Site icon Berita Kota Makassar

Epidemiolog Sebut PTM Sudah Memungkinkan

MAKASSAR, BKM — Ahli epidemiologi Prof Ridwan Amiruddin mengemukakan, dari parameter epidemiologi, kebijakan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap muka (PTM) sudah memungkinkan. Alasannya, karena semua parameter yang digunakan, menunjukkan jika pandemik covid-19 saat ini sudah terkendali.
Meski demikian, kata Prof Ridwan, masih ada kekhawatiran yang perlu diwaspadai dari faktor eksternal. Yakni munculnya varian baru covid-19, populer dinamakan Omicron yang mesti dihadapi dan disikapi.
“Kita tahu, varian omicron, itu faktor eksternal yang memberikan ancaman yang mesti dihadapi dan disikapi secara bijaksana,” ungkapnya saat dihubungi BKM, Rabu (5/1).
Untuk itu, lanjut guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, masyarakat harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan di semua tatanan. Terkhusus di lingkungan sekolah, di mana proses belajar mengajar secara langsung sudah diberlakukan.
Untuk situasi sekarang, yang harus dilakukan, kata Prof Ridwan adalah memastikan tidak terbentuk klaster sekolah. Protokol kesehatan dilaksanakan secara seksama, penguatan 3T, tracing mesti tetap dijalankan. Selain itu, peningkatan cakupan vaksin ke seluruh warga hingga dosis dua harus segera diupayakan minimnal 70 persen.
Menanggapi kebijakan diperbolehkannya kembali kegiatan belajar tatap muka di sekolah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar dan Dewan Pendidikan Kota Makassar mendorong pemerintah untuk terlebih dahulu memassifkan vaksinasi bagi siswa sekolah.
Ketua Komisi D DPRD Makassar Abdul Wahab Tahir mengaku tidak mempermasalahkan jika pemerintah ingin menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM). Namun yang perlu dipikirkan adalah angka kasus covid-19 yang bisa mengalami peningkatan.

“Perlu dipikirkan ini vaksinasi ke siswa dulu. Karena tidak ada jaminan bahwa sekolah menerapkan sekolah luring siswa tidak akan terpapar. Jika iu terjadi, yang akan diprotes adalah pemerintah. Makanya, saya katakan dikaji dulu,” ujarnya, Rabu (5/1).
Menurut legislator Fraksi Golkar Makassar ini, pembelajaran daring sudah lama dilakukan. Saat ini dominan pelajar dan orang tua menginginkan sekolah tatap muka. Namun atas nama keselamatan, lebih baik diantisipasi.
“Saya sudah sampaikan ke Pak Wali dan Disdik apakah sudah siap dan Makassar ini mampu menjamin siswa tidak bakal tertular kalau sekolah kembali dibuka. Saya mau melakukan kajian bersama antara IDI, Satgas Covid-19 untuk tahu sudah pantas dibuka pembelajaran di sekolah secara penuh tanpa daring,” jelasnya.
Ketua DPRD Makassar yang juga Ketua Dewan Pendidikan Rudianto Lallo, menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka memang sudah perlu dilakukan. Apalagi sudah ada permintaan orang tua yang mendesak sekolah luring.

“Kita tahu ini kegelisahan semua pihak. Tapi kan belum seluruhnya siswa telah divaksin. Kita tuntaskan ini dulu. Orang tua dan siswa sabar dulu sampai betul-betul pandemi ini bisa kita lewati,” terangnya.
Ia mengaku sudah mengerti ada beberapa sekolah yang mau menerapkan sekolah tatap muka. Namun perlu diketahui ada beberapa aturan atau SOP jika sekolah ingin melakukan hal tersebut.
“Sekarang kan baru beberapa persen siswa kita yang sudah divaksin. Seharusnya ini dulu dimaksimalkan. Termasuk layak tidaknya penerapan protokol kesehatan untuk siswa. Kalau itu sudah dipenuhi, tidak salah menggelar sekolah tatap muka,” tandasnya. (rhm-ita)

Exit mobile version