Site icon Berita Kota Makassar

Tenaga Medis Palsukan 179 Sertifikat Vaksin

MAKASSAR, BKM — Seorang mantan perawat di Puskesmas Paccerakkang, Daya, Kecamatan Biringkanaya berinisial FT dibekuk aparat Polrestabes Makassar. Tenaga medis perempuan ini diringkus bersama seorang rekannya GD karena diduga telah membuat, menjual, dan menyebarkan kartu atau sertifikat vaksin covid-19 palsu. Setiap lembar sertifikat vaksin palsu dijual seharga Rp50 ribu.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengaku pihaknyalah yang melaporkan persoalan itu ke aparat kepolisian. Orang nomor satu Makassar itu memaparkan, tindakan pelaku ketahuan pada saat dirinya menginstruksikan audit terhadap penggunaan vaksin di seluruh puskesmas.
“Jadi sayaji yang lapor itu, karena waktu saya suruh audit semua vaksinasi ditemukan di salah satu puskesmas kenapa tiba-tiba antara laporan orang yang sudah divaksin dengan vaksinnya berbeda. Maka diselidikilah,” ungkap Danny saat ditemui di kediaman pribadinya Jalan Amirullah, Senin (25/10).
Secara khusus, Danny memanggil kepala Puskesmas Paccerakkang untuk dimintai penjelasannya. Namun kepala puskesmas mengaku tidak tahu menahu terkait persoalan tersebut.
“Kapusnya bilang tidak tahu. Karena itu kita langsung lapor ke polisi. Jadi saya peringatkan, jangan main-main. Tentu saja sanksi pidana menunggu pelaku karena sudah memalsukan sertifikat vaksin,” ungkap Danny.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Makassar dr Nursaidah Sirajuddin mengatakan, pihaknya setiap bulan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) dengan Inspektorat dan BPK terkait pelaksanaan vaksinasi. Monev dilaksanakan guna mengetahui kesesuaian antara logistik dan aplikasi Peduli Lindungi.
“Ternyata kita dapat di bulan September, di Puskesmas Paccerakkang, tidak sesuai dengan logistik yang kami keluarkan, yang kami alokasikan dengan data yang ada di Peduli Lindungi. Terlalu jauh rangenya, 179. Makanya kami langsung mencari tahu,” kata wanita yang akrab disapa dr Ida ini.

Selanjutnya dia melaporkan persoalan tersebut ke wali kota Makassar. Pihaknya kemudian diperintahkan untuk mengumpulkan seluruh staf, termasuk kepala Puskesmas Paccerakkang untuk menyelidiki.
“Ternyata tidak ada pengakuan. Rupanya memang, karena bukan tenaga kesehatan yang bekerja di dalam puskesmas. Karena ini anak sudah keluar dari puskesmas Paccerakkang. Dia bekerja di RS Daya saat ini,” kata dr Ida.
Dia pun berasumsi mungkin pada saat pelaksanaan vaksinasi massal, si pelaku dimintai bantuan untuk mengakses orang-orang yang sudah vaksin ke akun Peduli Lindungi. “Di situ mungkin dia ingat, akhirnya dia bisa masuk dalam aplikasi tersebut,” jelasnya.
Penyelidikan terus dilanjutkan, hingga akhirnya ditemukan seorang warga yang tidak pernah vaksin namun mendapatkan kartu vaksin. Diapun menjelaskan caranya mendapatkan kartu vaksin tersebut.
“Kita terus dalami, akhirnya saya menghadap wali kota untuk ditindaklanjuti ke polrestabes. Jadi orang-orang yang tidak mau divaksin tapi mau dapat kartu vaksin. Kita sudah dapat pelakunya, nomor telepon 179 orang itu ada pada mereka,” terangnya.

Mengaku Apoteker

Jajaran Polrestabes Makassar merilis kasus ini, Senin (25/10). Wakasat Reskrim AKP Jupri Natsir bersama Kasi Humas AKP Lando memberi penjelasan kepada wartawan. Hadir pula Plt Kadis Kesehatan Makassar dr Nursaidah Sirajuddin.

Menurut AKP Jupri Natsir, penangkapan terhadap FT dan GD dilakukan pada hari Minggu (24/10). Ia diduga memalsukan 179 lembar sertifikat vaksin pada Juli 2021, yang diperuntukkan bagi warga di wilayah Kecamatan Biringkanaya.
Pengungkapan kasus ini dilakukan setelah pihak Dinkes melapor ke polrestabes. Aduan itu kemudian ditindaklanjuti aparat dengan melakukan penyelidikan di lapangan. Akhirnya FT dan GD berhasil diringkus di daerah Biringkanaya.
Di depan penyidik, mereka mengakui perbuatannya. Dalam aksinya, FT dan GD mengaku sebagai apoteker. Mereka mencari warga yang belum divaksin, lalu ditawari untuk mendapatkan kartu vaksin walau belum menjalani vaksinasi. Berbekal kartu keluarga (KK) dan KTP, sertifikat vaksin mereka pun jadi.
Dijelaskan dr Nursaidah, FT yang tercatat sebagai tenaga honorer di puskesmas ketika itu mengikuti kegiatan vaksinasi gratis di Puskesmas Paccerakang. Setelah itu ia tidak lagi menjadi honorer. Dari sinilah kemudian FT mengajak seorang rekannya berinisial GD untuk melancarkan aksinya. (rhm-jul)

Exit mobile version