UNIVERSITAS Al-Asyariyah Mandar (Unasman) di Polman, Sulawesi Barat (Sulbar) kini telah berusia 18 tahun. Seumur dengan Provinsi Sulawesi Barat. Universitas ini menjadi yang tertua di Sulbar dan memiliki hubungan historis untuk terbentuknya provinsi pemekaran dari Sulawesi Selatan ini.
REKTOR Unasman Dr Chuduriah Sahabuddin menerangkan relasi perguruan tinggi yang dipimpinnya dengan terbentuknya Provinsi Sulbar. Awalnya, Prof KH Sahabuddin, orangtua Dr Chuduriah bersama tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, dan tokoh agama di Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) yang ketika itu masih bergabung di Sulsel, berembuk untuk mendirikan satu universitas. Kemudian ada tiga sekolah tinggi yang disatukan. Masing-masing Sekolah Tinggi Keguruan dan Pendidikan, Sekolah Tinggi Pertanian, dan Sekolah Tinggi Agama Islam.
”Bersamaan dengan itu, tokoh yang ada sedang merancang untuk berdirinya Provinsi Sulbar yang terpisah dari Sulawesi Selatan. SK Kementerian Pendidikan untuk berdirinya Unasman terbit di bulan April 2004. Sementara Provinsi Sulbar lahir pada September 2004,” ungkap Dr Chuduriah dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Selasa (30/11).
Untuk berdiri menjadi sebuah daerah otonom baru, Sulbar harus memiliki satu perguruan tinggi (PT) berstatus univesitas. Akhirnya, Unasman menjadi bagian dan pelengkap dari prasyarat itu. Presiden Megawati Soekarnoputri menandatangani prasasti peresmian Unasman ketika berkunjung ke Polman.
Di usia 18 tahun, Unasman terus berusaha membenahi diri. Bukan hanya dari segi akademik, tapi juga sarana. Saat ini ada Unasman memiliki enam fakultas dengan 12 program studi. Masing-masing Fakultas Pendidikan, dengan Prodi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan membawahi Prodi Komunikasi dan Ilmu Pemerintahan. Fakultas Pertanian membawahi Prodi Agribisnis, Agroteknologi, dan Peternakan. Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komputer, serta Fakultas Agama Islam.
Diakui Chuduriah, dulunya Fakultas Pendidikan menjadi favorit pilihan mahasiswa. Namun, seiring berjalannya waktu dan ketatnya persaingan untuk menjadi PNS, mahasiswa baru mengalihkan pilihannya. Mereka memilih prodi yang peluang kerjanya lebih besar. Ilmu komputer dan ekonomi syariah kini menjadi unggulan dan dominan disukai.
Dari segi sumber daya manusia (SDM) dosen, pihak kampus terus berupaya melakukan perekrutan, khususnya ilmu komputer. Karena prodi ini sangat diminati oleh masyarakat sehingga butuh tenaga pengajar yang lebih banyak. Hasilnya, dari akreditasi yang dilakukan telah mampu memenuhi syarat rasio dosen dan mahasiswa.
Dosen Unasman juga didorong untuk melanjutkan kuliah S2 dan S3, baik pada kampus yang ada di Sulsel maupun di luar. Seperti Universitas Gadjah Mada dan kampus lainnya. Juga mencari jaringan kerja sama dengan universitas serta instansi dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Termasuk tambahan wawasan pengetahuan bagi mahasiswa.
Sebagai bagian dari pengabdian pada masyarakat, mahasiswa Unasman melaksanakan Program Unasman Membangun Desa (PUMD). Program ini merupakan pengganti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tengah pandemi covid-19.
”Karena ada pembatasan-pembatasan di tengah pandemi, tahun ini kita mengubah KKN menjadi PUMD. Melalui program ini diberikan pencerahan kepada kepala desa dan masyarakat bagaimana membangun kerja sama. Dengan begitu, Unasman tidak hanya melakukan pembelajaran di kampus, tapi juga pengabdian bagi kemajuan Polman pada khususnya, dan Sulbar secara umum,” terang Chuduriah.
Selain itu, Unasman juga menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Salah satunya diwujudkan melalui kemitraan pembibitan cekelat dan kopi.
”Saat ini ada enam orang mahasiswa kita yang melaksanakan program MBKM. Mereka dibagi dua dan kini berada di Tana Toraja dan Malino. Ini bukti kalau Unasman bisa berkolaborasi dengan masyarakat di luar Sulbar,” jelasnya.
Terkait MBKM tersebut, setiap perguruan tinggi disyaratkan memiliki usaha sendiri. Dengan begitu bisa mencetak alumni yang sudah memiliki bekal dan tambahan wawasan serta skill khusus.
Untuk itu, Unasman tengah menggagas terbentuknya inkubator bisnis. Saat ini pembentukan struktur organisasinya sementara dilakukan. Nantinya akan ada ruang tersendiri untuk inkubator, dan merancang siapa yang akan mengelolanya.
Unasman juga menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya di Sulbar. Tidak heran jika mahasiswa dari kampus ini selalu terpilih menjadi duta budaya yang mewakili Sulbar di tingkat nasional. Hasilnya, utusan Sulbar menjadi duta budaya terbaik di Jakarta.
Di akhir wawancara, Chuduriah menyuarakan harapan kepada pemerintah provinsi untuk lebih peduli dan perhatian terhadap perguruan tinggi yang ada di Sulbar. Karena ketika semua PTS yang ada mendapat perhatian dari pemerintah provinsi dan kabupaten, alumni SMA tidak perlu lagi jauh-jauh meninggalkan Sulbar untuk melanjutkan pendidikan.
”Sebagai ketua Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Sulbar, saya berharap PTS yang ada mendapatkan perhatian dari pemerintah. Selama ini ada perhatian, tapi belum maksimal. Khususnya dari segi sarana dan prasarana masih sangat minim,” tandas Chuduriah. (*/rus)
