Site icon Berita Kota Makassar

Siswa Terampil di Paskibra, Ajari Demokrasi Lewat OSIS

SEKOLAH Menengah Pertama (SMP) menjadi tempat bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya tentang banyak hal. Mereka bisa mengasah keterampilan melalui kegiatan ekstrakurikuler Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dan belajar tentang cara berdemokrasi. Salah satu sekolah yang telah melakukan itu adalah SMP Negeri 35 Makassar.

SEKOLAH yang dipimpin Parenrengi,SPd,MPd ini berlokasi di Kompleks Perumahan Telkomas, Kelurahan Berua, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Parenrengi hadir di Podcast untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Senin (22/11).
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa ada banyak kegiatan ekskul yang dilaksanakan di SMPN 35. Salah satunya yang paling menonjol adalah Paskibra. Bahkan sudah banyak mengukir prestasi dalam rentang waktu 2017-2019. Salah satunya, telah empat kali juara umum Paskib Saka Bhayangkara. Terakhir, menjadi juara umum SMTI se-Kota Makassar.
”Pada Hari Guru Nasional tingkat Kota Makassar tahun 2019 yang diperingati di Lapangan Karebosi, Paskib sekolah kami dipercaya sebagai pengibar bendera,” ujar Parenrengi.
Atas telah banyaknya juara yang diraih, Parenrengi selaku kepsek menantang ketua alumni Paskibra SMPN 35 untuk tidak hanya mengikuti lomba. Tapi sebaliknya, melaksanakan lomba paskibra tingkat Kota Makassar. Tantangan itu pun langsung direspons. Dalam waktu dekat lomba Paskib tingkat SMP se-Kota Makassar akan digelar.
Kegiatan Paskibra, diakui Guru Berprestasi Tahun 2015 ini, sejalan dengan status SMPN 35 saat ini yang telah ditunjuk sebagai Sekolah Penggerak bersama empat SMP lainnya di Makassar. Ada alasan mendasar yang disampaikan Parenrengi sehingga dirinya mendukung penuh kegiatan Paskib di sekolahnya.
”Ada lima keterampilan yang dituntut kementerian sekarang. Pertama, anak-anak mesti memiliki keterampilan untuk berkolaborasi. Di paskib ini, anak-anak memiliki itu. Karena kalau tidak kolaborasi, tidak bisa memperlihatkan barisan yang baik,” ujarnya.

Selain itu, Paskib bukan sekadar melatih siswa untuk baris berbaris. Melainkan dapat menanamkan karakter yang baik dari segi keterampilan berkomunikasi. ”Di dalam Paskib itu anak-anak tidak sembarang cara berkomunikasinya. Sopan santun ada di sana itu memang yang diharapkan. Dalam Paskib juga ada keterampilan yang memperlihatkan kekompakan dalam satu tim kerja,” tambahnya.
Parenrengi juga menjelaskan tentang sekolah penggerak. Penobatan tersebut diperoleh SMPN 35 setelah kepala sekolahnya dinyatakan lulus tes.
”Apa yang diharapkan dari Sekolah Penggerak ini? Yaitu program dari kementerian, yakni merdeka belajar. Tapi bukan bebas sebebas-bebasnya. Contohnya seperti ini, kalau dulu guru matematika kita masuk kelas, semua anak di dalam kelas harus pintat matematika. Sekarang beda. Apa kemampuan anak-anak, itu yang didorong. Jangan disamaratakan. karena dalam kelas itu belum tentu sama. Ada yang jago main bola, ada yang jago matematika, ada jago IPA. Berikan porsinya masing-masing. tu kehendak program Merdeka Belajar,” jelasnya.
Untuk itu, lanjutnya, seorang guru harus mampu memahami kompetensi siswanya. Mereka mesti mengetahui apa yang bisa diberikan kepada siswanya. Bukan idenya guru yang mau memaksakan siswa hebat di mata pelajarannya. Guru harus lebih komprehensif.
Namun, Parenrengi tak memungki masih ada kendala yang dihadapi dalam mengubah paradigma berpikir guru-guru di sekolahnya. Terutama mereka yang sudah menjelang memasuki masa purnabakti.
”Ada banyak hal baru yang mesti diterapkan dalam program sekolah penggerak ini. Seperti dalam hal penguasaan teknologi pembelajaran. Program digitalisasi sekolah. Ada guru yang apatis, dengan alasan sudah mau pensiun. Mereka biasanya bilang, kasih saja yang muda-muda. Ini adalah tantangan. Sebab kalau guru tidak bisa melakukan itu, pasti akan tertinggal,” ungkap Parenrengi.

Dijelaskan pula bahwa terkait sekolah penggerak, ada sembilan tema di dalamnya. Dua tema di antaranya untuk sekolah kejuruan. Sementara SMP ada tujuh tema proyek. Salah satunya proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Minimal ada tiga tema dalam satu semester.
”Saat ini kita sudah memasuki tahapan suara demokrasi. Sub temanya pemilihan ketua OSIS. Di sini kita mengajari siswa yang menjadi panitia pemilihan tentang demokrasi,” terang Parenrengi.
Panitia pemilihan tersebut telah ditugaskan untuk mendatangi kantor lurah guna berkonsultasi dan menanyakan prosedur pemilihan ketua RW. Dengan cara seperti ini, bukan lagi gurunya yang menyampaikan ke siswa. Melainkan secara ril mereka mengalaminya sendiri.
”Yang kita ingin capai adalah bagaimana anak-anak yang menjadi panitia ini mampu bekerja secara tim. Bekerja sama dan berkolaborasi dengan orang lain. Bagaimana menghargai pendapat orang lain. Bagaimana berdemokrasi, kalah atau menang,” bebernya. (*/rus)

Exit mobile version