Site icon Berita Kota Makassar

Ratusan Hektare Sawah Mulai Terendam

MAROS, BKM — Curah hujan yang tinggi beberapa waktu belakangan membuat Kabupaten Maros mulai siaga. Meski debit air sungai dan bendungan Lekopancing di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros masih dalam batasan normal.
Namun beberapa rumah yang berada di kecamatan Kabupaten Maros mulai dilanda banjir. Salah satunya di Kelurahan Mattiro Deceng, Kecamatan Lau. Banjir tak hanya masuk ke rumah warga, namun juga merendam ratusan hektare sawah milik warga.
Bahkan, air sudah meluap ke jalan poros Mattiro Deceng yang kerap dilintasi pengguna jalan sebagai jalan alternatif Kecamatan Lau ke Kecamatan Bantimurung.
”Jalan ini menghubungkan Kelurahan Maccini Baji, Mattiro Deceng Kecamatan Lau dan Desa Baruga, Mangeloreng dan Mattoangin Kecamatan Bantimurung,” jelas Lurah Mattiro Deceng, Suherman.
Sedangkan untuk pemukiman warga , kata dia, ada beberapa rumah yang terdampak banjir. ”Alhamdulillah, karena sebagian besar memang rumah warga di sini itu rumah atas, jadi masih dalam kondisi aman. Tapi yang kita takutkan kalau hujannya berlanjut sampai besok, maka sudah banyak rumah yang terdampak tentunya,” jelasnya.
Untuk di Mattiro Deceng, beberapa lingkungan yang terdampak banjir yakni Lingkungan Galaggara, Balombong, Langkeang, dan Lingkungan Sampobia. ”Selain rumah, juga sebagian besar sawah terendam banjir,” sebutnya.
Untuk sawah yang terendam, kata dia, ada sawah yang sementara dipanen, sawah yang sementara dalam proses diolah untuk ditanami, dan ada juga yang sudah ditanami. ”Jadi luas sawah di Mattiro Deceng itu sekitar 356, 86 Hektare terdiri dari 4 lingkungan yakni Lingkungan Sampobia yang 80 persen sawahnya belum dipanen. Kedua Lingkungan Langkeang 60 persen sudah ditanam selebihnya belum ditanami, di Lingkungan Balombong, ada 85 persen sawah sudah ditanam dan di Lingkungan Galaggara baru seminggu sudah dipanen dan proses pengolahan untuk ditanam kembali,” jelasnya.
Menyoal kerugian, dia mengatakan belum bisa ditaksir. Sebab baru bisa dilihat kondisi padinya setelah terendam tiga hari. Untuk ketinggian air, kata dia, di sawah ketinggian 1 meter hingga 1,5 meter. Sedangkan genangan yang naik di jalan poros Mattiro Deceng sekitar 50 centimeter.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, Fadli, mengatakan, pihaknya telah mengimbau tiap kecamatan untuk mengaktifkan posko siaga bencana.
Sedangkan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana pada kantor BPBD Maros, Nasrul, mengatakan, Tim Reaksi Cepat BPBD juga sudah turun memantau aliran-aliran sungai dan alat pendeteksi dini banjir.
”Jadi Early Warning System (EWS) atau alat pendeteksi dini banjir di Sulsel cuma ada 2 unit. Dimana satu di Luwu satu di Maros yang dipasang di Sungai Pakere, Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Simbang,” katanya.

Alat ini bekerja dengan sistem sensor ketika air naik maka akan mengirim signal ke sumber alarm yang di tempatkan di kantor desa terdekat dari EWS. Nantinya, anggota Destana yang ada di desa tersebut langsung melaporkan ke posko utama BPBD.
Misal ketika air sungai naik satu meter, maka alarm pertama akan berbunyi sebagai tanda peringatan waspada, bunyi alarm kedua selanjutnya peringatan siaga, dan yang ketiga sudah naik menjadi awas.
Diakui, meski debit air sungai masih normal, namun ada beberapa wilayah yang sudah mulai banjir. ”Sementara ini yang sudah kami terima laporannya itu di antaranya di Dusun Pammanjengan di Kecamatan Moncongloe, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Pajukkukang, Kecamatan Bontoa, Minasa Upa, Kecamatan Bontoa, dan Kelurahan Mattirodeceng, Kecamatan Lau. Sedangkan yang lainnya kami sementara lakukan pendataan,” jelasnya.
Ditambahkan, untuk pemetaan daerah yang terdampak cuaca hidrometeorologi itu daerah pesisir dan sekitarnya. Seperti Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru, Marusu, dan Kecamatan Turikale. (ari/b)

Exit mobile version