MAROS, BKM — Sejumlah peserta seleksi anggota Dewan Pendidikan Maros menyoroti keterlibatan panitia seleksi yang ikut menjadi peserta. Hal ini diketahui setelah beredarnya dokumen perihal jadwal wawancara calon anggota Dewan Pendidikan Maros.
Dalam dokumen yang ditandatangani Ketua Panitia Seleksi, Agusnawati dan Sekretarisnya, Muhammad Nurjaya, terdapat sedikitnya 5 orang panitia yang namanya masuk dalam sesi jadwal wawancara.
Salah seorang calon anggota Dewan Pendidikan Maros, Ansar, mengatakan, keterlibatan panitia menjadi peserta, itu sangat janggal dan terkesan ada permainan. Menurutnya, sangatlah tidak adil jika pantia yang seharusnya menjadi fasilitator justru malah ikut menjadi pemain.
”Ini memang sangat janggal yah. Karena barusan kita dengar ada panitia yang ikut jadi peserta. Jelas kalau mereka terpilih, orang akan mengatakan itu wajar karena mereka panitia,” katanya, Rabu (3/11).
Seharunya, kata dia, panitia yang ingin ikut seleksi, terlebih dahulu mengundurkan diri dari kepanitiaan dari awal, agar tidak ada pemikiran negatif dari peserta lain. Apalagi, panitia yang ada sekarang kebanyakan adalah anggota Dewan Pendidikan periode lalu.
”Kalau memang mau ikut jadi peserta, seharusnya dari awal jangan dong masuk sebagai panitia. Karena pasti akan dicurigai peserta lain. Memang tidak ada aturan bakunya, tapi kan ini tidak lazim namanya,” lanjut Ansar.
Senada dengan itu, calon peserta lain, Amul Hikmah Budiman, mengatakan, fakta ini seolah telah mencoreng dunia pendidikan di Maros yang seharusnya bersih dari praktik ketidakadilan. Ia berharap, dewan pendidikan ke depan diisi orang yang punya kapasitas dan kapabilitas mumpuni.
”Kita tidak meragukan kapasitas dan kapabilitas senior kita yang di kepanitian. Tapi harusnya hal ini tidak dilakukan. Karena takutnya bisa mencoreng dunia pendidikan kita di Maros. Masa dari awalnya saja sudah tidak adil begini kan,” sebutnya.
Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Panitia Seleksi Anggota Dewan Pendidikan, Muhammmad Nurjaya, menjelaskan, keterlibatan panitia menjadi peserta itu tidaklah melanggar aturan apapun yang dibuat sebelumnya. Terlebih, panitia tidak punya hak meloloskan atau menggugurkan satu calon.
”Sebenarnya tidak ada yang dilanggar. Kami ini pantia sebagai fasilitator saja. Kan ada tim lain yang akan melakukan seleksi untuk wawacara. Kami tidak ada hak meloloskan atau tidak kepada salah satu calon,” terangnya.
Nurjaya pun menjamin, proses seleksi dan wawancara akan berjalan secara adil tanpa membedakan peserta dengan panitia yang terlibat menjadi peserta. ”Kita jamin tidak ada keistimewaan bagi panitia yang ikut seleksi. Kami mau semua berjalan normal,” paparnya.
Menurut Nurjaya, panitia yang terlibat menjadi peserta, bukan kali ini saja terjadi dalam seleksi anggota Dewan Pendidikan Maros. Periode lalu, kata dia, sejumlah panitia juga ikut sebagai peserta dan ada yang tidak lolos. Ia pun mengaku jika proses seleksi tahun ini, baru heboh karena panitia melaksanakannya dengan transparan.
”Periode lalu juga begini. Ini ibaratnya sudah tradisi. Nah, ini kan baru heboh tahun ini karena memang kita transparan dan berharap ada dinamika agar Dewan Pendidikan bisa dikenal lebih luas di masyarakat,” terangnya.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Maros, Takdir, menjelaskan, pihaknya tidak pernah ikut campur dalam persoalan teknis seleksi yang dilakukan panitia. Ia bahkan mengaku jika keikutsertaan panitia sebagai peserta memang terkesan aneh.
”Kami dari awal tidak pernah terlibat soal teknisnya. Kami hanya sebagai tim wawancara saja. Yah, memang secara logika itu agak aneh yah. Tapi kan tidak ada juga aturan yang melarang hal itu,” kata Takdir.
Diketahui, jumlah peserta yang lolos berkas sebagai calon anggota Dewan Pendidikan Maros sebanyak 46 orang. Termasuk lima dari 7 orang panitia seleksi. Di periode lalu, jumlah anggota Dewan Pendidikan di Maros sebanyak 9 orang. (ari/c)