Site icon Berita Kota Makassar

Cagub Diuntungkan jika Kampanyekan Capres yang Menang

MAKASSAR, BKM — Sejumlah bakal calon gubernur (bacagub) Sulawesi Selatan akan sangat diuntungkan oleh calon presiden dan calon wakil presiden mendatang, jika sejak awal mengampanyekan capres jelang pemilihan presiden (pilpres) Februari 2024 mendatang. Bila sudah ada presiden dan wakil presiden terpilih, maka yang sangat diuntungkan adalah cagub yang pernah berjasa dan ikut memenangkan capres dan cawapres bersangkutan.
Untuk itu, setiap cagub diprediksi akan mendukung hingga ikut mengampanyekan salah satu capres nanti jika ingin menuai dukungan pada pilgub Sulsel mendatang.

Saat ini, sejumlah bacagub yang memiliki kedekatan dengan bakal capres yang juga Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Mulai dari Taufan Pawe, Erwin Aksa, Adnan Purichta Ichsan, Indah Putri Indriani, Andi Fahsar M Padjalangi, serta Andi Kaswadi Razak. Sementara Andi Iwan Darmwan Aras begitu dekat dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta Sandiaga Uno.

Sejumlah bakal capres dan cawapres seperti Ganjar Pranowo, Andi Amran Sulaiman, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, dan Puan Maharani juga punya kedekatan dengan balon gubernur seperti Rusdi Masse, Erwin Aksa, Adnan Purichta, serta Andi Sudirman Sulaiman.
Sebelumnya, Ketua Golkar Sulsel Taufan Pawe (TP) mengaku siap mengampanyekan Airlangga Hartarto sebagai calon presiden. Bahkan TP yang juga bacagub Sulsel ini meminta seluruh ketua DPD II, pengurus dan kader partai berlambang pohon beringin rindang untuk mendukung Airlangga sebagai capres.
Ketua DPD Gerindra Sulsel Andi Iwan Darmawan Aras, juga sejak awal menyatakan siap mendukugn Prabowo Subianto sebagai capres.
Pengamat politik Dr Arief Wicaksono, melihat hal tersebut sebenarnya sudah masuk kategori transaksional, dalam level yang paling rendah. “Idealnya, praktik seperti itu tidak dilakukan oleh para elit kekuasaan di level mana pun, karena ujungnya akan berakhir dalam situasi saling sandera. Apalagi dengan amplifikasi informasi yang masif. Karena hal itu akan menjadi contoh bagi masyarakat, dan menimbulkan preseden yang kurang baik bagi kesehatan demokrasi di masa yang akan datang,” jelas Arief Wicaksono, Rabu (10/11).
Arief yang juga dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unibos ini, mempersilakan setiap bakal calon untuk membangun komunikasi politik dan berbagai model koalisi dengan siapapun, namun dalam demokrasi juga ada soal etik serta kepatutan. “Semuanya harus ditimbang baik buruknya. Terlebih lagi di era keterbukaan seperti saat ini. Lagi pula ini politik. Dalam praktiknya, dukung mendukung bisa saja terjadi. Namun harapan bagi terbalasnya dukungan tersebut di masa depan, belum tentu akan dapat dipenuhi oleh yang didukung. Jadi, kembali lagi bahwa, politik adalah seni mengelola berbagai kepentingan, bukan seni menyandera kepentingan,” jelasnya.
Pemerhati politik dari Nurani Strategic Dr Nurmal Idrus, memberi penilaian tersendiri ketika dimintai tanggapannya soal perlunya bakal cagub mengampanyekan capres. Menurut Nurmal, sebenarnya agak riskan jika strategi itu yang dipakai oleh bakal cagub. Sebab, selain sulit memprediksi siapa yang akan menang di pilpres, juga pola dukungan parpol kadang tak linear antara pilpres dan pilkada. Semua tergantung kepentingan parpol.
“Menurut saya, figur yang akan bertarung di pilgub perlu berhati-hati jika ingin bermanuver di pilpres nanti. Adalah lebih baik jika mereka tetap konsisten pada usungan parpolnya,” jelas mantan ketua KPU Kota Makassar ini. (rif)

Exit mobile version