Site icon Berita Kota Makassar

Air Kolam Renang di RumahWali Kota Hampir Tumpah

MAKASSAR, BKM — Gempa dengan magnitudo 7,5 terjadi pada pukul 11.20 Wita, Selasa (14/12). Berada pada titik 112 km barat laut Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kedalaman 12 km.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Maluku, NTB, NTT, Sulsel, dan Sultra. Namun tak lama berselang, peringatan itupun dicabut.
Di Sulawesi Selatan, getaran gempa terasa hingga Makassar. Yang cukup merasakan dampak dari gempa ini warga Kabupaten Kepulauan Selayar. Bahkan, ada dua kecamatan yang terdampak cukup parah. Masing-masing Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena.
Gempa juga dirasakan oleh mereka yang tinggal di Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, serta Gowa. Kepanikan pun sempat mewarnai. Tak terkecuali bagi pasien yang sementara dirawat di rumah sakit beserta keluarga yang menjaganya. Mereka berlarian keluar dari rumah sakit untuk menyelamatkan diri. Seperti yang terlihat di Rumah Sakit Anwar Makkatutu, Bantaeng dan RSUD Syekh Yusuf, Gowa.
Di Makassar, pegawai yang bekerja di gedung-gedung tinggi berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka kemudian berkumpul di halaman kantor masing-masing.
Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto pun ikut merasakan getaran gempa tersebut. Ketika itu, Danny tengah menerima kunjungan kerja bupati Rembang di kediaman pribadinya, Jalan Amirullah.
Danny bersama seluruh tamu berhamburan keluar dari ruangan dan memilih untuk berada di ruangan terbuka dekat kolam renang.
“Jadi di rumah saya ini, paling terasa di kolam renang. Dengan lampu gantung yang berayun kencang. Tapi yang paling sensitif di kolam renang, karena airnya hampir tumpah,” ungkap Danny.
Diapun memanggil seluruh anggota keluarganya untuk keluar ruangan dan berada di tempat terbuka. Beberapa saat berlalu, setelah kondisi dirasa cukup aman, Danny pun kembali melanjutkan aktivitasnya.
Kepada seluruh masyarakat Makassar, Danny mengimbau, jika menjadi gempar untuk tetap tenang sambil mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman Tempat aman yang dimaksud adalah berlindung di bawah meja yang kekuatannya cukup besar, di bawah kusen jendela atau pintu, di sudut rumah antara dua sisi tembok, atau segera mencari lapangan atau daerah terbuka.
Selanjutnya, dia meminta agar warga segera melapor jika ada kerusakan yang terjadi di rumah masing-masing. Untuk warga Makassar yang berada di wilayah pesisir Kota Makassar, diminta segera melaporkan atau melakukan panggilan darurat 112 jika ada kenaikan air laut yang tidak biasa.
“Selanjutnya, kita terus berdoa agar Kota Makassar dan saudara-saudara kita di wilayah pesisir selatan, termasuk NTT, NTB, dan Bali yang terdampak langsung gempa ini agar terus mendapat lindungan oleh Allah Swt agar dikuatkan dalam bencana dan diberi keselamatan,” ungkap Danny. Diapun mengajak warga Makassar untuk membantu korban gempa jika terjadi kerusakan-kerusakan yang berat.

Dampak Parah di Selayar

Bupati Selayar Basli Ali dalam keterangan persnya sesaat setelah gempa terjadi, menyebut ada lebih kurang 17.000 warganya yang tinggal di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena. ”Semua wilayah di Selayar merasakan dampak gempa. Tapi yang cukup parah di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu. Ada bangunan rumah dan sekolah yang roboh di sana. Untuk saat ini kami fokus dulu bagaimana menyelamatkan masyarakat,” terang Basli Ali.
Dijelaskan, masyarakat yang bermukim di Kecamatan Pasimarannu telah dievakuasi ke wilayah datarang tinggi. Sementara di Kecamatan Pasilambena, belum ada informasi yang didapatkan karena jaringan telekomunikasi terputus.

