Site icon Berita Kota Makassar

Jelang Natal, Stok Daging Babi Menurun

MAKASSAR, BKM — Stok daging babi di Sulawesi Selatan disebut menurun drastis. Apalagi jelang natal dan tahun baru (Nataru).
Hal tersebut dikatakan, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan Pemprov Sulsel, Abdul Azis.

Ia menjelaskan, penurunan stok babi diakibatkan oleh populasi babi di Sulsel yang terus menurun. Salah satunya karena babi yang dipotong rata-rata betina, bukan jantan.
Bahkan kata Azis, pada tahun lalu, populasi babi Sulsel mencapai 948.253 ekor. Kini hanya 893 ribu saja.
“Menurun drastis. Sampai triwulan III tahun 2021, penurunannya mencapai 5,77 persen. Sangat minus,” kata Azis, Senin (13/12), saat coffee morning di Harper Hotel.
Ia mengatakan tingkat konsumsi daging babi setahun terakhir meningkat drastis. Tertinggi di wilayah Toraja Utara, Tana Toraja kemudian daerah Luwu dan Luwu Timur.
Ia mengaku peningkatan konsumsi diakibatkan oleh upacara adat di Toraja yang menjadikan babi sebagai hewan utama yang harus disembelih. Apalagi saat ini, izin upacara adat di masa pandemi sudah dilonggarkan, baik untuk pemakaman dan pernikahan.

“Apalagi di bulan Desember ini, konsumsi daging sangat meningkat. Namun dari jumlah populasi, stok yang ada masih cukup aman. Kami jamin tidak ada masalah,” tambah Azis.
Penurunan stok membuat harga daging babi di Toraja mengalami peningkatan drastis. Salah satu pedagang daging babi, Agustina mengatakan sepekan terakhir harga daging babi di pasaran menyentuh angka Rp80 ribu per kilo.
“Sebelumnya Rp55 ribu. Sekarang jelang natal jadi naik. Banyak juga pesta,” kata Agustin.
Ia mengatakan harga naik karena stok yang ada berkurang. Apalagi, peternak babi sekarang tidak lagi menjual ke pedagang, tapi langsung menjualnya secara online.
“Jadi yang punya babi tidak lagi jual ke kita, langsung mereka jual utuh juga. Jadi kita juga punya stok menipis sementara banyak petmintaan,” tukasnya. (jun)

Exit mobile version