PADA momen spesial HUT ke-414 Kota Makassar, Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto meresmikan Lorong Wisata yang berlokasi di Lorong Bambapuang, Kecamatan Makassar. Acara ini dirangkain dengan kemeriahan minum kopi dan makan taripang bersama-sama tamu undangan, tokoh masyarakat, dan warga Lorong Bambapuang.
Bersama Wakil Wali Kota Fatamawati Rusdi, Ketua TP PKK Indira Yusuf Ismail, dan seluruh Forkopimda Kota Makassar, tepat pada pukul 09.11 Wita, secara bersama-sama, mereka menyeruput segelas kopi/teh dan makan kue khas taripang.
Makan taripang dan minum kopi tersebut juga dilakukan di 1.000 lorong yang ada di Kota Makassar secara serentak. Aksi tersebut meraih penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia.
“Ini rekor, minum kopi dan makan taripang di 1.000 lorong wisata melibatkan 50 orang di setiap lorong guna pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan sektor UMKM dalam rangka HUT Kota Makassar,” ungkap Danny.
Dia mengatakan, aksi positif dimulai dari hal-hal yang sederhana namun punya implikasi yang besar. Danny menyebut, berdasarkan hasil survei, ada 1 juta orang minum teh dan kopi di Makassar pada perayaan HUT Makassar.
“Kalau kita dampingi dengan komoditi kue taripang yang cocok dengan minuman kopi dan kue, maka ada sekitar Rp2 miliar uang yang berputar, dan setahun bisa Rp750 miliar. Kita mulai dari hal-hal yang sederhana, seperti memperkuat UMKM. Hari ini kita mulai dari komoditi kopi dan taripang. Ini baru satu komoditi. Kalau kita kawal dengan baik maka perekonomian bisa tumbuh dari lorong,” ucapnya.
Kata Danny, selain taripang, pihaknya juga akan mengeksplor komoditi kue lainnya seperti baruasa. Ini salah satu kue yang menyaingi kue termahal di dunia, yakni macaron.
“Itu bisa Rp100 ribu harganya cuman sebiji kue saja. Dan top di dunia. Cuman, kalau dibandingkan dengan baruasa masih kalah jauh,” jelasnya
Sementara, konsep lorong wisata sendiri, kata Danny merupakan serial terakhir pada lorong. “Setelah serial lorong sebelumnya, yakni Lorong Garden dan Badan Usaha Lorong, ini ada Lorong Wisata. Kita akan buat sebanyak 1.000 wisata dan co’mo akan bertugas mengelilingi setiap lorong dan mengakomodir 15 kecamatan secara gratis,” terangnya.
Karenanya, Danny berharap program ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari masyarakat, agar UMKM pada lorong bisa bangkit dan memulihkan ekonomi di Kota Makassar sesuai dengan program yang terangkum dalam Makassar Recover.
Iyang, seorang warga di Lorong Bambapuang sehari-harinya berjualan bakso. Ia melanjutkan usaha orangtuanya, yang sejak tahun 1968 lalu merantau dari Toraja ke Makassar. Ketika orangtuanya meninggal dunia, Iyang mengambil alih usaha jualan baksonya pada tahun 2001 hingga sekarang.
Jatuh bangun dalam berusaha sudah ia lalui. Mulai dari berjualan keliling, sampai akhirnya bisa membuka sendiri kedai. Karenanya, Iyang bersama saudaranya yang lain merespons baik diluncurkannya Lorong Wisata di lokasinya.
”Kami berharap dengan hadirnya Lorong Wisata, ke depannya bisa lebih baik lagi dan lorong ini semakin dikenal,” ujar Sidiana Rita, saudara kandung Iyang.
Danny-Fatma Main Dende
Tak ingin generasi penerus bangsa melupakan permainan tradisional, pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar Danny-Fatma mengajak para orangtua dan anak-anak untuk kembali mengenang permainan masa kecil tanpa gadget.
Berada di salah satu lorong wisata Makassar Jalan Gunung Bambapuang Kecamatan Makassar, Danny-Fatma yang masih mengenakan pakaian adat terlihat asyik bermain dende’-dende’.
“Dulu kita keluar rumah bermain kelereng, petak umpet,permainan tali dan juga yang heboh itu kalau main dende’-dende’. Nah sekarang ada di Lorong Bambapuang ini,” ucap Danny mengenang masa kecilnya.
Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi tak ingin ketinggalan. Di hadapan Forkopimda Makassar, Wawali yang kerap disapa Titi itu lalu melepas sepatunya dan ikut bermain bersama wali kota.
“Orang tua sekarang harusnya kembali memperkenalkan permainan tradisional ini. Dengan begitu konsentrasi anak pada ponselnya bisa teralihkan. Permainan ini juga mengajarkan konsentrasi dan kejujuran,” jelas Titi.
Peresmian lorong wisata ini selain diisi dengan minum kopi dan makan kue taripang bersama, dimanfaatkan juga untuk melakukan swafoto pada beberapa titik yang telah dikonsep apik agar menarik minat masyarakat untuk datang. (rhm-pkl)
