beda dengan proyek infrastruktur pemerintah, di mana hasil bangunannya betul-betul sesuai RAB dan tidak boleh kurang dan juga tidak boleh lebih. ”Artinya, kalau membangun kantor misalnya, hanya fokus kantor itu saja, sekitaranya tidak disentuh. Nanti ada pengusulan anggaran pembuatan taman atau jalan sekitar kantor itu baru bisa dikerja lagi. Beda dengan program Kotaku, ” beber Nurliah Ruma.
Saat ini tambah dia, pelibatan masyarakat dalam program Kotaku makin berkembang. Masyarakat pun menyadari manfaat besarnya. Salah satunya adalah masyarakat mau membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dana bergulir dan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP).
“Itu menandakan bahwa masyarakat sudah berubah dan sudah memiliki pikiran positif untuk membangun wilayahnya sendiri. Untuk KSM itu mereka bentuk, di mana manfaatnya cukup berarti. Warga yang masuk anggota KSM ini bisa pinjam modal usaha dan dia kembalikan secara angsur dengan bunga sangat kecil. Terus, mereka juga membentuk KPP sebagai kelompok yang menikmati manfaat sarana air bersih yang dibuat. Mereka menikmati air bersih dengan sistem bayar juga seperti model PDAM. Kita bangun sarana air bersih ini karena wilayah bersangkutan tidak terjangkau PDAM. Lokasinya berada di wilayah ketinggian, yang jika menggunakan jaringan PDAM justru akan mengeluarkan cost besar, ”
terangnya
lagi.
Intinya, menurut Nurliah Ruma, dalam program Kotaku ini pemberdayaan masyarakat yang diutamakan.
” Sangat susah mengubah mindset berpikir masyarakat. Jika kita mampu menanamkan kepercayaan kepada mereka melalui komitmen hati, maka yakin saya masyarakat mau berpartisi tanpa beban. Sebab mereka sudah tanamkan dalam hati bahwa sesuatu hal yang dikerjakan bersama hasilnya pun untuk dinikmati bersama. Siapa yang akan memelihara dan menjaga hasil kerja jika bukan kita sendiri. Rasa memiliki harus ditanamkan karena manfaatnya memang untuk kepentingan bersama,” tandasnya. (sar)
