Site icon Berita Kota Makassar

Menghidupkan Gairah Mencintai Lingkungan, Galang Millenial

MEMBAHAS tentang lingkungan hidup dengan segala permasalahannya tidak akan pernah ada habisnya. Karena itu, dibutuhkan gerakan serta program yang berkesinambungan guna mengatasi persoalan yang muncul. Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Sulawesi Selatan berusaha mengambil bagian di dalamnya.

HADIR dalam siniar (podcast) Berita Kota Makassar, Ketua FPL Sulsel Riswansah Muchsin menjelaskan apa yang telah dilaksanakan selama ini ada program yang akan dilakukan ke depan. Termasuk tentang pelibatan kaum millenial dalam upaya menghidupkan kembali gairah mencintai lingkungan.
FPL yang berdiri tahun 2006 memiliki semangat bagaimana mengadvokasi lingkungan. Seperti adanya perambahan hutan, penambangan pasir secara ilegal, serta praktik-praktik lain yang bisa menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar.

”Awalnya teman-teman pecinta alam dan kelompok mahasiswa pecinta alam melakukasi advokasi besar-besaran dalam sebuah kasus di kaki Gunung Bawakaraeng. Saat itu ada seorang oknum TNI mengklaim daerah tersebut sebagai miliknya. Padahal daerah tersebut masuk konservasi hutan,” beber Ciwang, sapaan akrab Riswansah Muchsin.
Pria yang juga komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel ini menyebut, upaya advokasi ketika itu sampai ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). ”Pada saat itu kami sedang semangatnya untuk memperjuangkan agar kawasan tersebut tidak dikuasai oknum. Kenapa diperjuangkan? Karena dalam catatan FPL dan pemerintah setempat, daerah tersebut masuk kawasan hutan lindung. Tidak boleh dikuasai oleh masyarakat. Apalagi oknum tertentu,” tandasnya.

Perjuangan itu pun berbuah hasil. Upaya advokasi akhirnya menang sampai di tahap pengadilan. ”Ketika itu semangat teman-teman tidak kendor. Mereka tidak bubar. Malah justru dilanjutkan untuk menjadikan FPL sebagai lembaga yang diharapkan bisa mengadvokasi semua permasalahan lingkungan di Sulsel,” jelas Ciwang.
Selain itu, FPL terus mendorong upaya untuk menghidupkan kembali gairah mencintai lingkungan. Termasuk membantu pemerintah daerah dalam menggiatkan tempat wisata baru. ”Bila ada lokasi wisata yang ditemukan, itu kemudian dieksplor lalu sampai ke pemerintah dan dijadikan tempat wisata. Tentu FPL tetap mengedapkan edukasi untuk mencintai lingkungan,” tambah Ciwang.
Forum ini juga bergerak di wilayah Kota Makassar. Membantu pemerintah kota terkait penanganan sampah. Beberapa tim FPL telah diturunkan ke daerah yang tergolong kumuh, seperti di tempat pembuangan akhir sampah Antang, Kecamatan Manggala. Termasuk bekerja sama dengan Bank Sampah untuk pengelolaannya.
Kepada anggotanya, FPL membekali mereka dengan teknik menulis tentang hutan dan lingkungan. Hal itu dinilai penting dan dibutuhkan ketika mendapati praktik perusakan lingkungan. Sehingga langkah-langkah yang diambil nantinya tidak secara sporadis. Masyarakat desa diedukasi melalui tulisan tersebut, lalu dijalin kerja sama guna meminimalisasi praktik perambahan hutan.

”Jika ada praktik perambahan hutan yang ditemukan, FPL tidak turun sendirian. Melainkan bersama pemerintah setempat, memberikan edukasi kepada masyarakat. Ada beberapa di antaranya yang berhasil. Sebagian lagi ditolak oleh masyarakat. Penyebabnya, karena itu sudah menjadi mata pencaharian mereka selamaini,” jelasnya.
Sebuah program yang setiap tahun dilaksanakan oleh FPL adalah Lintas Merah Putih. Melalui kegiatan ini, semua elemen diajak untuk bersama-sama melihat kondisi serta dampak yang terjadi bila ada pembalakan dan perusakan lingkungan. Termasuk perilaku yang kerap membuang sampah secara sembarangan.
”Terakhir kami lakukan program Lintas Merah Putih, bersama seluruh kelompok pecinta alam dan beberapa elemen dari pemerintah yang jumlahnya kurang lebih 2.000 orang, membawa turun sampah tiga kontainer dari atas Gunung Bawakaraeng dan Lompobattang,” jelas Ciwang.

FPL juga menggalang generasi millenial untuk turut mencintai lingkungan. Hal itu dibuktikan dengan 80 persen anggota forum ini adalah millenial. Mereka memiliki hobi naik gunung, camping, serta mengunjungi alam terbuka. Ciwang bahkan menyebut millenial menjadi skala prioritas untuk diajak bergabung guna mengedukasi masyarakat sekitarnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. (*/rus)

Exit mobile version