Ia memperkirakan, Kecamatan Pasimbena mengalami dampak terparah karena lokasinya terletak paling dekat dengan pusat gempa.

“Yang kedua itu yang kami perkirakan akan parah di Kecamatan Pasilambena, karena ini yang paling dekat dengan pusat gempa. Itu sama sekali belum ada informasi yang kita terima karena jaringan telekomunikasi yang terputus,” ungkapnya.

Basli menjelaskan, dibutuhkan waktu tempuh 18 jam menggunakan kapal ke Kecamatan Pasilambena dari kota Benteng, pusat kota Kepulauan Selayar.

Pihak BPBD dan OPD terkait sudah menuju ke lokasi untuk memastikan kondisi masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Basli Ali pun berencana akan menuju ke Pasilambena hari ini, Rabu (15/12).

RS Seolah Berayun

Di Bantaeng, pengunjung dan pasien RSUD Prof Dr Anwar Makkatutu Bantaeng, berhamburan dari ruang perawatan masing-masing menuju tangga darurat. Mereka panik karena rumah sakit berlantai delapan tersebut seolah berayun hingga beberapa waktu lamanya.
Rupanya dampak gempa yang terjadi di NTT sangat dirasakan di rumah sakit tersebut. Terutama mereka yang berada di lantai tujuh dan delapan.
Agusliadi, Komisioner KPUD Bantaeng yang putrinya sedang dirawat di lantai tujuh, mengatakan saat kejadian dia sedang berada di kantor KPUD Bantaeng mendampingi salah seorang komisioner KPUD Provinsi Sulsel.
Tiba-tiba, komisioner dari provinsi meninggalkan ruangan dan berlari keluar gedung. Dia lalu menelepon istrinya yang sedang mendampingi putrinya di rumah sakit. Setelah mendapat info dari istrinya, Agusliadi pun bergegas.
Setibanya di rumah sakit, Agusliadi menyaksikan orang-orang berlarian menuju lantai dasar melalui tangga darurat. Sembari dia merekam pasien dan pendampingnya yang masih tampak panik di pelataran rumah sakit.
Sejumlah pengunjung, terutama yang berada di lantai tujuh dan delapan, mengaku merasakan rumah sakit tersebut berayun-ayun hingga durasi yang cukup lama. “Ada barangkali sepuluh menit berayun-ayun,” ujarnya.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Infokom dan Persandian Bantaeng H Subhan, mengatakan pihaknya bekerja sama BPBD setempat segera mengumumkan kepada masyarakat melalui mobil penerangan, agar tidak mempercayai informasi selain yang dikeluarkan oleh BMKG.
Tujuannya, kata dia, pemkab mengharapkan supaya warga tetap tenang, tidak panik dan tidak mudah mempercayai informasi kegempaan yang tidak jelas sumbernya. “Kita berharap, masyarakat tidak panik. Pemkab juga mengimbau supaya masyarakat hanya percaya terhadap informasi yang dikeluarkan BMKG,” pungkasnya.
Di Bulukumba, walau status waspada diberlakukan, tidak membuat warga pesisir menjadi panik.
Dari pantauan
BKM, warga pesisir di Kelurahan Terang-terang, Kecamatan Ujung Bulu nampak beraktivitas seperti biasa. Bahkan terlihat para nelayan masih melaut untuk mencari ikan dengan menggunakan perahu miliknya.

Salah seorang warga yang ditemui di wilayah hutan kota yang dekat dari bibir pantai, mengaku mengetahui status waspada tsunami Bulukumba.

”Iye, saya tauji kalau Bulukumba statusnya waspada tsunami, tapi belum ada juga imbauan resmi dari pihak terkait untuk kami tinggalkan lokasi,“ ujarnya.
Meski begitu, dia berharap semoga tsunami tidak terjadi.

”Kalau dilihat kondisi laut masih seperti biasa, tidak surut airnya. Semoga tidak terjadi tsunami di Bulukumba,” harapnya. (jun-rhm-min-wam)

Exit mobile version