Site icon Berita Kota Makassar

Andi Muhammad Zubair, Juara I Guru Inspiratif Kota Makassar 2021 Non ASN

PANDEMI covid-19 telah menghadirkan banyak inovasi di berbagai bidang. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias daring (online) mendorong guru untuk menciptakan media belajar yang tidak membuat peserta didik jenuh dan bosan. Andi Muhammad Zubair menjadi salah satu yang melakukan hal itu.

GURU Zubair, begitu ia akrab disapa. Mengajar di kelas tinggi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Wahdah Islamiyah 01 Antang. Teranyar, Zubair meraih juara I Guru Inspiratif Kota Makassar 2021 Non ASN. Ia hadir di studio podcast Berita Kota Makassar (BKM) Lantai III Gedung Graha Pena, Kamis (23/12).
Zubair menjadi guru di tahun 2017. Ketika itu, ia sama sekali tidak mengenal seluk beluk dunia pendidikan. Hingga suatu saat dirinya bertemu guru-guru ASN Makassar pada pelatihan TIK di sebuah hotel. Dalam pertemuan itu, ia mendengar informasi bahwa akan dibentuk sebuah forum kelompok kerja guru (KKG). Forum ini menjadi wadah bagi guru-guru yang ingin berkembang.
Pencetusnya adalah Alfian, sekarang menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepsek SD Bawakaraeng 1 dan Yusmira Yunus. Di situ Zubair memberanikan diri menawarkan apakah dirinya bisa bergabung.
”Saya bertanya seperti itu, karena di kalangan guru-guru sekolah swasta saya sering mendengar bahwa mereka tidak usah terlalu bergaul dengan guru negeri karena prospek karirnya berbeda. Kedua, kalau guru swasta itu tidak usah terlalu banyak inovasi, karena tidak ada naik pangkatnya. Makanya saya bertanya, bisa tidak saya masuk. Ternyata direspons positif oleh guru-guru ASN,” ujarnya.
Dari situlah kemudian Zubair mulai belajar banyak tentang dunia pendidikan, khususnya untuk menjadi guru yang baik dan inovatif. Seiring berjalannya waktu, forum KKG tersebut terbentuk yang difasilitasi dan diwadahi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar.
”Saya terus belajar dan berusaha mengubah mindset, bahwa sebenarnya guru ASN dan non ASN sama dari segi menimba ilmu. Yang membedakan hanya statusnya. Dari segi yang lain, keduanya memiliki hal yang sama,” tandasnya.
Di KKG, Zubair menyebut sejumlah nama yang ditempatinya banyak menimba ilmu dan pengalaman. Di antaranya Alfian, Yusmira Yunus, Amir serta yang lainnya. Belakangan, Zubair mendapati para guru itu memiliki personal branding masing-masing. Alfian dan Yusmira misalnya, ketika menyebut nama mereka yang muncul di pikiran adalah literasi dan buku.
”Dari mereka saya belajar banyak dan mengamati, ternyata karya mereka begini dan kelebihannya seperti apa. Saat itulah saya juga mulai membangun personal branding. Ketika orang menyebut nama Guru Zubair, itu yang biasa saya brandingkan, pikiran mereka adalah teknologi. Jadi saya belajar, meniru dan memodifikasi apa guru negeri sudah buat,” terangnya.
Bermula dari sebuah pelatihan yang diikutinya, ia mengawalinya dengan menulis buku. Untuk yang satu ini, Zubair juga punya alasan. ”Guru sekolah swasta masih jarang yang mau membuat dan menulis buku. Apalagi yang ingin membuat tulisan terkait penelitian tindakan kelas (PTK). Kenapa? Karena menurut mereka tidak ada tindaklanjut dari hasilnya. Sementara kalau guru ASN yang menulis tentang PTK, bisa naik pangkat,” imbuhnya.
Dia pun kemudian berpikir dan merefleksi diri, bahwa kekurangan yang paling menonjol adalah membuat buku dan menulis PTK. Sejak saat itu Zubair mengikrarkan diri bahwa jika guru lain bisa, dirinya juga sebenarnya bisa.
Usai mengikuti pelatihan, Zubair mampu menghasilkan sebuah buku tunggal. Judulnya Pendidik dan Pelajar yang Dirindukan Surga. Buku ini dibuat sebelum pandemi melanda. Tak berhenti di situ, buku lainnya menyusul dibuat.
”Saya kemudian berpikir, kalau hanya diri saya yang saya kembangkan, kurang bermanfaat rasanya. Saya mencoba bekerja dengan guru-guru kelas VI di sekolah. Berdiskusi agar siswa juga bisa menghasilkan buku. Akhirnya terbitlah buku ontologi puisi dan pantun karya siswa,” jelasnya.
