Site icon Berita Kota Makassar

11 OPD Gelar Rakor Aksi Penguatan Sistem

BELOPA, BKM — Sebanyak 11 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Luwu menggelar Rakor dalam rangka pelaksanaan rencana aksi enam penguatan sistem managemen data sebagai langkah percepatan pencegahan dan penurunan stunting terintegrasi di Kabupaten Luwu di Hotel Borneo Belopa, Senin (18/10).

Rakor dibuka oleh Kepala Bappelitbagda, Achmad Awwabin. Menurut Awwabin sebelumnya, telah digelar beberapa kegiatan diantaranya Aksi pertama ditetapkan 34 lokus untuk tahun 2021 dan 35 lokus tahun 2022 dengan menentukan jumlah kasus prevalensi stunting berdasarkan hasil analisis situasi. ”Aksi dua menetapkan rencana program, kegiatan dan anggaran pencegahan dan penurunan stunting berdasarkan APBD Kabupaten Luwu dan alokasi anggaran lain-lain yang sah sesuai peraturan perundang-undangan,” jelasnya. Pada aksi tiga, dilakukan Rembuk Stunting yang menghasilkan masukan dan saran dari berbagai pemangku kepentingan terhadap cakupan intervensi stunting yang akan dilakukan pada tahun berjalan maupun tahun rencana. Sedangkan pada aksi empat dilakukan penyusunan Perbup Nomor 15 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Di Desa, dan telah dilakukan sosialisasi Perbub tersebut ke seluruh pemangku kepentingan terutama pemerintah desa. Kemudian dilakukan aksi lima, yaitu pembinaan Kader Pembangunan Manusia (KPM)

“Aksi enam merupakan penyusunan sistem manajemen data intervensi penurunan stunting sebagai langkah pengelolaan data di tingkat Kabupaten sampai dengan tingkat desa yang akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi dan digunakan untuk membantu pengelolaan program kegiatan pencegahan dan penurunan stunting,” jelasnya.
Sementara Plt Kadis Kesehatan, dr Rosnawary Basir mengatakan data terkait dengan intervensi stunting, baik intervensi gizi spesifik (kegiatan yang pada umumnya dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan), maupun intervensi gizi sensitif (kegiatan dari OPD lain yang memiliki kontribusi sebesar 70 persen dalam mencegah terjadinya stunting), keduanya memerlukan sistem manajemen data dalam rangka mendukung pelaksanaan dan pengelolaan program atau kegiatan pencegahan stunting tersebut.
Dia berharap, dengan kegiatan penguatan sistem manajemen data ini, bisa memenuhi kebutuhan data 20 indikator tersebut untuk pemantauan dan evaluasi dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Luwu. (*)

Exit mobile version