Site icon Berita Kota Makassar

JRM, Lembaga Adat Strategis Wujudkan Toraja Mala’bi

MAKALE, BKM–Ratusan warga menghadiri reses yang digelar anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi Sulsel, John Rende Mangontan (JRM) di ruang pola kantor Camat Mengkendek, Jumat (3/12).
Sehari sebelumnya, JRM menemui konstituennya di Kelurahan Manggau dan Lapandan.
Di Ge’tengan JRM menguraikan panjang lebar betapa pentingnya lembaga adat ditengah masyarakat Toraja guna mewujudkan Toraja Mala’bi menjadi Tana Toraja bangkit, produktif, dan tangguh menyongsong tatanan hidup baru.
Menurut JRM, salah satu magnet dan kekuatan lembaga adat sebagai filter dan penengah persoalan yang timbul diselesaikan secara damai dan kekeluargaan sebelum lanjut ke ranah hukum.
“Pasalnya adat merupakan kekuatan tertinggi dan diakui negara, tinggal dijabarkan lebih rinci dari regulasi disetujui bersama,”jelas JRM.
JRM menambahkan bila kehidupan warga Toraja tidak lepas dari tatanan adat, misalnya pengairan kebutuhan vital sawah. Meskipun lokasinya telah dihibahkan dan sudah didesain, namun pengaturannya tetap bersentuhan dengan adat.

Demikian pula obyek wisata Buntu Kandora multi fungsi memiliki sejarah dan cerita adat, dan juga fungsi lainnya untuk olahraga.
Dari semua fasilitas telah ada faktor penunjang seperti jaringan listrik dan jalan. Karena itu status jalan difikirkan untuk ditingkatkan menjadi jalan provinsi sebab anggaran daerah terbatas. Karena itu konsep pembangunan jangka panjang dikaji secara geo politik dan kolektif.
JRM janji jika kehadiran lembaga adat baik di Tana Toraja maupun Toraja Utara akan terkelola dengan baik, “Saya siap fasilitasi satukan bahasa dalam rembuk (kombongan) skala besar. Ge’tengan wajah Tana Toraja kedepan sangat strategis penyangga kota Makale, tentu perlu dilengkapi dengan sarana pasar moderen bermuatan lokal setelah padar tradisional Makale sebab poros ke Toraja Airport,”jelas JRM yang juga Ketua Bapera Sulsel ini.

Untuk itu Ge’tengan sebagai pusat ekonomi masa depan keterampilan warga perlu ditingkatkan menunjang pariwisata seperti pelatihan meubel berbahan bambu, dengan mendatangkan pelatih profesional dari Jawa.
“Wujudkan harapan tersebut guna menumbuhkan partisipasi bergotong royong sebagai bagian dari budaya Toraja,” pungkas JRM (gus/rif/c).

Exit mobile version