MAKASSAR, BKM — Istilah milenial mengacu pada masa, bukan pada manusia. Kesepakatan banyak orang, awal mulanya zaman milenial ini adalah antara tahun 1980-an sampai sekarang. Dengan demikian, manusia dalam kategori tersebut kini berusia 40 tahun ke bawah.
Hal itu disampaikan Ketua Program Studi (Prodi) S-3 Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (PPs UNM), Prof.Dr. Muhammad Rapi,M.S. ketika menjadi narasumber dalam Webinar Nasional Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Sulawesi Selatan. Kegiatan yang dilaksanakan, Kamis, 4 November 2021 via virtual zoom ini mengusung tema Peranan Sastra Milenial untuk Penguatan Budaya Nusantara dan NKRI.
Menurut Guru Besar Filologi ini, generasi milenial dicirikan oleh sejumlah keunggulan dengan memiliki wawasan global lebih luas, kepekaan toleransi lebih baik, pengetahuan terukur dan sistematis, pemahaman pola kepercayaan serta keyakinan transendental lebih sempurna, dan menguasai IT atau jaringan internet dengan segala perangkat virtualnya sebagai sarana komunikasi utama pada semua aspek kehidupan.
Dalam kaitan sastra milenial, Prof. Rapi menjelaskan, wujud sastra milenial berbeda dengan sastra sebelumnya. ”Sastra milenial lebih banyak dijumpai dalam dunia virtual (dunia maya) dengan berbagai bentuknya,”
ujarnya.
Lebih lanjut, menurut alumni S-2 dan S-3 Ilmu Sastra Universitas Padjadjaran Bandung ini, dalam ilmu-ilmu sastra, ada pandangan sosiologis yang menyatakan bahwa sastra adalah ungkapan pikiran/perasaan masyarakat.
Peneliti sastra klasik Bone ini menyimpulkan, sastrawan adalah bagian dari masyarakat, termasuk sastrawan milenial. Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa sastra milenial merupakan refleksi budaya zamannya yang berguna bagi bangsa dalam upaya merajuk kebhinekaan dalam bingkai NKRI. (rls)
