MAKASSAR, BKM–Sepak terjang Ilham Arief Sirajuddin (IAs) dalam beberapa bulan ini menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk pimpinan partai politiki. IAS yang juga mantan calon Gubernur Sulsel ini baru saja diajak bergabung dengan Nasdem oleh Rusdi Masse.
Lantas bagaimana niat IAS yang ingin maju di musyawarah daerah (musda) Partai Demokrat Sulsel agar bisa kembali maju di pemilihan gubernur (pilgub) mendatang.
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono mengaku bila deal politik antara IAS dan RMS dalam sebuah pertemuan di Papa Ong yang difasilitasi oleh Cicu. Jika buntut pertemuan itu dikembangkan sedemikian rupa, maka bisa jadi benar desas-desas yang mengikuti, yaitu IAS akan hijrah ke Nasdem.
Akan tetapi, beberapa hal harus juga dicermati dalam kemungkinan itu. Pertama, hampir semua tokoh di Sulsel, termasuk Plt Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, ditawarkan oleh RMS untuk masuk Nasdem. Itu hal yang wajar, karena target Nasdem Sulsel adalah membirukan Sulawesi Selatan di 2024.
Kedua, IAS tidak dapat dengan serta merta, membawa para loyalisnya untuk pindah juga dari Demokrat ke Nasdem, karena ada beberapa informasi yang mengatakan bahwa bisa jadi IAS cukup banyak dapat dukungan dari beberapa DPC Demokrat di daerah untuk musda. Apakah dengan kondisi yang demikian di Demokrat, IAS masih akan tetap pindah partai?
Ketiga, jika belajar dari proses naiknya Ni’matullah dikursi 01 Demokrat Sulsel, kita bisa simpulkan bahwa, peran DPP sangat menentukan, sehingga dalam kasus KLB Moeldoko misalnya, Ni’matullah memposisikan dirinya tegak lurus dan segaris dengan AHY. Agak berbeda dengan posisi IAS yang relatif lebih longgar, karena masih ada istrinya, Aliyah, sebagai representasi dukungan DPP.
“Jadi, menurut saya, posisi IAS di Demokrat akan terlebih dahulu diuji, dengan menghadapi Ni’matullah di musda, sebelum ada keputusan, apakah IAS akan pindah partai ke Nasdem atau tidak,”ujar Aried Wicaksono.
Arief yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unibos ini menambahkan bila bisa jadi pertemuan IAS dan RMS sebenarnya adalah upaya pengkonsolidasian kekuatan dengan membuka peluang intervensi finansial dari luar Demokrat, dalam hal ini adalah RMS.
“Jadi, konteks pertemuan IAS, RMS dan Cicu sebenarnya bukan dalam rangka IAS akan pindah ke Nasdem, tapi bisa jadi karena ada deal politik yang berusaha ia bangun bersama RMS, dalam hal itu, bisa saja masuk dalam konteks Pilgub Sulsel. Sedangkan kehadiran Cicu saat itu, murni karena Cicu adalah tuan rumah, sebagai pemilik kedai,”jelasnya.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur Prianto mengemukakan bahwa silaturrahim politik hal yang biasa saja. Termasuk kalau ada pendekatan sesama tokoh politik untuk bergabung di partai politik yang sama. Di politik, kemungkinan-kemungkinan itu bisa terjadi. “IAS dan RMS juga dulu merupakan mantan elit Partai Golkar. Usaha RMS mengajak tokoh-tokoh politik bergabung di Nasdem adalah bagian dari rekrutmen Partai Nasdem. Apalagi secara historis, IAS adalah pendiri Ormas Nasional Demokrat di Sulsel, cikal bakal partai Nasdem,”jelas Luhur.
Hanya saja secara fatsoen politik, IAS sedang berkompetisi memperebutkan kepemimpinan Partai Demokrat Sulsel. Sehingga isu-isu bergabungnya IAS ke Demokrat, bisa merugikan IAS. Ini bisa saja di lihat sebagai isu yang dikemas oleh kompetitornya. (rif)
