TAKALAR, BKM.COM-Sejumlah bakal calon (balon) kepala desa yang dinyatakan gagal ikut sebagai kontestan pemilihan kepala desa (pilkades), oleh pihak panitia pemilihan kepala desa (P2KD) kabupaten Takalar menggelar aksi unjuk rasa.
Bahkan balon kades yang tidak terima dirinya harus terpental dipesta pilkades serentak 17 November mendatang, menurunkan ratusan massa. Mereka menuntut tahapan pilkades serentak dihentikan dengan dalih adanya dugaan pelanggaran yang dilakukam oleh pihak P2KD kabupaten.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, Tak hanya P2KD kabupaten yang mendapat sasaran kekecewaan dari sejumlah Jendral lapangan aksi, tetapi IPDN Makasar yang tampil sebagai penguji dalam pelaksanaan test tertulis terhadap 92 peserta balon kades juga mendapat kritikan tajam dari pihak demonstran.
” Disinilah, eksistensi, integritas IPDN dipertaruhkan. Dan kami menilai IPDN juga telah kehilangan integritas dan kredibilitasnya sebagai tim seleksi pilkades serentak terhadap balon kades yang telah digugurkan,” Jelas Asman Surya Putra, Jendral lapangan aksi, Senin (18/10/2021).
Dalam orasinya, Asman beserta sejumlah orator lainnya juga mendesak IPDN dan panitia pilkades serentak kabupaten untuk membuka secara transparan kepublik hasil skor para bakal calon kepala desa, khususnya pada 13 desa yang telah mengikuti test tertulis yang telah dilaksanakan baru baru ini.
” Kami minta panitia pilkades kabupaten untuk membuka kepublik hasil ujian tertulis, ini kami minta sebagai bentuk bahwa azas transparansi berlaku didaerah ini,” Teriak orator lainnya.
Setelah menggelar aksi unjuk rasa beberapa menit didepan kantor Bupati Takalar, pengunjuk rasa beringsut kedepan kantor dinas sosial dan pemdes kabupaten Takalar menyeruakan aspirasinya.
” Karena kami menilai telah terjadi kecurangan dalam proses seleksi balon kades, kami meminta kadis sosial dan pemdes dicopot dari jabatannya karena telah gagal mengawal proses ini dengan baik,” Kata Asman. (Ari)
