RUMAH Makan (RM) Ayam Kampung Tolak Pinggang Daeng Kio saat ini tengah menjadi perbincangan, khususnya di dunia maya. Salah satu penyebabnya, karena di sini disediakan menu khusus yang tidak ada di rumah makan lainnya. Yakni ayam tolak pinggang (tolping) serta pallu sattulu.
TIM Youtube Berita Kota Makassar mengunjungi tempat yang berlokasi di jalan poros Limbung, Kabupaten Gowa. Bertemu langsung dengan Adi Saputra Daeng Kio selaku pemilik. Ternyata, nama rumah makan ini diambil dari nama sang owner.
Adi Saputra yang kini berusia 35 tahun, mengawali usahanya di tahun 2018. Artinya, RM Ayam Kampung Tolping di Limbung ini sudah beroperasi selama empat tahun.
”Awal buka dulu tempatnya di sebelah. Baru tahun ini pindah ke sini. Usianya sama dengan pernikahan kami. Usaha rumah makan kami buka ketika baru menikah,” ujar Daeng Kio dalam video yang telah tayang di kanak Youtube Berita Kota Makassar. .
Menggeluti usaha kuliner dengan menyajikan citarasa khas, menjadikan RM Ayam Kampung Tolping Dg Kio kian dikenal masyarakat. Memiliki karyawan sebanyak 14 orang, tempat ini bisa memasak
50-80 liter nasi setiap hari. Sementara ayam kampung yang dihabiskan sebanyak 200 ekor. ”Itu kalau hari-hari biasa. Tapi kalau weekend bisa mencapai 300-400 ekor dalam sehari,” sebut Dg Kio.
Lalu dari mana mendapatkan pasokan ayam kampung? Dg Kio bilang, bahan baku ia datangkan dari seluruh daerah di Sulawesi Selatan. Itupun terkadang masih belum bisa memenuhi permintaan pasokannya.
Ada rahasia yang membuat ayam tolping Dg Kio digemari pelanggan. Yakni sambelnya yang diklaim hanya ada di tempat ini.
Selain ayam kampung tolping, tempat ini juga menyajikan menu khusus bernama pallu sattulu. Juga menjadi satu-satunya di Sulsel. Ada yang versi daging ayam, ada pula bebek.
Untuk satu ekor ayam kampung tolping Dg Kio, pengunjung membayar Rp60 ribu. Bagi Anda yang tidak bisa datang langsung, rumah makan ini juga melayani pesan antar. Ada dua kurir yang siap mengantarkan pesanan.
Seiring dengan perkembangan usaha dan meningkatnya pelanggan, Dg Kio telah berencana untuk membuka cabang di daerah lain. Hanya saja itu masih merahasiakan tempatnya.
”Saya bersyukur karena tempat ini sudah semakin banyak yang kenal. Saya bisa membantu warga sekitar yang dulunya pengangguran, sekarang menjadi karyawan di sini,” ujar Dg Kio ketika ditanya tentang hal baik dari tempat usahanya.
Memilih nama ayam kampung tolak pinggang sebagai jenis usaha, diakui Dg Kio karena unik. Menurutnya, orang-orang sekarang ini memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar terhadap sesuatu yang unik.
Karena nama itu pula, ayam panggang yang disajikan berbeda di tempat lain. Di sini ayam tidak dipotong-potong, melainkan utuh. Selain itu, satu ekor yang telah dibelah kemudian dimodel seperti sedang bertolak pinggang. (*/rus)
