BONE, BKM — Sabtu malam (8/10). Suasana tampak ramai di kompleks BTN Bone Tiga Permai, Kabupaten Bone. Banyak orang yang berkumpul di depan sebuah rumah. Ada pula mobil polisi yang parkir.
Di dalam rumah tampak beberapa personel kepolisian. Mereka mengamati sesosok tubuh lelaki yang hanya mengenakan celan panjang jins warna hitam tanpa memakai baju. Lehernya terlilit seutas kain warna pink. Dipasang di lubang udara kamar di atas kusen pintu.
Belakangan, pria yang sudah tak bernyawa itu diketahui bernama Suardi alias Adding. Berusia 35 tahun. Warga Dusun Sewang, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone. Ia diduga bunuh diri akibat mengalami depresi berat.
Mayat Adding pertama kali ditemukan salah seorang keluarganya bernama Sabri. Saat ditemui, Sabri menceritakan kronologis kejadian.
Berawal dari kepergian Adding yang meninggalkan rumahnya semenjak tiga hari lalu. Ia meninggalkan idistrinya di kampung lalu menuju Kota Watampone. Adding menginap di rumah adik iparnya di BTN Bone Tiga Permai.
Dua malam setelah Adding meninggalkan rumah, Sabri dihubungi oleh istri Adding. Ia mencari keberadaan suaminya. Menurut sang istri, seperti disampaikan ke Sabri, suaminya terlihat gelisah dalam beberapa hari terakhir.
“Kemarin itu saya ditelepon istrinya untuk mencari suaminya. Istrinya bilang bahwa korban sepertinya sedang punya yang dialami. Namun tidak mau mengungkapkan lebih jelas. Cuma infonya, katanya ditipu. Cuma saya tidak tahu ditipu bagaimana,” ungkap Sabri.
Saat ditelepon oleh istri korban, Sabri mengaku sedang berada di Kabupaten Soppeng. Keesokan harinya dia langsung pulang untuk mencari keberadaan Adding. Sabri yang memang sudah mengetahui di mana korban sering menginap, langsung mendatanginya.
“Saat saya mendatangi rumah iparnya, saya gedor-gedor pintu rumah karena terkunci dari dalam. Tapi tidak ada respons. Kemudian saya tanya ke tetangga, katanya dia sempat terlihat dan saat ditegur dia tidak merespons,” tambah Sabri
Setelah mencari informasi ke tetangga korban, Sabri pun menuju ke rumah bagian belakang dan mengintip melalui kaca jendela. Di situlah Sabri melihat korban berdiri depan pintu kamar dengan posisi tergantung seutas kain. Tanpa menungga waktu lama, Sabri kemudian berlari kembali ke pintu depan dan langsung mendobrak pintu rumah.
“Ketika saya masuk dalam rumah, awalnya saya ingin menolong. Siapa tahu masih bisa diselamatkan. Tapi saya melihat lidahnya sudah menjulur keluar, sehingga saya tidak jadi menolongnya. Saya langsung menghubungi istrinya dan juga melaporkannya ke polisi,” terang Sabri.
Aparat Polsek Tanete Riattang yang mendapatkan laporan tersebut langsung menuju ke lokasi kejadian. Setibanya di TKP, polisi langsung berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Bone untuk dilakukan identifikasi. Tidak lama berselang tim Inafis pun tiba.
“Dari hasil olah TKP dan identifikasi sementara, korban ini murni diduga bunuh diri. Ada tiga cara yang digunakan, yaitu korban diduga minum racun serangga, kemudian korban sengaja menyetrum dirinya, dan juga gantung diri,” jelas Kapolsek Tante Riattang AKP A Ikbal.
Dugaan itu diperkuat dengan sejumlah barang bukti yang ditemukan dekat korban. Masing-masing botol racun serangga, kabel listrik yang terlilit pada jari-jari kaki korban dan di dekatnya ada aliran listrik (stop kontak).
“Untuk sementara korban diduga bunuh diri. Mayatnya sudah dievakuasi ke RSUD Bone. Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan pihak keluarga apakah mereka setuju jenazah almarhum diautopsi atau tidak,” kata AKP Ikbal.
Sementara menurut keterangan tetangga, korban dikenal pendiam. Dia hanya sesekali datang ke adik iparnya di kompleks perumahan ini.
“Paginya saya sempat ketemu (dengan korban). Cuma saat saya tegur dia memang sudah tidak merespons dan masuk ke dalam rumah. Orangnya memang agak pendiam,” kata Cimmang, tetangga korban. (man/b)
