Site icon Berita Kota Makassar

Dua Kali Dorong Ambulance Mogok

SEJAK Covid-19 merebak dan menjadi pandemi pada Januari 2020, seluruh wilayah baik kabupaten kota di Sulawesi Selatan waspada. Kewaspadaan makin ditingkatkan manakala Covid-19 naik menjadi level empat (di Makassar) dan level tiga di Kabupaten Gowa.

LAPORAN: SARIBULANG

Salah satu sosok yang paling sibuk di Gowa di masa pandemi ini adalah dr Gaffar. Hanya saja, dia selalu bersyukur sebab hanya sekali dia sempat terpapar saat itu dan setelah itu kewaspadaannya lebih tinggi lagi. Namun tetap menjalankan tugas sebagai Satgas.
”Pada saat puncak-puncaknya kasus Covid, terutama awal-awal pandemi dan gelombang kedua, saya sampaikan ke ibu di rumah, sepertinya masyarakat tidak perlu tau kondisi saya. Disaat saya isolasi mandiri dan bergejala saya perlu ‘hadir’ melayani warga yang membutuhkan semaksimal mungkin. Padahal pada saat itu saya belum dapat tidur di malam hari, atau kondisi saya lagi bergejala atau kurang sehat,. Tapi itulah risiko dari tanggung jawab moril saya selaku dokter yang menjadi satgas. Disaat saya lemah, saya tetap melayani dan mengawal masyarakat sampai ada solusi dari setiap permintaan layanan maupun pengawalan terutama terkait pengawal penegakan kasus dan jenazah Covid,” papar Gaffar.

Apalagi diakuinya, dukungan sarana dan prasarana terutama dalam mendukung proses layanan yang ada, tidak semua langsung tersedia.
”Namun semua itu saya anggap adalah tantangan dalam proses layanan. Dan Alhamdulillah, solusi selalu saja ada. Selalu ada solusi di setiap persoalan yang ada. Saya tidak pernah lupa, saya senantiasa minta perlindungan dan pertolongan dari Allah Swt,” kata Gaffar.
Dia pun teringat ketika disaat puncak-puncak penyebaran Covid-19, dia harus mendorong sendiri mobil ambulance. Baginya ini adalah pengalaman sangat berarti. Apalagi mendorong dengan mengenakan baju APD lengkap.
”Saya mendorong ambulance dua kali. Satu kali saat dari rumah sakit di Makassar menuju pemakaman di Gowa dan satu kali juga saat membawa pasien Covid kritis dari Gowa ke Makassar. Betul-betul kenangan dan ini sejarah bagi saya. Sejarah tentang pandemi Covid dan sejarah tentang banyak hal yang terjadi yang saya lakukan di luar dugaan, di luar ekspektasi. Ini semua hikmah hidup,” kenangnya.
Sebagai kepala keluarga tentu kekuatiran terhadap keselamatan anak istri selalu ada. Sehingga meski berjauhan, setiap saat ada waktu senggang, Gaffar berkomunikasi kepada istri dan anak untuk mengecek kondisinya.
”Saya tanyakan kondisi, apa reaktif atau tidak. Dan Alhamdulillah, istri saya dan anak-anak saya selalu dilindungi. Jadi saya intens komunikasi ke mereka untuk mengetahui kondisi mereka,” kata Gaffar.
Baginya masa pandemi ini adalah pengalaman bersejarah baginya, penuh tantangan menghadapi tangisan bahkan histeris keluarga yang terpapar Covid-19.

”Dari perjalanan pandemi ini, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan disamping ilmu kedokteran saya betul-betul tertantang dengan kondisi sosial masyarakat yang menjadi korban Covid. Kita tidak tau sampai kapan pandemi ini mewabah. Karena itu sebagai manusia saya ingatkan kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada sebab Covid tidak hanya meruntuhkan ekonomi, meruntuhkan keimanan tapi juga membuat derita yang mendalam jika kita kehilangan anggota keluarga. Mari kita disiplin menggunakan masker, disiplin menjalankan prokes dan mari kita vaksin agar kita punya antibodi yang kuat untuk menolak virus Corona ini,” kata Gaffar mengingatkan. (*)

Exit mobile version