Upaya untuk menggerakkan literasi di lingkungan sekolah terus dilakukan Guru Zubair. Beberapa pekan kemudian terbit lagi buku Aku dan Karyaku. Juga kolaborasi dengan siswa kelas VI.
”Tulisan tangan anak-anak di kertas dikumpulkan oleh wali kelas VI. Setelah itu saya mengetiknya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri. Kalau ada kata-kata yang tidak layak saya ubah, namun tidak menghilangkan makna dari kalimat yang dibuat oleh mereka. Bukunya diterbitkan di tahun kedua pandemi,” tambahnya.
Zubair merasa tak cukup hanya berkolaborasi dengan siswa untuk menghasilkan buku. Ia berpikir, kenapa guru-guru tidak diajaknya pula. Supaya mindset mereka bisa berubah, bahwa ternyata menulis itu mudah dan sangat menyenangkan.
Apalagi, di masa pandemi banyak kisah-kisah menarik yang dialami para guru dalam proses pembelajaran. Mulai dari yang menyenangkan, duka saat mengajar daring dan cerita lainnya. Akhirnya terbitlah buku berjudul Mutiara Wahdah. Isinya tentang suka duka pengajar di tengah pandemi.
”Ini menjadi bukti bahwa di masa pandemi guru-guru bisa menghasilkan karya tulis dan buku. Awalnya mereka sempat kurang percaya bisa melakukannya. Buku ini bahkan diberi pengantar oleh pengawas sekolah kami Hj Nurhaedah,” jelasnya.
Buku-buku ini juga dihadirkan ketika Guru Zubair mengikuti seleksi dan penilaian Guru Inspiratif. Hal itu dilakukan, karena program kementerian adalah literasi dan numerasi. Buku yang telah ber-ISBN dan resmi terdaftar di Perpustakaan Indonesia itu memiliki nilai yang sangat tinggi saat penilaian dilakukan.
Selain buku, Zubair juga memiliki media pembelajaran hasil inovasinya. Best practise itu bernama Komik Digital. Fokus pada proses pembelajaran dan medianya.
”Selama pandemi banyak keluhan tentang susahnya belajar dari siswa. Seperti terlalu banyak yang mesti diakses untuk satu mata pelajaran. Ada teks, modul, video, dan penilaian yang dibuat secara terpisah. Bagi siswa, ini cukup sulit. Apalagi di tengah pandemi. Kenapa tidak digabung sekaligus. Sudah ada materi, video, assesmen juga,” jelas Zubair.
Ia kemudian merefleksi diri, kira-kira media apa yang cocok bagi untuk anak SD. Karena jika hanya dikasih buku, satu menit mereka sudah bosan. Memberi gambar dan buku, kemungkinan kurang menarik. ”Makanya, saya memilih membuat komik digital,” imbuhnya.
Zubair menekankan, komik digital hasil inovasinya berbeda dengan yang lain. Bahkan belum pernah ia temukan sebelumnya.
Jika komik digital yang selama ini hanya berupa gambar dan teks, oleh Zubair dilengkapi dengan video. Termasuk gambar tiga dimensi. Peserta didik juga bisa langsung mengerjakan soal-soal yang diberikan, serta dinilai secara langsung karena sistemnya sudah ada, setelah sebelumnya memasukkan jawaban yang benar.
”Yang saya buat adalah komik digital yang dilengkapi video pembelajaran mengenal pernapasan manusia. Kenapa ini saya pilih, karena sekarang pandemi. Yang diserang oleh virus adalah organ pernapasan, yakni paru-paru,” tutur Zubair.
Dalam membuat media pembelajaran, Zubair tak lupa menanamkan pendidikan karakter bagi peserta didik. Video yang disajikan bisa menyentuh anak-anak, yaitu animasi. Karena bila formal, anak-anak akan cepat bosan. Ada indikator instrumen yang dimasukkan.
Tidak hanya video, Zubair juga menyematkan gambar tiga dimensi ke dalam media pembelajarannya. Ia menampilkan gambar jantung untuk menghadirkannya secara kontekstual di depan peserta didik. Gambar jantung tersebut bisa digerakkan dan dilihat dari segala arah. Dilengkapi dengan nomor serta penjelasan di dalamnya.
”Gambarnya hanya diklik dan tampilannya berubah. Dengan begitu anak-anak bisa belajar sambil bermain. Sehingga berpikiran kritisnya peserta didik lebih terlatih,” tandas Zubair.
Satu lagi ciri khas media pembelajaran hasil inovasi Zubair. Komik Digital karyanya bersifat hierarki. Di bagian akhir akan ada penilaian otomatis. Setelah menyaksikan semua teks dan gambar, video, serta gambar tiga dimensi, peserta didik lalu diarahkan untuk mengerjakan materi soal melalui Google Form yang langsung terkoneksi. Dengan begitu, guru tidak terlalu banyak membuat media. Juga tidak perlu memeriksa, karena sistem yang melakukannya. (*/rus)

Exit mobile version