BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Sulawesi Selatan, memberikan data mengenai potensi ancaman bencana yang mengintai wilayah Sulsel sekaligus bagaimana solusi yang harus diambil, serta meminimalkan dampak terburuk jika hal itu terjadi.
Gambaran umum bencana terbesar di tahun 2021 hingga akhir November 2021 yakni bencana alam angin kencang, tanah longsor, puting beliung serta banjir yang dialami hampir semua 24 kabupaten/kota yang terdiri dari 21 kabupaten dan 3 kota, dengan luas wilayah sebesar 46.717,18 km2.
Dalam hal ini, BNPB mengingatkan bahwa yang berbahaya bangunan yang tidak tahan dari berpotensi menjadi ancaman. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan kembali struktur bangunan agar lebih mengutamakan konstruksi yang tahan terhadap bencana alam. Hal tersebut juga sekaligus dapat menjadi acuan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Sulsel. Tercatat data kejadian kejadian bencana tahun 2021 kabupaten/kota se Sulsel sebanyak 499 kejadian.
“Bukan bencana alam yang membunuh tapi bangunan yang tidak tahan bencana alam,” ujar Kepala BPBD Sulsel, Muhamamd Firda, saat dikonfirmasi kejadian kejadian bencana alam selama tahun 2021 kabupaten/kota se Sulsel, Rabu (1/12).
Bencana alam gempa juga berpotensi menjadi ancaman bencana di wilayah Sulsel. Jika terjadi gempa maka bisa berpotensi terjadi longsoran bawah laut dan menyebabkan tsunami. Pemerintah daerah dalam hal ini diharapkan menjadi lebih agresif dalam memberikan informasi yang baik kepada masyarakat dan menyiapkan langkah pencegahan sebagai solusi terbaik.
Menurut data BNPB sejak 2019 hingga 2021 bencana seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung mendominasi terjadi di wilayah Sulsel. Tahun 2019 lalu, BNPB mencatat 283 kejadian, termasuk di Sulsel. Tak kurang dari 70 orang meninggal dunia, dan belasan orang hilang. Kerugian ekonomi akibat bencana tahun 2019 lalu bahkan mencapai Rp 80,46 triliun.
Angka tersebut menjadi yang terbesar karena kebakaran hutan dan lahan yang mencapai sekitar Rp 75 triliun. Sementara itu, memasuki dua bulan usia tahun 2020, sudah terjadi 718 kejadian.
“Hendaknya ini menjadi perhatian kita semua, bahwa bencana ini sifatnya rutin. Jadi kita tidak bisa lagi menghindar. Kita harus memikirkan strategi jangka panjang. Ingat, kita bersama bertanggung jawab menjaga kestabilan alam,” ucap Muhamamd Firda. (jun)
