MALILI, BKM — Dinkes Kabupaten Luwu Timur menggelar monitoring dan evaluasi (monev) terkait program pengendalian penyakit rabies di Ruang Media Center Dinas Kominfo, Selasa (26/10).
Monev dipimpin Asisten Perekonomian dan Pengembangan Infrastruktur, Senfry Oktavianus. Menurut Senfry pentingnya pertemuan ini tidak bisa satu pihak satu dinas yang melakukan kegiatan ini perlu adanya link yang kuat, ada sinergitas, kolaborasi, dan kerjasama yang baik diantara semua pihak sehingga pengenalan sangat efektif. Karena persoalan rabies ini juga ditularkan melalui gigitan hewan baik yang dipelihara maupun tidak dipelihara.
Kadis Kesehatan Lutim. dr. Rosmini Pandin mengungkapkan meningkatnya jumlah rabies atau gigitan anjing di Kabupaten Luwu Timur membuat Dinkes melakukan launcing Rabies Center di Tomoni Timur. Gigitan hewan peliharaan dari tahun ketahun cukup meningkat dari tahun 2014 sebanyak 407 kasus, terus meningkat lagi ditahun 2020 sebanyak 692 kasus dan di tahun 2021 ini tidak mengalami peningkatan, berdasarkan data dari bulan September sampai pada Oktober sebanyak 439 kasus gigitan.
“Untuk gigitan anjing pada tahun ini, bisa dilihat di tahun 2020-2021 ini jumlahnya 439. Kita berharap di Desember tidak kita dapatkan lagi kasus gigitan, atau paling tidak drafnya menurun,” tambahnya.
Salah satu wilayah yang mengalami peningkatan jumlah kasus rabies atau gigitan anjing paling banyak adalah Tomoni Timur dan diikuti oleh Mangkutana. Tahun lalu, di 2020 di dapatkan 2 (dua) yang mengalami rabies yang berada di Tomoni Timur dan satunya lagi berada di Mangkutana.
“Kita lihat angka-angka dari Puskesmas maupun dari kecamatan, wilayah Tomoni Timur sebanyak 58 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), Mangkutana 56 kasus GHPR, Angkona mencapai angka 48 kasus, Wowundula 46 kasus bersama dengan Burau dan mari kita melihat perdesanya masing-masing,” kata Rosmini Pandin.
GHPR berdasarkan jenis kelamin, terbanyak pada umur 20-45 tahun, baik dari tim Dinkes maupun puskesmas sudah melakukan pengecekan di lapangan tekait rabies tersebut. Berdasarkan jenis HPR, kucing mencapai 130,30 persen, anjing 308,70 persen, dan kera mencapai 1 persen.
“Diharapkan kegiatan ini tentunya menghindarkan masyarakat dari kejadian rabies,” tutupnya. (rls)
