MAKASSAR, BKM — Sejumlah elit partai politik di Sulsel semakin intens melakukan pertemuan dan komunikasi. Termasuk dengan tokoh yang bukan berasal dari partai politik.
Apakah pertemuan para elit parpol ini bicara untuk membangun koalisi, atau bahkan menyerempet soal adanya niat untuk menjegal peluang para bakal calon yang bukan dari parpol? Wakil Ketua Kajian Strategis dan Kebijakan Publik DPD I Golkar Sulsel Herman Hezer memberikan gambaran soal pertemuan sejumlah elit parpol.
Menurut Herman, silaturahmi para ketua parpol di Sulsel sangat wajar dan normatif karena mereka adalah kolega dan saling bersahabat. Di setiap saat, setiap even mereka selalu bertemu dan membicarakan bagaimana memajukan Sulawesi Selatan.
“Tentu ada pembicaraan politik, ada diskusi. Tapi untuk kemudian ada barter rekomendasi dan terkait dengan pencalonan gubernur, bupati, wali kota, saya kira itu terjalu jauh dan masih terlalu dini karena pilkada itu november 2024. Kalaupun ada pembicaraan, saya kira sifatnya itu baru awal dan sangat tidak mengikat. Tarikannya itu masih sangat dinamis,” jelas Herman Hezer, Kamis (21/10).
Untuk itu, situasi saat ini kita bisa membacanya sebagai silaturahmi yang biasa. Tidak ada keputusan atau kesepakatan yang diambil.
Apakah pertemuan elit bisa menutup peluang calon gubernur dan calon bupati yang bukan dari partai politik? Herman kembali mengemukakan bila tentu partai politik itu sangat berhitung, terutama dengan peluang kemenangan dari seorang calon. “Saya rasa bisa kita tarik seperti itu, karena keputusan pasti akan diambil menjelang penetapan calon, sehingga belum bisa dikatakan menutup peluang calon non parpol,” jelasnya.
Sekretaris DPD Partai Gerindara Sulsel, Darmawangsyah Muin yang dikonfirmasi soal pertemuan Andi Iwan dengan elit partai lain, membenarkan bila keduanya bicara politik ke depan.
“Saya kira pertemuan para elit parpol itu suatu hal yang lumrah. Masalah apa yang dibicarakan tentu tidak jauh dari perkembangan politik, utamanya di Sulsel,” ujar Darmawangsyah Muin, kemarin.
Adapun anggapan bahwa itu wacana untuk menghalangi beberapa calon gubernur, wakil ketua DPRD Sulsel ini menepisnya. “Saya kira tidak, karena hakikatnya parpol bertujuan menciptakan pemimpin terbaik untuk negara maupun daerah,” kata bakal calon bupati Gowa ini.
Seperti diketahui, jelang pilgub Sulsel, para parpol dan elitnya semakin intens membangun komunikasi agar dirinya bisa maju dan mendapat dukungan partai koalisi. Hal ini karena sudah ada lima partai politik yang mengelus jagoannya dan rerata adalah ketua partai tingkat Provinsi Sulsel.
Partai Golkar yang saat ini mengontrol 13 kursi di DPRD Sulsel sejak awal mengajukan nama Taufan Pawe (TP) sebagai bakal calon gubernur. Meski demikian, ada juga kader partai beringin rindang yang menginginkan kader lain maju di pilgub nantinya. Seperti Ketua Golkar Sulsel Nurdin Halid (NH), Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, Bupati Bone Andi Fahsar M Padjalangi hingga Bupati Soppeng Andi Kaswadi.
Sementara itu, Partai Nasdem yang mengontrol 12 kursi juga telah menyiapkan sang ketua, yakni Rusdi Masse (RMS) agar bisa ikut bersaing. Pada Rakorwil Nasdem bulan lalu, ketua DPP Partai Nasdem mempersilahkan RMS agar maju di pilgub Sulsel.
Adapun Partai Gerindra kini semakin gencar membangun komunikasi usai Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani meminta agar Andi Iwan Darmawan Aras siap-siap untuk maju di pilgub mendatang. Ahmad Muzani yakin dengan suara Gerindra di Sulsel, setelah melihat hasil pilpres yang lalu. Ketika itu perolehan suara Prabowo Subianto unggul dari Joko Widodo.
Andi Iwan yang juga anggota DPR RI dua periode baru saja bertemu dengan Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi. Pertemuan keduanya diduga ingin membangun ‘Koalisi Selaras’.
Sebelumnya, Andi Iwan yang juga wakil ketua Komisi V DPR RI ini bertemu dengan RMS dan ketua parpol lainnya.
Hal berbeda dialami oleh Partai Demokrat. Ketua Umum DPP Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sejak awam meminta agar semua pengurus dan kader tak usah dulu bicara pilpres, apalagi pilgub. Ia mewanti-wanti agar semua pengurus dan kader fokus membantu warga dalam menekan pertumbuhan covid-19 serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal ini membuat salah satu tokoh Demokrat, yakni Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang sejak awal menyatakan kesiapannya untuk maju di pilgub terganggu, karena langkah awal ingin mimimpin Demokrat Sulsel melalui musda November mendatang jadwalnya belum turun dari DPP.
Pemerhati politik dari Nurani Strategic Dr Nurmal Idrus mengemukakan bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan hanyalah penjajakan awal. Sebab seperti kita ketahui sistem penentuan calon kepala daerah sangat sentralistik. Penentuannya ada di Jakarta, bukan di daerah.
“Tak ada jaminan bagi siapapun untuk diusung sebagai kepala daerah, meski itu dia adalah ketua partai tingkat provinsi. Faktanya, selama ini meski seorang figur tak punya parpol tetap berpeluang untuk diusung sebagai calon,” jelas Nurmal, kemarin.
Dosen Komunikasi politik UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad juga mengomentari calon yang berasal dari Kabupaten Bone berpotensi memiliki basis kuat untuk menangkan pilgub. Firdaus beralasan bila salah satu faktor yakni jumlah pemilihnya cukup besar dan memiliki kecenderungan pada putra daerah. Problemnya, sejumlah tokoh asal Bone berebut suara. Tentu saja bupati yang menjabat memiliki kedekatan pada masyarakat Bone. (rif)
