Site icon Berita Kota Makassar

Belajar Otodidak, Pinjam Uang Sepupu untuk Beli Alat

PANDEMI covid-19 membuat banyak orang memiliki waktu yang cukup luang untuk berkreasi. Termasuk menekuni hobi dan mengembangkannya. Bahkan ada di antaranya yang mendapatkan ide untuk melakoni sesuatu yang baru. Seperti yang dilakukan Kasman Tubillahi.

KASMAN adalah mahasiswa semester IV Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Jurusan Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin (Unhas). Sejak SMP hingga SMA ia hobi melukis. Tapi baru sebatas lukisan menggunakan pinsil serta cat air.
Memasuki dunia kampus yang bertepatan dengan pandemi melanda negeri ini dalam dua tahun terakhir, Kasman memiliki banyak waktu luang. Ia menghabiskannya dengan hanya bermain gawai.
Karena hobinya melukis, ia pun berselancar di dunia maya untuk mendapatkan ide-ide baru. Ketemulah Kasman dengan video tentang seorang seniman yang melukis menggunakan benang. Dia lalu belajar secara otodidak tentang string art ini.
”Awalnya saya menggunakan program di laptop untuk membuat polanya. Selanjutnya proses editing lalu hasilnya dicetak,” ungkap Kasman ketika menjadi narasumber di studio siniar (podcast) Berita Kota Makassar, Rabu (29/12).
Setelah polanya jadi, kata Kasman, selanjutnya adalah mempersiapkan alat tambahan. Seperti paku, tripleks, kanvas, dan benang. Satu lembar tripleks ukuran 2 meter x 1 meter harganya sebesar Rp250 ribu. Dengan ukuran alat melukis 1 meter x 1 meter, selembar tripleks bisa dijadikan dua potongan.
”Untuk pembuatannya, print dulu pola lingkaran lalu ditempel di tripleks. Setelah itu pasang per sentimeter paku dengan mengikuti pola yang sudah ada. Ada angka-angka yang sebelumnya dibuat dengan menggunakan rumus-rumus algoritma. Kemudian tinggal diikuti saja pola yang sudah terbentuk untuk melilit benangnya,” terang Kasman.
Tentang tebal dan tipis warna hitam di lukisan, menurut Kasman, bergantung pada penumpukan benangnya. Semakin banyak tertumpuk benangnya, akan semakin hitam hasilnya.
Untuk menghasilkan satu karya lukis benang, Kasman mengaku menghabiskan 250 biji paku khusus tripleks. Benang kain warna hitam satu roll, walau terkadang tidak dihabiskan. Agar mendapatkan gambar yang lebih realistis, papan tripleks bisa lebih besar lagi ukurannya.
”Awalnya saya mencoba membuatnya di kampung. Waktu itu dibuat asal-asalan saja. Karena baru belajar, hasilnya mengecewakan. Namun saya terus mencoba hingga akhirnya bisa menemukan cara untuk membuat string art ini. Ternyata perlu rumus dan pola,” tandasnya.

Kenapa memilih lebih fokus pada seni melukis benang dibanding dengan lukisan pinsil dan cat air yang sudah cukup dikuasainya? Kasman punya alasannya.
”Saya merasa seni melukis menggunakan pinsil sudah banyak yang melakukannya. Untuk itu saya berusaha mencoba sesuatu yang baru,” jelasnya.
Ketika mulai mencoba hobi yang baru ini, Kasman punya cerita tersendiri dan tak mungkin terlupakan. Saat hendak membeli alat yang bagi ukuran dirinya tergolong mahal, Kasman meminjam uang ke sepupunya. Gayung pun bersambut. Karena sang sepupu begitu mendukung, karena memang melihat Kasman memiliki bakat dan hobi.
”Waktu pertama kali dengan hasil yang mengecewakan, saya malu-malu sama dia. Tapi dia tidak marah. Malah meminta untuk mencoba lagi,” tuturnya.
Setelah lukisan pertama yang mengecewakan, Kasman sempat vakum beberapa waktu lamanya. Ia kembali belajar melalui Youtube lalu pulang kampung untuk membuat karya baru. Hasilnya, lukisan benang gambar wajah bupati Bulukumba ketika itu mampu dibuatnya.

Pada saat FIB Unhas hendak merayakan dies natalis, Kasman diajak oleh senior untuk mengisi stan yang disedikan. Tentunya dengan menghadirkan seni melukis benang. Kasman disarankan untuk membuat lukisan dekan FIB. Namun, ia mengusulkan agar lukisan rektor saja yang dibuat dan kemudian disetujui.
Biaya untuk membeli alat menjadi salah satu kendala ketika itu. Jadilah Kasman dan rekannya serta senior berkongsi. Akhirnya terkumpul dana sebesar Rp550 ribu.
Pembagian tugas kemudian dilakukan. Kasman mendapat bagian mendesain. Ada yang menyediakan alat dan bahat. Ada pula yang melilit benang. Akhirnya lukisan benang itu selesai, lalu diserahkan langsung kepada Rektor Unhas Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu.
Apakah Kasman pernah cidera ketika mengerjakan karyanya? Karena salah satu bahan yang digunakan, yaitu paku cukup tajam. ”Pernah di awal membuat string art ini, tangan saya terkena palu dan bengkak. Itu katena penggunaan paku yang ukurannya tidak sama,” imbuhnya.
Ke depan, Kasman berharap bisa menghasilkan sebuah karya yang berbeda dengan yang ada sekarang. Seperti lukisan benang berwarna. Dia juga ingin membuat karya yang bisa diapresiasi kalangan atas, seperti gubernur atau bupati dan wali kota. (*/rus)

Exit mobile version