MAKASSAR, BKM — Alumni Unhas yang selama ini dikenal cukup vokal, Mulawarman menjadi salah seorang yang menentang jika Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Alumni (IKA) Unhas digelar di Jakarta.
Dia mengatakan, sesungguhnya mubes tersebut lebih tepat dilaksanakan di Makassar.
“Banyak untungnya kalau di Makassar dibanding Jakarta,” kata Mulawarman saat dihubungi, Senin (1/11).
Keuntungan yang dimaksud adalah
memberi kepercayaan kepada orang luar, bahwa Sulsel atau Makassar sudah aman dari covid. Sudah normal dan pulih sehingga sudah bisa datang kembali berbisnis, berinvestasi, serta berwisata di Sulsel. Hal itu akan memberi dampak. Ekonomi Sulsel bisa tumbuh dan bisa hidup kembali.
Selanjutnya, kata dia, Sulsel, tepatnya Makassar adalah rumahnya Unhas.
“Kalau kita mau berangkat berjuang, berangkat dari rumah. Modal awal, semangat dan spirit dari rumah. Tidak mungkin dari tempat tujuan,” tegas Mul, sapaan akrabnya.
Selanjutnya, tambah dia, selama 30 tahun tidak pernah ada mubes. IKA Unhas tidak dikenal karena tidak pernah berkegiatan.
“IKA Unhas seperti lahir kembali, jadi wajar kalau dia di rumah,” tandasnya.
Dia mengaku sudah melakukan lobi ke mana-mana agar keputusan lokasi mubes di Jakarta bisa diubah ke Makassar.
“Saya sudah lobi ketua IKA fakultas, ketua IKA wilayah, ketua IKA Gorontalo, Manado saya lagi kontak-kontak. Dan ternyata memang banyak yang setuju kalau dilaksanakan di Makassar.
Makassar di tengah-tengah. Kalau di Jakarta, orang dari Manado jauh,” jelasnya.
Diapun mensinyalir ada upaya untuk memenangkan calon tertentu sehingga diputuskan mubes IKA Unhas diselenggarakan di Jakarta.
“Bisa saja ada upaya untuk itu,” tambahnya.
Terlepas dari hal itu, Mulawarman menekankan figur yang cocok menjadi ketua IKA Unhas menggantikan Jusuf Kalla adalah anak muda.
“Bahwa 10 tahun ke depan, dia jadi menteri, pengusaha besar. Jangan yang tua-tua. Atau yang bersangkutan usia politiknya sudah dia tinggalkan. Usia produktif itu kan dari 30 sampai 50-an. Kalau sudah 60-an sudah sangat tidak produktif. Nama banyak sekali anak muda. Unhas punya segudang. Misalnya Ramli Rahim. Orang yang cocok jadi ketua itu adalah yang peduli dengan alumni,” tandasnya.
Dihubungi terpisah, tim pengarah atau Stering Commitee (SC) Mubeslub IKA/Pokja AD/ART Amirullah Tahir mengaku mubeslub yang dilaksanakan kemarin sudah memutuskan tentang perubahan AD/ART IKA Unhas. Terutama pasal tentang Tata Cara Pencalonan Calon Ketua Umum IKA Unhas.
Menurutnya, ada tiga konsep sistem pemilihan yang dibahas dalam forum itu, yaitu sistem pemilihan di mana hak suara hanya dimiliki oleh satu fakultas satu suara. Kedua, yaitu sistem di mana setiap alumni diberi hak untuk menentukan ketua IKA Unhas. Setiap alumni punya hak suara.
“Sistem kedua ini dipandang belum saatnya diterapkan, tapi menjadi catatan bahwa ke depan cara ini akan digunakan. Forum mubeslub sepakat dengan tata cara pencalonan dan pemilihan, di mana calon ketua umum IKA Unhas diusulkan oleh masing-masing IKA fakultas, untuk dipilih di mubes dengan cara pemilihan, di mana hak suara dihitung berdasarkan proporsional jumlah kelulusan setiap fakultas,” jelasnya.
Amirullah Tahir menambahkan, bila fakultas yang sedikit jumlah kelulusannya cuma berhak mengirim tiga utusan, sekaligus sebagai pemegang hak suara. Ada juga fakultas yang setelah dihitung bisa mengirim lima, tujuh, sembilan utusan atau suara. Utusan atau suara terbesar bagi fakultas yang paling banyak lulusannya bisa mengirim delegasi ke mubes sebanyak 12 utusan atau suara.
Selain hal tersebut, mubeslub sudah mengetuk palu sidang dan menerapkan pelaksaan mubes yang akan dilaksanakan kurun waktu dua bulan yang akan datang, sekaligus disetujui secara bersama-sama akan tetap dilaksanakan di Jakarta. Ada usulan beberapa tempat mubes, misal di Bandung, Bali, Jakarta dan Makassar, tapi aklamasi pilih tetap di Jakarta.
“Salah satu catatan penting mubeslub kemarin dan juga ditetapkan sistem pemilihan one man one vote. Itu akan dilaksanakan pada saatnya nanti setelah semua instrumen pendukung memungkinkan. Semoga mubes nanti bisa semakin memperkuat ika unhas,” jelas Amirullah Tahir. (rhm-rif)
