Site icon Berita Kota Makassar

Seniman Sulbar Kritik Pembangunan Rumah Adat

MAMUJU, BKM — Seniman dan budayawan Sulbar Eka Ali Akbar mengkritisi langkah Pemprov Sulbar dalam hal pembangunan Rumah Adat Boyang Kayyang di Taman Budaya Buttu Ciping Tinambung Kabupaten Polewali Mandar.

Eka menjelaskan pembangunan Boyang Kayyang di Taman Budaya Buttu Ciping dinilai menarik. Hanya saja pembangunannya dilakukan saat pandemi. Selain itu pembangunan tidak mewakili setiap identitas suku dan budaya di Sulbar. Apalagi ditempatkan di Polewali Mandar dan ini terkorelasi sama Sureq Marasa.
“Seolah-olah Pemprov ini memaksakan Mandar sebagai suku untuk menjadi milik semua orang Sulbar padahal identitas kita kan berbeda-beda,” ujar Eka.

Keberadaan Taman Budaya menjadi ruang publik jelas Eka sangat strategis dan menghidupkan kegiatan seni budaya di daerah sekaligus menjadi wahana berekspresi bagi pegiat seni budaya dan masyarakat. Taman budaya sejatinya jendela bagi wisatawan untuk melihat keseluruhan budaya di daerah.
Masukan dari seniman dan budayawan harus jadi pertimbangan dalam rencana pembangunan taman budaya. Harus berorientasi pada penguatan ekonomi lewat seni dan budaya. Identitas bangunan idealnya mewakili setiap suku dan budaya yang ada di Sulbar.

”Viralnya pelarangan bagi ibu-ibu yang senang di Buttu Ciping akhir-akhir ini di Medsos harusnya tidak perlu terjadi,” tandas Eka.
Jika Pemprov ingin membangun rumah adat Boyang Kayyang di Buttu Ciping maka harus membangun rumah adat yang lainya seperti Banua Batang karena posisinya sama.
“Seandainya di Buttu Ciping sebagai Taman Budaya didalamnya semua identitas rumah adat Sulbar itu keren. Kayak Taman Mini misalnya, itu tidak masalah,” jelasnya.

Menurut Eka ada kebiasaan di Pemprov Sulbar yang menarik segala yang berbaur kebudayaan hanya melibatkan budayawan Polman, penulis Polman. Harusnya yang lain juga perlu diajak bicara dan didengarkan masukanya.
Seharusnya Mandar ini dijadikan sebagai kebersamaan seperti kehendak “sipamanda”, sebab mandar itu sikap,adab dan keteladanan,karna sejatinya di sulbar ini ibarat Indonesia mini yang didalamnya banyak suku dan budaya,ironinya adalah kita bertujuan mengenalkan Sulawesi barat tetapi diwakilkan oleh satu suku dan budaya.
Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar Prof .Gufran Darma Dirawan mengatakan masih ada 23 bangunan yang akan dibangun di atas Taman Budaya dan itu membutuhkan waktu yang lama.

“Ini belum apa-apa mereka sudah ribut. Jadi diatas nanti adalah taman budaya yang didalamnya ada perahu sandeq, serta semua budaya yang ada di Sulbar akan ada semua dari Pitu Ulunna Salu Pitu Babana Binanga,” jelasnya.
Terkait kajian yang tidak melibatkan budayawan daerah lain selain Polman Prof Gufran menilai untuk saat ini belum. Tapi kedepan semua budayawan akan terlibat karena di Buttu Ciping ini akan ada budaya dari Pitu Ulunna Salu Pitu Babana Binanga.

Soal larangan menaiki Boyang Kayyang itu hanya bersifat sementara hingga proses pembangunan selesai. ”Setelah penyerahan dari ketiga ke Dinas baru bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkapnya. (zul/C)

Exit mobile version