KAMPANYE untuk mengurangi merokok di kalangan penggunanya terus dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh Komunitas Hasanuddin Contact. Prof Dr Alimin Maidin yang merupakan founder, menjelaskan tentang komunitas ini.
Hadir dalam podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Prof Alimin menyebut Hasanuddin Contact telah hadir sejak tahun 2019. Mantan dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin ini mengungkap awal mula komunitas ini hadir.
”Kita sama-sama punya impian bagaimana supaya orang-orang Makassar yang setiap hari ”membakar” uang Rp3 miliar bisa menguranginya, minimal 50 persen. Janganlah uang dibakar sia-sia dan mendatangkan penyakit pula,” ungkap Prof Alimin.
Orang yang dimaksud di sini adalah para perokok. Karena, lanjut Prof Alimin, menurut WHO, setiap batang rokok mengurangi umur 7-9 menit.
”Ini bukan teori. Teman-teman yang seumuran dengan saya dan mereka ahli hisap, sudah banyak yang meninggal. Bahkan ada teman usianya lebih muda 10 tahun dari saya, kena serangan jantung dan meninggal. Dia perokok,” ungkap Prof Alimin.
Bahkan, adik ipar Prof Alimin yang 15 tahun lebih muda darinya sempat terpapar covid-19. Walau sudah sembuh, namun kondisi paru-parunya cukup parah. Padahal sudah tiga tahun berhenti merokok.
Prof Alimin yang menggagas terbentuknya Hasanuddin Contact, sempat membahas cukup lama terkait pemberian nama. Bahkan sampai konsultasi ke teman-teman yang ada di luar negeri. Pada intinya komunitas ini bertujuan agar bagaimana bisa berkomunikasi sesama orang lain, khususnya yang terkait dengan kontrol terhadap rokok.
”Sudah 2,5 tahun kami eksis. Bahkan telah mendapat sponsor dari luar negeri untuk tobacco control. Anggotanya semua pekerja keras yang setia dan profesional. Sudah master dan dua doktor. professor baru satu,” terang Prof Alimin.
Ia juga membahas tentang perokok pasif yang juga cenderung berisiko terpapar penyakit. Ia kemudian mencontohkan ibu-ibu dan anak-anak yang lebih banyak tinggal di rumah, cukup berisiko bila suami dan ayah mereka adalah perokok. Sebab racun dari rokok yang menempel di dinding akan dihisap oleh mereka, hingga pada akhirnya memicu terjadinya kanker serta penyakit lainnya. ”Apalagi kalau perokok pasif, dua kali lebih berisiko,” ucapnya.
Begitu pula dengan mereka yang suka menghisap rokok elektrik. Menurut Prof Alimin, penelitian membuktikan bahwa elektrik itu ada yang tetiba meninggal ketika tengah menikmati rokoknya. Hal itu disebabkan dalam rokok elektrik terdapat zat-zat kimia yang didampurkan di dalamnya. Sehingga bila tidak cocok, sangat berisiko menyebabkan kematian mendadak.
Prof Alimin menegaskan, merokok tidak dilarang. Tapi jangan sampai meracuni orang lain. ”Hak anda merokok, dan hak orang lain menghisap ucara yang bersih. Jadi sangat tidak bijaksana kalau merokok di sembarang tempat,” imbuhnya. (*/rus)
