Site icon Berita Kota Makassar

Akibatkan Kemacetan d Poros Maros-Makassar

MAROS, BKM — Ratusan truk kendaraan pengangkut barang yang melalui Unit Pelayanan Penimbangan Kendaraan bermotor (UPPKB) Maccopa, Kabupaten Maros parkir di tepi jalan poros Makassar-Maros. Sopir truk menghindari masuk areal jembatan timbang. Akibatnya, kemacetan disepajan jalan kerap kali terjadi.

Basri Mahmud, salah seorang pengguna jalan kepada wartawan mengatakan, kemacetan yang terjadi di sepajang jalan poros Maros-Makassar akibat banyaknya supir truk yang parkir di tepi jalan. Mereka parkir ditepi jalan hanya karena takut kena sanksi tilang atau bongkar muatannya di dalam jembatan timbang.
”Truk yang merase lebih muatannya terpaksa parkir di tepi jalan. Karena takut kena sanksi petugas Dishub Jembatan Timbang,” ujar Basri Mahmud.

Akibatnya, kata Basi, masyarakat pengguna jalan lainya ikut resah karena jalanan telah macet disepanjan jalan poros Maros Makassar. Kejadian ini bukan hanya satu atau dua kali. Tapi hampir setiap hari Basri bersama pengguna jalan lainnya terjebak macet.
”Langganan macet itu kami rasakan jika sudah masuk wilayah Maros. Kejadian seperti ini seharusnya ada upaya pemerintah setempat mengatasinya agar kami masyarakat lainnya bisa bebas dari kemacetan. Truk yang parkir itu sudah jelas pelanggarannya. Muatannya pasti lebih. Dan truk yang sudah dimodifikasi bodinya pasti tidak miliki buku kir. Area tempat parkir juga sudah tidak benar dan hanya mengganggu kelancaran arus lalulintas,” kata Basri
Basri berharap, sebaiknya petugas gabungan dari Pol PP, Dishub dan Satlantas yang harus bertindak tegas memberikan sanksi tegas berupa tilang di tempat agar supir truk tidak seenaknya melangar aturan.
Sementara itu, Korsatpel UPPKB Maccopa, Andi Amir Naulir, kepada wartawan mengatakan, para sopir truk pengangkut barang yang diduga melebihi batas tonase, berasal dari arah Makassar menuju Maros,. Mereka memilih parkir ditepi jalan karena kapasitas muatanya lebih dari yang sebenarnya.

“Para sopir truk sengaja menghindari penindakan di Jembatan Timbang Maccopa. Sehingga mereka memilih parkir di tepi jalan sambil menunggu petugas jembatan timbang berhenti operasi,” ujar Andi Amir.
Ditambahkan Andi Amir, jembatan timbang dioperasikan sebagai alat pengawasan muatan angkutan barang, meliputi tata cara pemuatan, daya angkut, dan dimensi kendaraan.
”Untuk menertibkan supir truk yang biasa melakukan pelanggaran muatan, maka kami saat ini telah mengoperasikan 24 jam. Hal ini disebabkan banyaknya keluhan masyarakat di wilayah poros Bone-Maros akibat seringnya terjadi kecelakaan. Dimana truk mengalami rem blong, truk rusak ditengah hutan Camba, dan jalan banyak yang retak dan bolong akibat tonase kendaraan yang melintas tidak sesuai tonase kekuatan jalan. (ari/b)

Exit mobile version